16 April,
Hembusan angin malam nan dingin menerpa wajah putih pucat sesosok gadis berambut panjang, berkemeja putih, bercelana jins yang sedang berjalan sambil menyeret sebuah kopor hijau lumut kesayangannya. Dia berjalan pelan keluar dari pintu kedatangan bandara yang terletak di sebuah kota kecil di ujung pulau Sulawesi. Gadis tersebut tampak bingung melihat ke kanan dan ke kiri mencari sosok orang yang dikenalnya. Sosok orang yang telah menemaninya selama beberapa jam penerbangan dari pulau Kalimantan ke pulau Sulawesi itu.
"Ara.. Ara.. di sini Ra.."
Gadis itu langsung menghentikan langkahnya, menoleh ke kiri dan ke kanan merasa mendengar ada suara seorang wanita yang memanggil namanya.
"Ara…." orang tersebut memanggil lagi.. Suaranya kali ini terdengar lebih nyaring dan berasal dari arah belakang. Gadis itu pun langsung menoleh dan kali ini dia tersenyum.
"Aduh Ara kamu ke mana aja sih? Capek tahu tante nyariin kamu ke mana-mana. Masa cuma ditinggal sebentar ke toilet saja sudah hilang?" Cecar wanita yang ternyata adalah Zahara tantenya sendiri yang sedari tadi dicari-carinya. "Yuk kita langsung cari taxi biar bisa cepat sampai dirumah. Kasian Calvin dan Cintya, mereka sudah kelelahan." Calvin dan Cintya adalah putra dan putri Zahara yang masih berumur lima dan tiga tahun. Ara pun mengangguk sambil tersenyum dan segera memanggil taxi.
"Maura" nama gadis itu. Tetapi keluarga dan teman-temannya sering memanggilnya dengan panggilan "Ara". Dia adalah anak ke dua dari dua bersaudara. Ara lulus sekolah saat berusia tujuh belas tahun, kemudian ia melanjutkan kuliah di Universitas Padjajaran di kota "Kembang" Bandung untuk meraih gelar S1 dan S2 di bidang Psikologi selama tujuh tahun. Banyak orang menyarankan agar Ara menjadi seorang model. Dengan tinggi badan sekitar seratus tujuh puluh enam centimeter dan berat badan enam puluh tiga kilogram dan tampang yang lumayan imut-imut mirip artis Deswita Maharani (kata orang sih), memang masuk akal bila banyak yang berpikir demikian. Tapi tidak bagi Ara, dia kurang suka menjadi seorang model, dia lebih suka menjadi warga biasa yang mempunyai banyak waktu senggang serta privacy-nya pun lebih terjaga, daripada menjadi seorang model ataupun public figure.
"Ara ayo masuk, jangan malu-malu, anggap aja rumah sendiri." Kata Zahara begitu taxi yang mereka tumpangi sampai di depan pintu rumah Zahara. Zahara adalah istri adik ibunya Ara. Mereka datang ke kota tersebut untuk menghadiri pesta pernikahan adik laki-laki Zahara. Baru kali ini Ara datang berkunjung ke rumah keluarga Zahara. Zahara sekeluarga adalah orang-orang yang ramah, mereka menyambut Ara dengan penuh sopan-santun dan senyum yang tak pernah lepas dari bibir mereka. "Ara, di situ ada kamar, kamu bisa meletakkan barang-barangmu dan beristirahat di situ. Oia, kalau kamu lapar silahkan makan. Semua telah tersedia di meja." Kata ibunya Zahara. "Baik Bu, terima kasih." Sahut Ara, ia lalu masuk ke kamar yang di maksud ibunya Zahara dan segera mencuci mukanya. Setelah selesai, dia pun berganti pakaian dengan yang lebih santai. Kaus T-Shirt hitam pas di badan dan celana coklat muda selutut.
Ketika sedang asik memakai handbody sambil menikmati semilir AC kamar, tiba-tiba Zahara masuk sambil membawa Calvin dan Cintya yang sudah tertidur pulas di kedua bahunya. Di dalam kamar tersebut telah tersedia sebuah ranjang besar, muat untuk menampung mereka berempat. Setelah menyelimuti kedua buah hatinya, Zahara melirik ke arah jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 22.30 wita.
"Ra, makan yuk lapar nih. Menunya enak loh, masakan khas Sulawesi. Kamu pasti jarang bisa makan yang seperti ini. Apalagi kamu kemarin lama kuliah di Bandung."
"Boleh juga tuh Te. Kebetulan perut Ara dari tadi emang udah kriuk-kriuk. Cacing-cacingnya berontak minta di kasih makan.. Hehehehe.."
"Dasar… cantik-cantik cacingan, pantesan kamu sampe sekarang masih jomblo melulu.."
"Biarin jomblo, yang penting happy.. Hehehehe.. "
"Udah ah capek ngomong sama orang stress seperti kamu. Ayo makan.." Akhirnya mereka berdua pun pergi ke meja makan dan dalam waktu sekejap mereka telah hanyut menikmati makanan khas pulau Sulawesi yang memang terkenal enak-enak itu. Selesai makan dan membersihkan kembali meja makan serta piring-piring, mereka berdua lantas membantu orang rumah menyiapkan persiapan buat acara "Hantaran1" esok hari. Setelah selesai membantu segala persiapan buat acara esok hari, mereka berdua pun akhirnya kelelahan dan tertidur pulas di kamar mereka.
¤
17 April,
Subuh hari Ara terbangun. Setelah sikat gigi, cuci muka dan shalat Subuh, Ara beranjak keluar kamar. Dia melihat ke sekeliling, orang-orang pada tertidur pulas kelelahan. Hanya beberapa saja yang terlihat masih terjaga, itupun mereka para remaja laki-laki yang memang hobi bergadang ataupun mereka yang tengah melaksanakan ibadah shalat Subuh. Ara terus melangkahkan kakinya ke arah teras rumah. Ia duduk selonjoran di atas kursi yang telah disediakan di situ, menatap keindahan bintang-bintang di langit sambil terus memuji kebesaran-NYA yang telah menciptakan bumi beserta isinya ini. Ketika lagi asyik-asyiknya membayangkan keindahan alam, tiba-tiba ada seorang pria yang menepuk pundak kirinya sambil ikutan duduk di sebelahnya.
"Hai, kamu Ara ponakannya tante Zahara kan?" Tanya pria tersebut.
"Iya, aku Ara, kamu sendiri siapa?"
"Aku Ikhsan, ponakan Zahara juga. Zahara adalah adik ibuku. Rencananya Ara di sini berapa lama?"
"Belum tahu nih. Selain hadirin pesta nikahan kakakmu, aku juga mau sekalian liburan di sini. Mau istirahat bentar, lepas dari pusingnya kerjaan kantor." Ikhsan mengangguk tanda mengerti. Sejurus kemudian Ara dan Ikhsan terlibat dalam perbincangan yang seru. Ikhsan adalah pemuda yang mempunyai wawasan cukup luas, sama dengan Ara. Mereka membahas tentang topik apa saja, mulai dari artis, film, musik, olahraga, bahkan politik.
Tak terasa matahari mulai menyilaukan mata, Ara dan Ikhsan masih asik berbincang di teras depan rumah. Zahara datang menghampiri mereka dan mengingatkan kalau mereka berdua harus segera pergi mandi dan bersiap-siap apabila ingin ikut menghadiri acara "Hantaran" yang mungkin akan segera dilaksanakan. Rencananya setelah prosesi "Hantaran" selesai, acara akan langsung dilanjutkan dengan akad nikah. Belum sempat mereka membubarkan diri, tiba-tiba datang Calvin dan ibunya Zahara dengan membawa beberapa bungkus nasi kuning buat sarapan. Tak lama Cintya juga muncul beberapa saat kemudian, mereka lalu sarapan bersama-sama di teras. "Setelah ini semuanya mandi ya...!" Zahara mengingatkan. "Okey, jangan khawatir.." Kata mereka serempak.
Suasana rumah sangat ramai, orang-orang sibuk kesana kemari guna menyiapkan segala keperluan "Hantaran" yang akan dibawa. Mereka juga sibuk merias diri agar terlihat rapi dan cantik di acara tersebut. Tak terkecuali pula dengan Ara, meskipun tidak sesibuk yang lain, Ara merias mukanya dengan dandanan natural. Dia mengenakan baju dalaman kaus tangan panjang hitam yang dilapisinya dengan baju manik-manik pink cantik tanpa lengan, dan celana jins hitam. Selang beberapa saat kemudian semuanya telah siap, mereka lalu berangkat kerumah pihak pengantin perempuan dengan menggunakan lima mobil dan beberapa motor. Ara, Zahara, Calvin dan Cintya berada di dalam satu mobil yang sama.
Setelah menyantap makan siang yang disiapkan oleh pihak tuan rumah, mereka serombongan pulang. Begitu sampai di rumah mereka semua langsung tekapar, kelelahan. Ada yang tertidur di kamar, tetapi ada pula yang tertidur di ruang tamu yang hanya beralaskan ambal. Ara selain kelelahan juga kepanasan. Setelah ganti baju dengan T-shirt putih lengan pendek dan celana jins pendek, Ara duduk-duduk santai di teras sambil ngobrol-ngobrol dengan para sepupunya Ikhsan yang masih kecil-kecil. Calvin dan Cintya adalah yang paling kecil di antara para sepupunya. Begitu Ikhsan menawari es kelapa kepada Ara, tanpa pikir-pikir panjang lagi Ara langsung meng-iya-kan tawaran Ikhsan itu, rejeki tak boleh ditolak pikir Ara. Ikhsan lantas beranjak berdiri dan pergi membeli es kelapa.
Lima menit kemudian Ikhsan datang dengan membawa empat bungkus es kelapa, yang dua di bawanya masuk ke dalam rumah, yang satu dikasihkannya ke Ara, dan yang satu lagi diminumnya sambil duduk selonjoran disamping Ara. "Enak banget es-nya San, segar, terima kasih ya." Ujar Ara.
"Yup, sama-sama." Jawab Ikhsan. "Ntar malam ikutan ke tempat resepsi kakakku tidak Ra?" tanya Ikhsan kemudian.
"Ikut dong, mana enak di rumah sendirian, di negeri yang gak ku kenal pula." Ujar Ara sambil tertawa renyah, Ikhsan pun ikut tertawa.
Tak lama kemudian ada pamannya Ikhsan yang bernama Mali datang sambil membawa durian tiga buah. Mali meletakkan duriannya di meja depan Ara. Setelah itu Mali masuk ke dalam rumah untuk mengambil pisau, dan tak lama ia pun keluar lagi dengan disusul dengan Zahara dan beberapa orang kakak dan adik Zahara. Durian di belah dan mereka makan bersama-sama sambil bercanda dan bersenda gurau. Ara yang memang sedari kecil hobi sekali sama yang namanya durian ngerasa kalo hari itu adalah hari yang penuh rejeki bagi dirinya. Ara bersyukur di dalam hati. Alhamdulillah.
Sore harinya, Ara mulai menyiapkan pakaian yang akan dia kenakan nanti malam. Rencananya mereka akan berangkat menghadiri pesta resepsi setelah Maghrib. Tepat lima menit setelah Maghrib, tiba-tiba listrik padam. Orang-orang termasuk Ara menjadi agak panik. Maklumlah, mereka kan lagi pada sibuk mempersiapkan diri untuk menghadiri resepsi pernikahan. Tapi untungnya saja tidak lama kemudian listriknya nyala kembali. Mereka kini bisa bernapas dengan lega dan melanjutkan persiapannya.
Ara malam ini tampil sederhana namun tetap membuatnya terlihat lebih segar. Kali ini Ara mengenakan busana yang sedikit formal namun tetap dengan gaya anak muda, yakni kebaya modern warna merah marun dipadukannya dengan celana panjang warna hitam. Rambut panjangnya di gulung dan dijepitnya ke atas. Aksesoris berupa kalung dan anting sederhana, serta tas tangan mungil warna hitam menghiasi tubuhnya.
Pesta resepsi tersebut cukup meriah. Tamu-tamu yang hadir cukup banyak. Aneka makanan dan minuman tersedia di meja makan. Calvin dan Cintya juga ikut hadir pada acara malam itu. Calvin mengenakan Tuxedo kecil seukuran dirinya. Calvin terlihat begitu lucu dan tampan. Sedangkan Cintya, dia di dandanin oleh ibunya bak seorang Cinderella. Dengan gaun berwarna pink lengkap dengan hiasan mahkota mungil di kepalanya, Cintya terlihat cukup menggemaskan. Pada acara itu Ara duduk terpisah dengan Zahara. Ara bersama Calvin sedangkan Zahara bersama Cintya. Ketika tiba saatnya mereka berfoto bersama kedua mempelai, tiba-tiba Ikhsan datang menghampiri Ara dan mengajaknya untuk ikut foto bersama. Ara berjalan menuju panggung mengikuti Ikhsan dari belakang. Ia bertemu dengan Zahara yang telah terlebih dulu tiba di dekat kedua mempelai. Ara mengambil posisi tepat disebelah Zahara. Tak lama juru foto memberi mereka aba-aba agar tersenyum, dan..... klik.
Malam telah cukup larut ketika mereka semua kembali tiba dirumah. Setelah istirahat sejenak, mengganti pakaian dengan yang sedikit santai, kini mereka serombongan akan mengadakan perjalanan ke sebuah desa yang letaknya tidak terlalu jauh dari kota itu. Di desa itu rencananya akan dilaksanakan pesta resepsi kedua pada keesokan harinya. Kali ini yang mengadakan acara adalah pihak keluarga pengantin pria. Ara yang semula tidak mengetahui rencana tersebut cukup kaget dengan jadwal keberangkatan mereka yang tergolong mendadak. Untung aja ia sempat berganti pakaian dengan (seperti biasa) T-shirt pink pas badan serta celana jins pendek. Karena kelelahan, di dalam perjalanan Ara tertidur. Akan tetapi, belum sempat ia betul-betul tertidur lelap, mereka serombongan telah sampai di rumah orangtua Zahara di desa. Ternyata perjalanan yang mereka tempuh hanya memakan waktu kurang dari satu jam. Rumah orangtua Zahara cukup luas. Halaman depan, samping kiri, kanan, dan belakang juga cukup luas. Belakang rumah orangtua Zahara ada gunung yang banyak ditumbuhi pohon kelapa. Rumah Zahara dipinggir jalan kecil, akan tetapi jalan kecil tersebut cukup dekat dari jalan besar.
Setelah selesai menurunkan barang-barang dan meletakkannya di dalam rumah, Ara dan yang lain langsung beristirahat agar bisa tampil lebih fresh lagi pada acara keesokan hari. Namun, belum juga mata Ara benar-benar terpejam tiba-tiba terdengar nada sms masuk dari ponsel mungil pink kesayangannya. Ternyata sebuah SMS dari Yudi, teman dekat Ara.
"Assalamu'alaikum. Apa kabar Ra, lagi ngapain nih?"
"Wa'alaikumsalam. Kabar baik nih Yud. Capek banget habis acara seharian langsung perjalanan keluar kota. Ini aja kita-kita baru nyampe. Bdw, tumben nih sms malam-malam? begadang lagi?"
"Aku nggak begadang malam ni Ra, tapi aku baru habis nyiptain lagu yang khusus ku ciptain untuk kamu. Inspirasinya kamu Ra. Oia, kapan nih pulang?"
"Hahaha.. aku jadi inspirasi??? Gak salah nih? Hehehe... Aku pulang kalo kamu kangen sama aku ^_^"
"Kalo gitu kamu pulangnya malam ini Ra, coz malam ini aku sudah kangen banget sama kamu Ra."
"Gombal kamu Yud.... Bdw, laguku kamu iringi pake gitar ya? Nyanyiin dong sekarang.. kamu telpon aku ya, aku pengen dengar..."
"Aduh Ra, udah malam, masa aku ribut-ribut jam segini? Nanti aku digebukin sama tetanggaku... Hehehe..."
"Yud, kok bisa kamu tiba-tiba bikinin lagu buat aku?"
"Aku kangen kamu Ra, meski sudah setengah tahun kamu gantung cintaku seperti ini. Aku tahu kamu masih trauma sama masa lalumu, sama si cowok bejat yang udah ninggalin kamu itu. Tapi aku mohon, berilah aku kesempatan untuk bahagiakan kamu Ra..."
"Aku belum siap pacaran Yud, dan aku juga belum siap kehilangan seseorang sebaik dan setulus kamu Yud.. Please, kasih aku waktu."
"Oke.. Akan ku coba tunggu kamu Ra.. Met bobo ya Ara.. Bye.."
Ara tidak membalas SMS terakhir Yudi, dia hanya menjawab salam terakhir Yudi tersebut dalam hati dan kembali meneruskan tidurnya yang sempat terputus tadi.
¤
18 April,
"Ra.. Ara.. Ara.. bangun.. sudah Subuh, shalat.." Suara Zahara serta gerakannya mengguncang-mengguncang tubuh Ara membuat Ara terbangun dengan kaget. Zahara hanya senyum-senyum mendengar ponakannya itu ngomel-ngomel..
"Kirain ada gempa bumi." Sungut Ara.
"Makanya tidur jangan kemalaman, jadi susah bangun Subuh.. Ayo, cuci muka sana, habis itu shalat Subuh. Ntar kalo sudah selesai trus masih ngantuk, ya udah, tidur aja lagi, yang penting kewajibannya sudah dilaksanakan.. oke?" ujar Zahara..
"Oke boss..." Sahut Ara sambil berlalu ke kamar mandi buat cuci muka lalu wudhu. Setelah selesai shalat, Ara yang masih mengantuk kembali melanjutkan tidurnya... Ara benar-benar kelelahan.
Pagi itu Ara terbangun dari tidurnya karena mendengar suara Calvin dan Cintya yang tengah bermain disampingnya. Kedua anak itu tengah bermain lempar-lemparan bantal, dan salah satu bantalnya mendarat mulus di wajah Ara. Sontak Ara terkejut. Segera diraihnya tubuh kecil Cintya, digelitikinya bocah perempuan itu hingga tertawa-tawa sampai keluar air matanya. Ara dan Calvin juga tertawa.
"Hei, apakah kalian sudah pada mandi?" tanya Ara pada mereka. "Sudah, tadi pagi, dimandikan sama mama." Jawab Calvin, Cintya hanya mengangguk tanda membenarkan ucapan Calvin. "Sudah sarapan juga?" Tanya Ara lagi.
"Belum." kali ini si kecil Cintya yang menyahut. "ya udah, kalau gitu kak Ara mandi dulu ya, habis itu kita sarapan sama-sama. oke?" kata Ara. "Oke." sahut mereka kompak.
Pagi itu Ara mengenakan kaus lengan pendek warna merah marun dan celana panjang kain yang banyak kantongnya warna hitam. Lagi asik-asiknya menikmati sarapan, dering nada SMS di ponsel Ara terdengar. Segera Ara baca isi SMS tersebut, ternyata dari Rani, saudara Ara yang juga tinggal di desa itu. Ara dan Rani umurnya beda setahun.
"Pagi Bu, lagi apa? Sudah sarapan belum? Kapan nih jalan-jalan ke rumahku?" isi SMS Rani.
"Pagi juga Jenk, lagi sarapan nih.. Aduh Jenk, gimana aku mau ke rumahmu, lah jalan-jalan disini aja aku nggak tahu. Entar aku kesasar trus di culik orang gimana?" Balas Ara.
"Aduh Bu, kamu tinggal jalan keluar gang kamu, ketemu jalan besar, ke arah kanan, lurus, tidak lama pasti ketemu rumah aku"
"Tetap aja aku gak ngerti. Kamu jemputin aja aku Ran."
"Oke, jam berapa? Sekarang?"
"Jangan, sekitar lima belas menit aja lagi, aku belum selesai sarapan ini.."
"Oke, lima belas menit lagi aku jemput. Harus sudah siap."
"Okey."
Zahara sedang sibuk memasak di dapur ketika Ara pamitan mau keluar bareng Rani.
"Tante Za, Ara keluar bentar ya, ke rumah Rani."
"Sama siapa?"
"Sama Rani, nanti dia ke sini jemput Ara."
"Ya sudah, hati-hati ya.. Tapi kalau bisa sore udah pulang ya, soalnya kan nanti malam kita mau ada acara lagi."
"Oke deh Tante."
Tak lama kemudian Rani muncul. Setelah Ara dan Rani mengucap pamit ke Zahara, mereka berdua lalu bergegas pergi ke rumah Rani yang ternyata memang tak jauh dari rumah Zahara. Rumah Rani terletak di atas gunung. Untuk mencapai rumah Rani cukup menguras tenaga Ara. Saat menginjakkan kaki di rumah Rani, keringat telah banyak keluar dari tubuh Ara. "Aduh Ran, sebulan aja aku tinggal di rumahmu ini, pasti berat badanku langsung turun drastis." Ucap Ara sambil mengusap peluh di keningnya. Sedangkan Rani, orang yang Ara ajak bicara, santai-santai saja. Tak satu pun peluh keluar dari tubuhnya. Rani orangnya memang sangat kurus, makan nasi dua bakul pun tubuhnya tidak bakal melar.
Di rumah Rani, Ara bertemu dengan ibu dan kakak perempuan Rani. Ibunya Rani adalah adik dari ibu ibunya Ara, neneknya Ara. Kakak perempuan Rani bernama Sandra. Beliau mempunyai dua orang putri yang bernama Vanya dan Kayla. Mereka mengobrol panjang lebar. Tak lama kemudian datang pula dua orang gadis, Fitria dan Nania. Kedua gadis tomboi itu adalah sahabat karibnya Rani. Ara diperkenalkan kepada mereka berdua. Ketika lagi asyik-asyiknya berbincang dengan Rani dan kedua teman barunya, Ara terperanjat manakala menyadari bahwa saat itu sudah pukul setengah dua siang. Pantesan kerongkongan terasa kering banget, ternyata sudah siang, kata Ara dalam hati. "Ran, minta minum dong, haus nih." pinta Ara. "Kita berdua juga ya Ran.." Lanjut Fitria, yang sedari tadi kehausan.
Setelah melegakan kerongkongan, mereka lalu melanjutkan perbincangan. Kali ini mereka mengambil posisi duduk selonjoran di lantai dapur. Dengan posisi rumah yang tinggi di atas gunung dan pintu yang berada di dapur di buka, hembusan angin yang masuk ke dalam rumah cukup membuat hawa di ruangan tersebut terasa nyaman. Ara yang semula mengambil posisi duduk tepat di depan pintu tiba-tiba merasakan perih di pergelangan tangan kirinya. Setelah diteliti, ternyata dengan posisi duduknya yang seperti itu, duduk bersila di depan pintu, sama saja seperti sedang menantang matahari. Tangannya yang terbuka langsung terkena sinar matahari. Sinarnya sangat menyengat di kulit. Pergelangan tangan Ara yang semula putih bersih menjadi tampak kemerah-merahan dan terasa sangat perih bila disentuh. Oleh Ara, tangannya itu dioleskannya handbody. Nanti juga pasti sembuh sendiri, pikir Ara.
Menjelang sore Ara bergegas pulang ke rumah Zahara. Dia sengaja melangkahkan kakinya agak cepat karena ia ingin segera sampai di rumah. Ia ingin menghindari sengatan sinar matahari sore itu yang ternyata masih terasa panas di kulit, meskipun sudah tidak sepanas tadi siang. Sesampainya di rumah Zahara, Ara langsung mandi. Panasnya matahari membuatnya ingin cepat-cepat menyegarkan tubuhnya lagi. Begitu tubuh indah Ara tersiram dengan guyuran air pertamanya, kesegaran yang dia inginkan pun akhirnya bisa dia rasakan. Inilah yang dinamakan dengan kenikmatan dunia. Pikirnya sambil tersenyum. Setelah selesai mandi, Ara menghampiri Zahara yang sedang asik fitting baju dengan para saudara perempuannya buat acara nanti malam.
"Te, nanti malam Ara pakai baju apa ya? Ara gak bawa banyak baju formal nih." Kata Ara pelan kepada Zahara.
"Pakai baju yang biasa kamu pakai buat jalan aja Ra. Kamu pasti bawa baju jalan cukup banyak kan? Nah kamu pilih aja yang menurut kamu pantas untuk dipakai nanti malam. Oke?" Kata Zahara bijak.
"Thanks for your solving, my sweety aunty." Ucap Ara sambil mencium pipi kiri Zahara lalu kembali ke kamarnya dan memilih-milih baju yang akan dikenakannya nanti malam.
Sehabis shalat Maghrib, Ara mulai merias dirinya. Ia berdandan seperti biasa, lebih ke arah natural, tidak berlebihan dan mencolok. Menurutnya kesan natural cocok dengan usianya yang dalam beberapa hari ini akan menginjak usia 25 tahun. Malam ini Ara mengenakan celana legging hitam selutut. Untuk atasannya Ara mengenakan baju dari bahan kain yang dingin dengan warna yang lembut. Pada bagian dada berbentuk U dan ada pita dibagian depannya, sehingga membuat dada Ara menjadi sedikit terbuka. Baju tersebut hanya mempunyai sedikit lengan. Kulit putih mulus Ara terlihat jelas, sehingga membuat Ara malam itu terlihat sedikit sexy.
Acara malam itu cukup meriah. Malah menurut Ara acara malam itu jauh lebih meriah daripada malam sebelumnya. Tamu-tamu yang datang lebih banyak dan hidangan yang disajikan pun lebih beragam. Lagu-lagu yang disuguhkan oleh Electone menambah semarak pesta. Beberapa kali Ara diajak menyanyi di atas pentas namun ditolaknya. Dia merasa suaranya kurang bagus, meski sebenarnya tidak begitu. Ara mempunyai suara yang cukup merdu. Di kotanya, Ara sering pergi karaokean bareng sama teman-temannya. Menyanyi adalah salah satu hobi Ara, namun dia sering merasa kurang percaya diri.
"Ayo Ra, coba nyanyi bentar." Ajak Ikhsan.
"Aku gak bisa nyanyi." Ujar Ara.
"Bohong, kemarin aku ada dengar kamu nyanyi pas di rumahku."
"Iya, itukan nyanyi cuma buat diri sendiri, tapi kalo sekarang? Gila aja lu.."
"Kalo ku temanin mau tidak? Lagipula tamu-tamu udah banyak yang pulang kok. Ayolah, mau dong. Please. Nanti ku bantuin." Mohon Ikhsan.
"Oke deh, tapi satu lagu aja ya.."
"Okey."
Mereka berdua akhirnya menyumbangkan sebuah lagu yang pernah dipopulerkan oleh J-Lo dan Marc Anthony yang berjudul "No Me Ames". Selesai membawakan lagu tersebut, tanpa disangka-sangka para tamu yang ada memberikan tepuk tangan yang cukup meriah kepada Ara dan Ikhsan. Pipi Ara bersemu merah menahan malu. Tiba-tiba Ikhsan membisikkan sebuah kata ke kuping Ara dengan halus. "Menurut aku suara kamu sangat merdu Ra, aku suka mendengarnya." Tanpa Ikhsan sadari, pipi Ara bersemu makin merah. Tanda bahwa ia sangat malu malam itu.
Acara selesai pada hampir tengah malam. Setelah membantu orang rumah beres-beres peralatan, Ara langsung mencuci muka dan berganti dengan baju tidur "Babydoll". Dia berencana mau langsung tidur. Saat tengah siap-siap merebahkan diri disamping Calvin dan Cintya yang sedari tadi telah terlelap, Zahara masuk ke kamar. Dia menanyakan apakah Ara sudah makan malam atau belum, karena seingatnya Ara belum ada menyentuh makanan sedikitpun malam itu. "Belum Te. Ara nggak lapar. Ara ngantuk banget." Ucap Ara. "Makan dulu gih, baru tidur lagi, nanti penyakit magh kamu kambuh loh." kata Zahara mengingatkan. "Iya deh." Jawab Ara. Ia berpikir memang ada baiknya ucapan Zahara tersebut. Ara langsung berjalan ke dapur dan mengambil sedikit makanan yang ada disitu. Rasa kantuk Ara mengalahkan segala-galanya. Dia mau makan hanya karena khawatir kalau-kalau magh-nya kumat. Setelah makan, Ara langsung masuk kamar lagi dan tertidur lelap.
¤
19 April,
Pagi hari saat Ara terbangun, masih ada Zahara, Calvin, dan Cintya terlelap di sebelahnya. Mereka terlihat sangat kelelahan. Ara bergegas mandi. Setelah itu dia berpakaian seperti biasa. Tak lama kemudian Zahara terbangun. Ara memberitahu Zahara bahwa dirinya ingin jalan-jalan keluar sebentar sambil mencari sarapan. Ara juga menanyakan apakah Zahara mau menitip sarapan padanya. Tetapi Zahara menolak, dia belum lapar katanya. Zahara hanya menitip buat Calvin dan Cintya saja, Ara mengangguk.
Sesampainya di luar Ara bertemu Ibunya Zahara yang sedang duduk-duduk santai di teras rumahnya. "Mau ke mana Nak?" Tanya ibunya Zahara. "Keluar sebentar Bu, mau jalan-jalan sebentar sambil cari sarapan. Mumpung masih pagi, belum panas." Sahut Ara sambil tersenyum. "Hati-hati ya di jalan." ujar ibu Zahara. Ara mengangguk dan segera berlalu dari pandangan ibu Zahara. "Orangtua yang ramah." Pikir Ara dalam hati sambil terus melangkah ke arah jalan besar. Ara berjalan pelan-pelan di pinggir jalan besar tersebut. Matanya menatap pemandangan di kiri-kanan jalan. Ia merasa takjub setelah menyadari bahwa di sisi kiri jalan, rumah-rumah penduduk terletak di bawah sebuah gunung tinggi yang dipenuhi dengan banyak pohon kelapa. Sedangkan sisi kanan jalan, hamparan laut luas terbentang indah. Airnya sangat jernih. Sungguh mempesona, membuat Ara merasa ingin sekali berenang menikmati jernihnya air laut tersebut.
Ara masih berjalan-jalan sendirian sambil menikmati pemandangan alam, ketika ia melihat sebuah warung penjual makanan. Segera dihampirinya warung tersebut, dan menanyakan pada penjualnya makanan apakah yang sedang dijualnya. Si ibu penjual makanan menjawab bahwa ia menjual nasi kuning berlauk ikan. Menu tersebut dijual dengan harga yang sangat murah. Ara membeli lima bungkus nasi kuning. Sambil menunggu makanan tersebut disiapkan, Ara melihat Fitria dan Rani di kejauhan berjalan ke arah dirinya.
"Lagi ngapain kalian?" Tanya Ara setelah mereka berdua sampai di samping Ara.
"Mau beli sarapan buat Kayla dan Vanya" Jawab Rani.
"Kamu Fit?" Tanya Ara pada Fitria.
"Hanya nemanin Rani." Ujarnya.
"Ya sudah, Ran kamu beli buat ponakanmu, juga buat kamu sekalian. Begitu juga kamu Fit, ambilah sesukamu. Biar semua aku yang bayar. Aku traktir." Ucap Ara.
"Bener nih Ra?" Tanya mereka berdua hampir bersamaan. Ara mengangguk dan tertawa renyah melihat tingkah mereka berdua yang kegirangan seperti anak kecil.
"Ra, nanti siang mau ikutan ke kota tidak? Joka-joka2." Tawar Rani.
"Ke kota? Ngapain? Siangnya jam berapa?" Tanya Ara.
"Ke mall, sekitar jam dua-an. Bentar lagi ada temanku ulang-tahun, aku mau beli baju buat pergi ke pesta itu." Ujar Rani menerangkan.
"Lama gak? Kalo gak lama aku ikutan." Ujar Ara. Dirinya memang ingin ikutan. Sekedar jalan-jalan gak ada salahnya, apalagi ke mall, tempat refreshing yang cukup menyenangkan.
"Tidak lama kok, palingan sore hari kita sudah di rumah lagi, gimana? Mau kan?" Ujar Rani. Rani ingin sekali mengajak Ara ke mall. Dia ingin Ara yang memilihkan baju yang akan dikenakannya ke pesta ulang-tahun temannya besok malam. Tetapi Rani malu untuk menceritakan yang sesungguhnya kepada Ara.
"Oke. Aku ikutan. Kita ketemu di jalan besar depan gang rumah tante Zahara jam dua ya. Jangan telat. Soalnya gak enak nunggu lama siang-siang, panas! Oke?" Kata Ara lugas dan tegas. Ara memang kurang senang dengan kebiasaan banyak orang yang menganut paham "Jam Karet". Baginya waktu adalah segalanya. "Time is Money". Sesampai di rumah Zahara, sarapan yang tadi dibeli Ara langsung diberikannya kepada Calvin, Cintya, dan Ikhsan. Zahara juga dapat karena tadi pada saat menunggu sarapan dibikin oleh si penjual, Ara sudah menelpon Zahara dan menyuruhnya untuk tidak sarapan duluan dan menunggu Ara pulang buat sarapan sama-sama.
Tepat jam dua siang, Ara sudah nongkrong di bawah pohon besar yang terletak tepat di pinggir jalan gang rumah Zahara. Tempat yang sudah mereka tetapkan tadi siang. Ara mengenakan rok pendek jins warna coklat tua yang sudah agak pudar warnanya, dipadukan dengan atasan hitam tanpa lengan. Dilengkapi dengan sandal berhak tinggi, tas segi empat agak besar warna coklat, dan kalung panjang kotak-kotak kecil pink-hitam. Tak lama kemudian Fitria, Rani, dan Nirina muncul. Lima menit kemudian taxi yang sebelumnya sudah dipesan oleh Rani datang. Nirina duduk di depan samping sopir, sedangkan Ara, Rani, dan Fitria duduk di kursi belakang.
Satu jam setengah kemudian mereka berempat telah sampai pada mall yang di tuju. Setelah keliling-keliling sebentar, lihat sana sini, akhirnya dapat juga baju yang diinginkan oleh Rani. Celana stocking abu-abu, baju kaos agak panjang pas badan warna merah tanpa lengan serta sebuah ikat pinggang besar warna hitam. Semua pakaian tersebut sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Rani. Tidak terlalu feminim namun juga tidak terlalu casual. Yang biasa-biasa saja. Dugaan Rani tentang Ara tidak meleset, pilihan Ara memang bagus. Tidak salah memang kalau Ara selalu terlihat modis. Selera berpakaiannya memang bagus. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, para gadis-gadis itu pun langsung pulang. Jam lima kurang lima belas menit mereka berempat telah tiba di rumah Rani. Setelah duduk-duduk sebentar Ara lantas pamit pulang ke rumah Zahara. Ara berjanji, insya Allah nanti malam sehabis shalat Isya dia akan datang ke rumah Rani kembali.
Malam harinya, Ara berpamitan kepada Zahara. Ara ingin ke rumah Rani dan nginap di rumah Rani malam itu. Ara tidak membawa pakaian apa-apa, dia hanya membawa sebuah tas selempang berukuran sedang miliknya yang diisikannya dengan perlengkapan shalat, sikat gigi, handuk kecil, dan handbody lotion khusus yang dipakainya bila mau tidur malam. Setelah pamitan, Ara langsung berangkat ke rumah Rani. Ketika sampai di rumah Rani, sudah ada Fitria dan Nirina di situ, mereka sudah berada dirumah Rani dari sehabis Maghrib tadi.
"Ran, nih aku ada bawain kamu beberapa buah aksesoris yang bisa kamu pake buat ke pesta ulang-tahun teman kamu besok malam." Kata Ara sambil mengeluarkan seutas kalung panjang bola-bola hitam-merah serta gelang yang berukuran agak besar warna merah dan putih. "Ini semua punyaku. Kalau kamu suka, kamu boleh mengambilnya." Ujar Ara sambil mengeluarkan semua barang-barang tersebut dari dalam tasnya. Rani melongo, terkejut, dia benar-benar tidak menyangka atas apa yang dilakukan oleh Ara.
"Tidak usah repot-repot Ra. Kalau ini semua untuk aku terus kamu pake apa dong?" Tanya Rani sungkan. Dia betul-betul merasa tidak enak sudah merepotkan Ara.
"Sudah, gak usah sungkan sama aku. Aku masih banyak yang lain kok. Sudah, ambil aja. Nggak usah malu-malu, gratis kok." Ujar Ara sambil tertawa. Fitria dan Nirina juga tertawa, mereka mendukung perkataan Ara.
"Na, kamu sudah makan belum?" Tanya Ara kepada Nirina.
"Belum, kenapa Ra?" Tanya Nirina balik kepada Ara.
"Gak apa-apa. Aku lapar. Makan yuk. Aku lagi pengen makan bakso nih." Ucap Ara.
"Tapi aku tidak punya duit Ra." Nirina menjawab pelan.
"Jangan khawatir, aku bayarin. Rani sama Fitria juga." Lanjut Ara.
"Ayo Ra. Aku mau. Aku cinta bakso Ra. Mandre-mandre yolo2." Potong Fitria cepat.
"Kamu tuh Fit, kalau soal makanan cepat. Tapi kalau di suruh belajar, malasnya minta ampun." Sindir Rani ke Fitria. Di antara mereka berempat, Fitria adalah yang paling kecil. Hanya dia yang masih sekolah, yang lain sudah pada lulus semua. Ara sudah lulus kuliah dan bekerja. Rani lebih tua setahun dari Ara, setelah SMA Rani tidak melanjutkan ke mana-mana. Sedangkan Nirina, dia seumuran dengan Rani. Setelah SMA Nirina juga tidak melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Tidak ada biaya katanya ketika suatu saat pernah ditanya oleh Ara.
Saat mereka berempat tengah berjalan kaki dengan santai ke warung penjual bakso di depan masjid besar paling tua di desa tersebut, ponsel Ara berdering.
"Assalamu'alaikum." Salam Ara kepada si penelpon.
"Wa'alaikumsalam. Kak, lagi ngapain? Masih berlibur ya?" Ujar si penelpon. Dia adalah Viandha, Ara biasa memanggilnya Via. Via adalah gadis tetangga sebelah rumah Ara di Kalimantan. Via lebih muda tiga tahun dari Ara. Mereka bersahabat sejak dari Sekolah Dasar, semenjak orang tua Viandha dipindah tugaskan ke Kalimantan. Viandha saat ini sedang kuliah di Universitas Indonesia, Fakultas Kedokteran. Viandha adalah seorang model yang cukup terkenal di Jakarta. Beberapa kali dirinya muncul sebagai model iklan di televisi. Via adalah sahabat karib Ara. Kemana-mana mereka selalu berdua. Mereka jarang bertemu semenjak Ara kuliah di Bandung. Akan tetapi mereka selalu Keep In Touch, tidak pernah putus komunikasi.
"Hai too Non. Lagi jalan nih rame-rame, mau cari bakso. Ya nih masih refreshing. Kamu sendiri lagi sibuk apa sekarang?" Jawab Ara sambil terus melangkahkan kakinya. Sementara Rani, Fitria, dan Nirina asik ngobrol sendiri. Ara sengaja berjalan sedikit di belakang mereka bertiga, agar tidak terlalu bising.
"Biasa Kak, shooting iklan, video clip, fashion show, dan kuliah. Kak, Via pengen ikutan liburan nah. Di sana asik gak Kak? Via mau istirahat sebentar nih. Capek sibuk melulu."
"Makanya kalau gak mau sibuk jangan jadi artis Neng. Jadi orang biasa aja kayak aku. Bebas mau kemana-mana, nggak terlalu sibuk. Paling juga sumpek dikit sama gawean kantor." Lanjut Ara yang memang telah bekerja sebagai seorang Psikolog, sesuai dengan ilmu yang telah dia dapatkan semasa kuliah.
"Nah, makanya itu kak Ara Via hubungin. Via mulai besok dapat cuti lima hari. Via mau libur di situ tiga hari. Besok jam tiga sore berangkatnya, naik pesawat. Sampai di sana sekitar jam lima-an. Jemputin ya Kak." Pinta Via.
"Bushet...!!!! Minta tolong apa nodong neh?? Mendadak amat ya? But, berhubung aku ini adalah orang yang baik, maka kamu ku jemputin. Tapi ada syaratnya, bawain aku oleh-oleh. Terserah berupa apa, yang penting ada yang kamu bawa buat aku... Key.. He..He.." Ucap Ara yang meski semula sempat agak terkejut saat mendengar kabar dari Via yang mendadak, tapi sejujurnya dia senang dengan kehadiran gadis satu itu. Meski hanya tiga hari.
"Oke. Tenang aja boss.. C u tomorrow
Cizsta. Bye." Kata Via selanjutnya.
"Bye." Sahut Ara menutup pembicaraan. Ara menutup ponselnya tepat ketika mereka berempat telah sampai di tempat warung bakso yang mereka tuju.
Mereka berempat makan dengan lahapnya. Udara malam yang dingin dan bakso yang panas menambah selera makan mereka. Ketika selesai makan, mereka segera beranjak pulang. Sesampai di simpang tiga di samping mesjid tua tersebut, ada beberapa anak muda yang sedang duduk-duduk santai. Beberapa diantara mereka ada yang menyapa Fitria. Ternyata mereka adalah teman sekolah Fitria. Mata Ara bertatapan dengan seorang pemuda tinggi, putih, berhidung mancung, berbibir tipis, berbadan tegap, dan berdada bidang. Pria tersebut mengingatkan Ara terhadap seseorang di masa lalunya. Pria yang pernah singgah dan menetap di hatinya. Sangat berharga baginya. Ara terus menatap pria berbaju merah tua tersebut. Pria itu juga sepertinya tidak bisa melepaskan pandangannya matanya dari sorot mata teduh Ara.
Pria yang baru dilihat Ara tersebut benar-benar mirip dengan pria yang ada dihatinya sembilan tahun lalu. Pria yang telah memperkenalkan pada Ara apa itu yang dinamakan cinta. Pria yang pertama kali telah memberikan kecupan lembut di bibir Ara. Pria yang pertama kali membuat Ara melayang merasakan indahnya cinta. Tetapi pria itu pula yang pertama kali telah menyakiti hati Ara. Pria pertama yang membuat hati Ara hancur oleh pedihnya duri cinta. Pria yang meninggalkan luka yang cukup dalam di hati Ara. Pria yang telah membuat Ara tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta.
Rani menyentuh tangan Ara, menyadarkan Ara dari lamunannya. Fitria kenal dengan pria yang beradu pandang dengan Ara itu. Fitria hendak memperkenalkannya kepada Ara. Pria tinggi tampan itu mengulurkan tangannya kepada Ara seraya menyebutkan namanya.
"Raka." Pria itu menyebutkan namanya dengan suaranya yang agak serak-serak basah. Ara tersentak. Bibirnya langsung terasa kelu. Jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya gemetar. Rani, Nirina, Fitria dan yang lain terdiam menatap Ara. Pria yang bernama Raka itu juga menatap bola mata indah Ara, seolah mencari jawaban mengapa gadis yang berada tepat di hadapannya tersebut tiba-tiba terdiam mematung.
Tidak mungkin.. Ini tidak mungkin terjadi.. Tidak mungkin..!! Hati dan pikiran Ara berontak ketika mengetahui nama pria yang ada di hadapannya itu. Mungkinkah dia pria yang sama? Pikir Ara. Tiba-tiba rasanya Ara ingin berlari meninggalkan tempat itu. Luka hatinya yang telah lama dia kubur dalam-dalam kini terkuak lagi. Tapi dia tetap berusaha menahan semua gejolak batinnya tersebut. Ara menampilkan senyum terbaiknya. Ia menyebutkan namanya dengan mantap. "Maura Maylikha. Tapi cukup dipanggil dengan Ara saja." Ujarnya sambil menjabat tangan Raka yang sedari tadi dibiarkannya menggantung.
Raka tiba-tiba terdiam seperti patung setelah mendengar nama Ara. Persis seperti reaksi Ara tadi ketika pertama kali mendengar nama Raka. Seolah tak percaya, Raka terus menatap kedua mata Ara.
"Ara..? Ara..? Kamu benar-benar Ara??" Tanya Raka yang benar-benar tak bisa percaya kalau gadis yang saat ini ada di hadapannya itu adalah Ara. Wanita yang pernah sangat dikasihinya.
"Ya, aku Ara.. Kamu masih ingat aku? Sembilan tahun.. Bukan waktu yang sebentar." ucap Ara. Kata-katanya dibuat tegar, tapi sebenarnya hatinya kecut, pilu mengingat masa lalunya. Meski diakuinya ada rasa rindu yang tiba-tiba muncul, tanpa bisa dipungkirinya. Raka adalah bagian terbaik dalam hidupnya yang pernah dimilikinya. Raka adalah cinta pertamanya. Bagi Ara "First Love Never Die". Tak ingin berlama-lama berada dihadapan Raka, Ara mengajak Rani pulang. Nirina dan Fitria yang sama sekali tidak mengerti atas apa yang terjadi hanya bisa terdiam. Mereka sibuk menerka-nerka sendiri di dalam otak mereka apakah gerangan yang tengah diperbincangankan oleh Ara dan Raka. Sedangkan Rani yang telah dari dulu mengetahui apa yang telah terjadi antara Ara dan Raka lantas menganggukkan kepalanya. Dan setelah pamitan pada yang lain, mereka lalu pulang.
Malam itu Ara sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya terus melayang memikirkan pertemuannya kembali dengan Raka setelah sembilan tahun terpisah. Kenangannya pun kembali melayang ke masa lalu, masa-masa saat cerita cinta itu baru dimulai.
Saat itu Ara baru mulai memasuki usia remaja. Gadis remaja kelas dua Sekolah Menengah Atas itu datang ke desa bersama ayah, ibu, dan kakaknya untuk berlibur. Gadis remaja yang beranjak dewasa itu cukup menikmati liburannya tersebut. Dia mempunyai teman yang cukup banyak, anak-anak gadis tetangga kiri dan kanan yang seumuran dengannya. Pada saat itulah ia bertemu Raka. Ia diperkenalkan oleh salah satu anggota temannya itu kepada Raka. Pada saat pertemuan pertama itulah keduanya merasakan perasaan tertarik antara satu sama lain.
Ara kecil yang polos dan lugu baru kali ini merasakan yang namanya cinta. Benar-benar cinta, bukan cinta monyet ataupun cinta coba-coba seperti yang pernah dialaminya dulu. Hatinya sangat berbunga-bunga. Tiap hari saat bangun pagi Ara tidak sabar menunggu datangnya malam, karena Ara hanya bisa bertemu Raka pada malam hari di rumah teman Ara yang telah memperkenalkan mereka berdua. Raka yang lebih tua enam tahun dari Ara sangat menyukai, mencintai, mengasihi, dan menyayangi Ara. Tak lama kemudian mereka jadian tanpa sepengetahuan orangtua mereka berdua. Setiap mereka mempunyai kesempatan bertemu, kedua insan yang sedang kasmaran ini selalu saling berbagi rasa kasih dan sayang. Setiap mereka berduaan, Raka tidak pernah berbuat macam-macam terhadap Ara. Raka benar-benar mencintai Ara dengan tulus. Bukan hanya menganggap Ara sebagai kekasih, tetapi Raka juga menganggap Ara sebagai seorang adik yang harus dia lindungi, jangan sampai lecet sedikitpun. Cinta tanpa restu orang-tua itupun mereka lalui secara backstreet. Hubungan mereka berdua berjalan mulus sampai tiba saatnya liburan sekolah Ara telah habis. Ara beserta keluarganya pun harus kembali ke kota mereka guna kembali melanjutkan rutinitas mereka sehari-hari.
Malam perpisahan mereka penuh dengan rasa haru. Ara tak ingin pergi meninggalkan Raka, dan Raka juga tidak ingin Ara pergi meninggalkan dirinya. Tubuh mungil Ara dipeluknya erat, sangat erat. Ara menangis di bahu Raka, seolah dunia akan berakhir jika mereka berdua berpisah. Raka mendudukkan Ara di sebuah bangku kecil yang berada di hadapannya. Raka duduk berlutut di lantai menghadap Ara. Dibelainya rambut gadis remaja yang sangat disayanginya itu. Diciumnya rambut Ara lembut, kemudian dipeluknya tubuh Ara dengan erat. Setelah itu diciumnya kedua pipi kiri kanan Ara pelan, kemudian diciumnya lembut dahi Ara, kedua mata Ara, hidung Ara, dan terakhir dikecupnya pelan dan lembut bibir Ara.. Tubuh Ara menegang. Baru kali ini dia merasakan yang seperti ini. First Kiss. Ara terdiam. Ia tidak tahu harus berbuat apa dan baagimana. Tubuhnya kaku, bibirnya terkatup rapat, jantungnya berdebar kencang. Ara ingin Raka mengulangnya sekali lagi, tapi bibirnya tidak bisa digerakkan. kaku dan malu.
Raka mengerti mengapa Ara terdiam seperti patung. Raka hanya tersenyum menatap wajah Ara yang begitu polos. Tatapan Raka begitu halus, penuh kasih sayang. Kemudian ditariknya pelan kepala Ara dan disandarkannya ke dadanya. Diciumnya sekali lagi ubun-ubun Ara. Aroma wangi sampo Ara sangat disukainya. Raka minta maaf tidak bisa mengantar Ara ke bandara, karena ada keperluan mendadak yang harus segera diselesaikannya. Ara berjanji agar segera menghubungi Raka apabila ia telah sampai di kotanya. Mereka pun berjanji akan selalu membina komunikasi. Saat itu Ara berambut pendek sebahu, akan tetapi pada malam itu dia berjanji kepada Raka, bahwa dia tidak akan memotong pendek rambutnya sampai dia bertemu lagi dengan Raka.
Setibanya Ara dikotanya, Raka langsung menghubunginya. Ucapan dan lantunan berjuta kerinduan pun mengalir dari bibir keduanya. Waktu seolah seketika terhenti ketika kedua insan yang sedang dimabuk asmara tersebut berbicara tentang cinta dan cita mereka. Meski jarak ribuan mil terbentang diantara mereka, namun tak menyurutkan tekad keduanya untuk tetap saling setia, tetap menjaga cinta yang telah mereka bina.
Hari-hari Ara remaja pun dipenuhi dengan cinta. Tubuhnya penuh dengan semangat api cinta Raka yang berkobar-kobar. Ara rajin masuk sekolah, kursus, dan bikin pekerjaan rumah. Semua dikerjakannya dengan penuh semangat. Hati, jiwa, dan pikirannya penuh dengan nama Raka. Senandung lagu cinta yang selalu mengalir dari bibir mungil Ara hanya dipersembahkannya untuk Raka seorang. Setiap malam Raka selalu menghubungi Ara, selalu ada banyak topik yang mereka bicarakan. Pada suatu malam, Raka menelpon Ara, Raka mengungkapkan rasa rindunya kepada Ara yang hampir tak bisa ditahannya. Raka mengatakan kepada Ara bahwa ia akan segera mengunjungi Ara, setelah dia pulang dari Jakarta. Raka ke Jakarta untuk mengunjungi adiknya yang menetap disana. Rencananya Raka sekitar dua minggu di Jakarta, setelah itu ia langsung akan mengunjungi Ara. Raka akan ke Jakarta tiga hari lagi.
Waktu terasa berjalan sangat lambat bagi Ara, tak sabar ia menunggu kurun waktu dua minggu. Tiga hari berikutnya Raka menghubungi Ara. Raka memberitahukan bahwa ia telah berada di Jakarta, dan tak sabar untuk segera ke Kalimantan serta memeluk Ara lagi. Ara merasa dunianya begitu indah.
Hari-hari pun berlalu, Raka tak lagi menghubungi Ara. Tak ada kabar lagi Ara terima dari pujaan hatinya tersebut. Dua minggu pun berlalu, tanpa ada kabar dari Raka. Berbulan-bulan Ara masih mencoba menunggu Raka, tapi hampa yang diperolehnya. Raka telah menghilang tanpa jejak!! Hati Ara hancur. Hati Ara sakit. Orang yang dipujanya, dicintainya sepenuh hati, dibanggakannya, pergi tanpa pamit dan menghilang tanpa jejak secara tiba-tiba dari kehidupan Ara. Raka adalah pria yang pertama kali memperkenalkan indahnya cinta kepada Ara, dan Raka pula pria pertama yang memperkenalkan pahitnya cinta kepada Ara. Raka pria pertama yang membuat hati Ara hancur berkeping-keping. Sulit bagi Ara untuk menatanya kembali.
Kini, setelah sembilan tahun telah berlalu, meski dengan susah payah namun Ara telah berhasil menata hatinya kembali. Meski tidak seutuh sebelum dia mengenal apa itu cinta. Setelah kejadian itu Ara kini tidak mudah jatuh cinta, dia takut hatinya dipermainkan pria lagi. Kini sikapnya terhadap pria menjadi dingin. Saat ini Ara lebih menyukai berteman terhadap semua pria, dari pada menjalin cinta. Meski tanpa bisa menipu dirinya sendiri, terkadang Ara pun rindu terhadap belaian, pelukan dan kecupan dari seorang pria. Dari Raka, pria yang sampai saat ini masih menempati posisi dihatinya yang terdalam. Tapi hati dan perasaan Ara terlalu penakut untuk merasakannya. Ara terlalu penakut untuk merasakan hal yang sama kepada Raka. Dan Ara pun tidak yakin Raka masih merasakan rasa yang sama seperti dirinya.
¤
20 April,
Subuh hari Ara terbangun, alarmnya berbunyi. Ara bangun sebentar untuk shalat, lalu setelah itu Ara pun tertidur kembali. Matanya seperti sedang mengangkat beban yang jumlahnya berton-ton, sangat-sangat berat. Ara baru bisa tertidur pada pukul empat pagi, jadi wajar kalau saat ini ia merasa sangat mengantuk. Ara lalu tertidur lagi di sisi Vanya, ponakannya Rani. Pagi harinya, saat Ara baru saja terbangun, Ara mengalami sakit kepala yang cukup kuat. Migrainnya kumat. Rasanya sakit sekali. Ara segera cuci muka, sedikit sarapan dan meminum obat migrainnya. Beberapa menit kemudian saat kepalanya mulai terasa normal kembali, Ara lalu pamit ke Rani. Ara memberitahu Rani bahwa ia mau ke rumah Zahara. Ara mau mandi, dan semua bajunya ada di rumah Zahara. Rani minta ikut sama Ara, ia ingin ngobrol-ngobrol sama Zahara. Ara pun mengangguk, setuju.
Ara baru saja selesai mandi ketika ibunya Zahara masuk ke dalam kamarnya dan menawarkan sarapan, dengan halus Ara menolak tawaran ibunya Zahara tersebut. Ara keluar kamar menuju teras, ia melihat Rani dan Zahara sedang asik mengobrol santai di teras. Ara ikutan ngobrol bersama mereka berdua.
"Mana Ikhsan Te?" tanya Ara, sudah beberapa hari ia tidak ada bertemu dengan Ikhsan.
"Ada tuh, masih tidur. Dia baru tidur habis shalat Subuh tadi." terang Zahara.
"Ra, besok rencananya aku mau balik ke Kalimantan. Kamu mau pulang bareng sama aku atau masih mau disini dulu?" Tanya Zahara.
"Loh, kok buru-buru Te? Hmmmm... kalau Ara disini dulu gak apa-apa kah?" Tanya Ara penasaran. Jujur, Ara memang belum ingin pulang ke Kalimantan, pertemuannya semalam dengan Raka membuatnya masih ingin berlama-lama di desa itu.
"Tidak apa-apa sih. Anaknya Om Thamrin kan mau pulang ke Kalimantan, dia kemarin ngajakin aku pulang sama-sama. Kupikir kamu pasti masih betah disini, kamu kan sudah bertahun-tahun tidak ke sini. Nah aku tidak mau ganggu liburan kamu. Aku terima tawaran anaknya Om Thamrin tersebut. Kamu tidak apa-apa kan Ra kalau aku tinggal?" Tanya Zahara balik kepada Ara.
"Nanti aja pulang ke Kalimantannya Ra, di sini aja dulu. Tinggal di rumahku saja. Kami juga ada rencana ke Kalimantan kok. Nanti kita sama-sama ke Kalimantannya." Rani memberikan sarannya dengan senang hati.
"Ara gak apa-apa Te. Ara di tempat Rani aja, soal pulang ke Kalimantan gampang lah." Ujar Ara sambil menoleh ke arah Rani. Rani hanya mengangguk sambil tersenyum bahagia.
"Baiklah kalau begitu. Aku berangkatnya besok pagi. Mungkin aku ke kota nanti malam, nginap di rumah ibunya Ikhsan, biar gampang ke bandaranya." Zahara menjelaskan kepada Ara. Ara mengangguk.
Agak siangan Ara pamit pada Zahara, ia dan Rani mau balik ke rumah Rani. Ara, Rani dan Zahara saling berpelukan, melepas Zahara dan anak-anaknya pulang duluan ke Kalimantan. Ara ke rumah Rani dengan membawa sebuah koper berisi semua pakaiannya. Rani merasa girang sekali Ara tinggal di rumahnya. Sesampainya di rumah Rani, Ara segera menelpon tempat rental mobil. Nomornya ia peroleh dari Sandra. Ara malas naik Taxi ke bandara buat jemput Via.
Jam empat pas, Ara sudah siap mau ke bandara. Ia mengenakan celana legging hitam dipadu dengan rok jins biru pendek. Untuk atasannya ia mengenakan kaus lengan pendek putih pas badan. Kalung panjang unik warna-warni, serta tas besar hitam polos menambah manis penampilan Ara sore itu. Kini ia telah berada di mobil yang ia sewa. Rani, Nirina, dan Fitria juga ikut serta. Ara sengaja mengajak mereka biar dia tidak merasa kesepian di mobil sendirian. Mereka menyalakan musik dan bernyanyi-nyanyi sambil ketawa-ketawa seolah-seolah mereka adalah manusia-manusia yang tidak mempunyai masalah sama sekali di muka bumi ini. Sejenak Ara bisa melupakan perasaan galaunya terhadap Raka.
Pukul lima kurang, mereka tiba di bandara. Setelah memarkir mobil, mereka langsung menuju ke terminal kedatangan. Ternyata pesawat yang ditumpangi oleh Via belum mendarat. Mereka berempat segera mengambil tempat duduk tak jauh dari pintu keluar terminal kedatangan. Saat mereka sedang asik bercandaan, dari pengeras suara di umumkan bahwa pesawat yang mereka tunggu-tunggu telah mendarat, pesawat yang ditumpangi oleh Via. Setelah sekitar lima belas menit menuggu, sosok yang mereka nantikan akhirnya muncul juga. Penampilan Via sore itu sungguh mengesankan. Dengan menggunakan baju terusan tanpa lengan dengan motif bunga warna-warni dan dihiasi oleh kerutan di bagian pinggangnya, membuat para lelaki yang melihatnya berdecak kagum. Bukan Viandha namanya kalau tidak bisa membuat mata para pria terpana.
Selama ini Maura dan Viandha sering dikira kakak-adik, karena Maura dan Viandha mempunyai postur, penampilan dan selera berbusana yang hampir sama. Viandha hanya lebih kurus sedikit dari Maura. Ada beberapa perbedaan mereka berdua; Viandha tipe yang periang dan ceplas ceplos dalam berbicara, sedang Maura sebenarnya adalah tipe wanita yang cukup periang namun terkadang Ara lebih banyak diam di hadapan orang banyak. Terkadang orang-orang yang baru pertama kali berkenalan dengan Ara pasti menganggap bahwa Ara adalah sosok yang sangat pendiam atau sombong, padahal tidak. Hanya kepada orang-orang yang sangat dekat dengannya lah, Ara bisa menjadi sosok dirinya yang ramah dan riang.
"Hai Jenk.. Apa kabar? Gimana tadi penerbangannya?" Tanya Ara sambil memeluk tubuh Via ketika gadis itu tiba dihadapannya.
"Capek, pesawatnya delay tiga jam. Sekarang Via laper banget nih, makan dulu yuk Kak." Jawab Via polos. Itulah yang disukai Ara dari Via, Via selalu mengatakan apa adanya segala sesuatu yang dirasakannya.
"Oke, kita ke restoran dekat sini aja. Tapi sebelumnya Via, kenalin dulu ini Nirina dan Fitria. Kalau yang ini Rani, kamu pasti sudah kenal sama Rani kan? Dulu Rani pernah tinggal di Kalimantan." Kata Ara memperkenalkan Nirina, Fitria, dan Rani kepada Via, mereka pun saling salam-salaman.
"Iya, dikit-dikit Via masih ingat sama Rani. Yang dulu suka naik pohon jambu di depan rumah Kak Ara kan?" Jawab Via menatap Rani dan tersenyum sambil berusaha mengingat-ingat memorinya tentang Rani jaman dulu. Rani juga tersenyum, dia tersipu malu mengingat kelakuannya di masa kecilnya itu. Fitria dan Nirina hanya tertawa-tawa saja mendengar cerita Via tentang Rani.
"Yuk, kita jalan sekarang, kasian ada yang kelaparan, nanti cacing-cacingnya berontak." Ajak Ara sambil sedikit becandain Via. Yang dicandain cuma nyengir saja sambil mengikuti Ara dan rombongan ke arah parkiran. Ara mengemudi mobil dengan santai, ia memutar sebuah lagu baru. Ara dan Nirina nyanyi-nyanyi kecil mengikuti lirik lagu. Via sedang asik berbicara di ponsel dengan manajernya. Sedang Rani dan Fitria asik mengobrol berduaan. Ara memarkirkan mobil sewaannya di halaman parkir restoran ikan bakar yang ada di tengah kota. Mereka berlima makan dengan lahap. Selain makanannya yang benar-benar enak, ternyata mereka berlima juga benar-benar kelaparan. Selesai makan mereka langsung pulang.
Jam tujuh malam baru mereka tiba di rumah. Ara dan Rani segera berganti pakaian dengan yang lebih bagus. Rani meminta Ara untuk menemaninya ke pesta ulang-tahun temannya. Rani menggunakan baju yang kemarin baru dibelinya di mall. Sedangkan Ara, ia mengenakan celana stocking panjang warna merah tua di padu dengan atasan berbahan kaus lengan pendek warna pink panjang pas badan. Setelah siap, mereka berdua langsung pergi ke tempat pesta dengan menggunakan mobil yang disewa Ara tadi pagi. Ara memang menyewanya seharian penuh. Sesampainya di tempat pesta, ternyata acara telah dimulai. Setelah acara tiup lilin dan makan-makan, mereka berdua lalu pamit pulang. Mereka berdua sudah sangat lelah malam itu. Via saja yang sebelumnya juga ditawari Rani untuk ikutan, menolak ikut. Via sangat kelelahan.
Setelah selesai menghadiri acara, Ara langsung mengembalikan mobil sewaan. Ia dan Rani pulang ke rumah dengan menggunakan becak. Sesampainya kembali di rumah Rani, Ara langsung berebah, kecapekan. Setelah berganti pakaian dengan baju rumah, Ara lalu ikutan duduk-duduk santai di depan TV dengan Sandra, ibunya Rani, Vanya, dan Rani. Sedangkan Kayla dan Via sudah tertidur dari tadi. Nirina dan Fitria juga sudah pada pulang ke rumahnya masing-masing. Tak lama di luar rumah turun hujan lumayan deras. Udaranya lumayan dingin. Ara masuk ke dalam kamar dan mulai berebah. Kakinya masih terasa pegal karena menginjak kopling. Ara lumayan lama tidak bawa mobil, semenjak dia berada di pulau ini.
Belum sempat mata Ara terpejam, ponselnya berdering.
"Ya hallo... Siapa ini?" Sapa Ara.
"Maura ya?" Suara pria tersebut menjawab sapaan Ara..
"Ya, saya Maura, maaf anda siapa ya?" Tanya Ara menyelidik. Nomor ponsel Ara baru saja digantinya. Nomor yang ini belum banyak orang yang tahu, hanya orang-orang terdekatnya saja yang tahu. Ara sengaja tidak menyebarkan nomor ponselnya yang baru ini karena tidak ingin diusik oleh nomor-nomor asing yang selama ini sering menganggunya.
"Aku Ikhsan, ponakan tante Zahara, masih ingat kan?" Jawab pemuda di seberang sana.
"Hai San, ya ingat dong sama kamu. Gak mungkin lupa lah. Dapat nomor aku dari tante Zahara ya?"
"Yup, benar! Tadi pas dia bilang mau balik ke Kalimantan, aku langsung tanya nomor kamu. Kalau tidak begitu bagaimana aku bisa tahu nomor kamu. Iya kan?" Jawab Ikhsan panjang lebar.
"Pintar kamu." Sahut Ara sambil tertawa renyah. Entah tidak tahu kenapa, Ara sama sekali tidak terfikir untuk meminta nomor ponsel Ikhsan ke tante Zahara tadi siang sebelum tantenya itu berangkat ke kota. Mungkin karena saat itu yang ada di kepala Ara hanyalah sosok seorang Raka.
"Ra, sudah dulu ya, sudah malam. Besok lagi ya ku hubungi. Bye."
"Okey, Bye." Sahut Ara menutup pembicaraan. Baru saja Ara mau meletakkan ponselnya, tiba-tiba ponselnya tersebut berbunyi lagi. Kali ini nada SMS. Segera di bacanya, ternyata dari Yudi.
"Ara... kapan pulang???? Kangen..." Bunyi SMS Yudi. Ara tidak membalasnya. Matanya sudah sangat berat. Ngantuk. Ara hanya mau satu hal, yakni: TIDUR!!
¤
21 April,
Alarm Ara berbunyi Subuh itu, Ara matiin. Setelah shalat ia tidur lagi. Rasa ngantuknya belum hilang-hilang juga. Paginya Ara baru terbangun. Via dan Rani masih terlelap disampingnya. Ara segera cuci muka, setelah itu dihampirinya Sandra yang sedang mempersiapkan sarapan buat Kayla. "Sarapan Ra." Tawar Sandra kepada Ara. "Ya Kak, nanti, terima kasih." Jawab Ara. Ara baru saja meminum satu gelas besar air putih, perutnya masih terasa kenyang. "Ra, temanin aku ke pasar yuk." Ajak Sandra kepada Ara.
"Kapan Kak?"
"Sekarang."
"Tapi Ara belum mandi, Kak Sandra mau nungguin kah?"
"Ya udah, sana cepetan." Sahut Sandra. Ara langsung lari mengambil handuknya dan segera mandi. Tak lama kemudian Ara pun telah siap. Celana pendek selutut warna coklat muda dengan beberapa kantong dan kaos lengan pendek hitam.
Pasarnya lumayan jauh, mereka pergi naik becak. Abang becaknya baik, dia tidak mau dibayar sama sekali. Ara memaksa mau membayarnya, tapi si abang malah marah-marah kepada Ara. Katanya "Kalau kamu bayar, saya tidak mau lagi antar kamu kemana-mana." Ara jadi bingung. Ibu-ibu muda disamping Ara yang sedari tadi memperhatikan debat antara Ara dan si abang becak langsung memberitahu Ara. "Si abang becak memang begitu, dia paling tidak mau dibayar sama cewek cantik. Apalagi kamu sepertinya bukan orang sini." Ara tambah heran dengan kelakuan si abang becak.
"Ya Bu, saya memang bukan orang sini. Saya orang Kalimantan, tapi keluarga saya banyak yang tinggal disini."
"Nah, si abang pasti makin suka ngantar kamu dan teman-teman kamu kesana kemari. Sampai dengkulnya abis juga pasti dia mau ngantarin. Tapi ya itu tadi, jangan harap si abang becak mau kamu bayar. Kamu cantik sih." Lanjut ibu muda itu sambil tersenyum, senyumnya manis sekali. Ara tersipu malu, tapi ia masih tetap saja heran sama kelakuan si abang becak.
"Terus, kasian dong si abangnya kalo begitu. Capek-capek ngayuh sepeda tapi gak dapat apa-apa." Ucap Ara lirih. Dia bingung dengan jalan fikiran si abang becak.
"Umpama suatu saat nanti kamu dan teman-temanmu mau keliling pake becak abang itu, kamu beliin aja si abang becaknya makanan ringan atau minuman ringan, aku yakin si abang pasti mau kok." Sahut Sandra bijak. Ara mengangguk senang, jalan keluar yang baik pikirnya. Setelah membeli beraneka macam sayuran, mereka lalu pulang. Mereka tidak mau memakai abang becak yang tadi, Ara sungkan kalau harus tidak bayar untuk ke dua kalinya.
Sesampainya di rumah, Via dan Rani lagi asik duduk-duduk di tangga depan rumah. Mereka berdua tampaknya baru selesai mandi. Kayla sedang di nina-bobokan sama omanya. Si bayi mungil itu agak nyentrik juga rupanya, dia hanya bisa ditidurkan apabila ditelinganya dikasih dengar lagunya "Rio Febrian" dan "Pinkan Mambo". Menjelang siang, Ara, Via dan Rani kerja sama membuat makan siang. Mereka membuat ikan bakar bumbu rica-rica. Pedas tapi enak. Ara yang tidak terlalu suka sama makanan yang pedas, menyiapkan satu gelas besar air dingin untuknya, "Jaga-jaga kalau nanti kepedasan" katanya ketika ditanya oleh Rani. Via yang memang doyan banget sama makanan pedas, makan sangat lahap, sampe dua kali nambah. "Wuih, sedap banget dah makanannya." ujarnya sambil melap keringat yang menetes di dahinya dengan menggunakan punggung tangannya yang bersih.
Sore hari, menjelang Maghrib, tiba-tiba listrik padam. Mereka segera menyiapkan lampu emergency untuk di pakai apabila hari mulai gelap. Sehabis shalat Maghrib, ponsel Rani berbunyi. Fitria mengajak Rani, Ara dan Via duduk-duduk santai dirumahnya, ada gosip seru katanya. Rani hanya membalas dengan jawaban "Insya Allah". Beberapa saat kemudian, Ara, Rani, dan Via memutuskan untuk turun ke rumah Fitria. Dengan hanya bermodalkan senter mereka berjalan cepat-cepat. Suasana malam gelap yang mencekam, saat melintas di daerah yang terkenal angker. Bulu kuduk ketiganya sontak berdiri. Untung saja rumah Fitria letaknya tidak begitu jauh dari rumah Rani, begitu sampai mereka bertiga langsung bernafas lega.
Sesampainya di rumah Fitria bukannya langsung cerita, Fitria malah mengajak Ara, Rani dan Via ke rumah Shavira. Shavira adalah keluarga Rani, keluarga Ara juga sebenarnya, namun mereka jarang bertemu. Ternyata di rumah Shavira sudah berkumpul banyak orang, teman-temannya Rani sekampung. Ada Nirina juga disitu. Ara dan Via diperkenalkan kepada mereka semua. Ada yang bernama Lidya, Faiz, Sarah, Nadya, Mariena, dan Haniva, serta beberapa tetangga pria yang ikutan nimbrung disitu sambil bermain gitar. Ara yang memakai rok pendek lipat-lipat warna ungu tua dengan motif bunga-bunga warna hitam dipermanis dengan ada pitanya dibelakangnya yang dipadukan dengan tank-top putih dan sweater pendek warna hitam, dan Via yang mengenakan celana pendek jins warna biru tua agak pudar dipadukan dengan atasan lengan pendek warna hitam, membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian malam itu.
Banyak pria yang berdecak kagum atas kecantikan mereka berdua. Bagai pinang dibelah dua kata mereka. Shavira berdiri disamping Ara, "Cantik sekali kak Ara ini" katanya pelan. Ara mendengar ucapannya tersebut, dia hanya tersenyum. "Kamu juga cantik kok Vira" Ucapnya lembut. Pipi Shavira merona merah.
"Kak Ara, ada teman Vira, cowok, yang minta kenalan sama kak Ara malam ini. Tapi dia belum datang. Dia bukan anak kampung sini. Kak Ara mau tidak?" Ucap Shavira sambil berbisik di samping Ara.
"Boleh-boleh saja, kalau cuma teman sih aku asyik-asyik aja." Jawab Ara, disambut dengan anggukan kepala dan senyuman Vira. Gadis belia tersebut tersenyum manis sekali. Tak lama kemudian teman Shavira tersebut datang dengan menggunakan sepeda motor berdua dengan temannya. Mereka berdua langsung mendatangi tempat Shavira dan Ara duduk.
"Kak, ini dia teman Vira yang Vira ceritain tadi." Kata Shavira memperkenalkan temannya itu kepada Ara. Ara senyum dengan manisnya. Teman Shavira tersebut menyodorkan tangannya sambil menyebutkan namanya kepada Ara. Tak lupa, ia menampilkan senyumannya yang paling manis pula untuk Ara.
"Zacky" kata temannya Shavira menyebutkan namanya. Nama yang bagus, bisik batin Ara.
"Maura, tapi biasa dipanggil Ara." Ucap Ara, kini gilirannya menyebutkan namanya.
"Nama yang sangat bagus." Ucap Zacky polos. Ara tersenyum dan mengucapkan terima-kasih.
"Ara, perkenalkan, ini temanku, namanya Arie." Zacky memperkenalkan pria yang berdiri disebelahnya. Zacky tadi datang bersama pria tersebut. Pria yang bernama Arie itu lantas tersenyum dan menjulurkan tangannya kepada Ara. Ara menyambutnya dan tersenyum pula. Ara tiba-tiba teringat sesuatu, kemudian dipanggilnya Via yang sedang mengobrol asyik bersama Marienha dan Sarah.
"Zacky, Arie, perkenalkan, ini teman aku Viandha. Meski teman tapi sudah kuanggap seperti adik aku sendiri." Kata Ara memperkenalkan Via.
"Via." Ujar Via tersenyum sambil menjabat tangan kedua teman barunya tersebut.
"Mereka berdua cantik-cantik sekali ya Ky. Jarang sekali ada perempuan secantik mereka disini." Arie terkagum-kagum kepada Ara dan Via. Ara dan Via tersenyum-senyum simpul. Mereka berlima kemudian terlibat perbincangan seru.
Malam terus merangkak naik. Hampir tengah malam, listrik belum nyala. Desa mereka masih diselimuti oleh kegelapan malam. acara kumpul-kumpul pun bubar. Satu-persatu dari mereka meninggalkan rumah Shavira, termasuk Ara, Via, dan Rani. Dengan bermodalkan senter yang mereka pergunakan sedari tadi, mereka berjalan beriringan bertiga, membelah malam. Ketika melewati kebun pisang, bulu tengkuk mereka kembali berdiri. Mereka berpegangan tangan dan segera mempercepat langkah kaki mereka. Setelah beberapa saat, akhirnya mereka sampai juga di rumah Rani, meski letih tapi mereka lega. Mereka bertiga berganti pakaian, cuci kaki lalu tidur.
¤
22 April,
Paginya, setelah Ara selesai mandi, di hampirinya Rani dan Via yang sedang berbincang asyik dengan Sandra di ruang keluarga. Besok Via akan kembali pulang ke Jakarta, dia berencana mau menghabiskan sisa waktunya di desa itu dengan bersenang-senang. Rani menyarankan berenang di laut, Ara dan Via langsung setuju. Mereka berdua sangat hobi berenang. Mereka jarang berenang di laut, melainkan hanya berenang di kolam renang saja. Mereka sepakat berenang di laut nanti sore.
Siang itu matahari menyengat begitu terik, udara panas membuat kerongkongan mereka terasa begitu kering. Ara segera mengambil ponsel dan segera mengirim SMS kepada Nirina dan memesan es kacang tanah yang banyak. Nirina mempunyai usaha toko kecil-kecilan. Meski kecil tapi lumayan lengkap, hampir semua makanan dan minuman ada di tokonya. Nirina mengirim utusannya mengantarkan es kacang tanah pesanan Ara, satu tempat minuman besar. Setelah menitipkan uang bayaran untuk Nirina, mereka segera menikmati es tersebut bersama-sama. Di udara yang begitu panas, es kacang tanah memang betul-betul menolong. Memberikan kesegaran yang tiada tara. Lagi-lagi Ara bersyukur di dalam hati. Alhamdulillah.
Ara sedang menikmati es kacang tanahnya ketika ponselnya berdering,
"Hai, Kak Ara, ini Shavira."
"Ya Vir, ada apa?"
"Kak, tadi pagi Zacky bilang sama Vira, kalau dia ingin ngajak kak Ara keluar nanti malam. Pas Vira tanya, dia tidak bilang mau kemana Kak. Kak Ara mau tidak?"
"Liat ntar ya Vir, insya Allah. Memangnya dia ngajak keluar jam berapa tah?"
"Habis Isya mungkin Kak."
"Gini deh, ntar malam jam delapan-an aku ke rumahmu. Masalah jadi apa gak-nya liat ntar malam aja ya."
"Baik Kak, Vira tunggu. Makasih ya Kak."
"Sama-sama.." Sahut Ara lalu mematikan panggilan masuk di I-phone-nya.
Tak terasa hari telah sore, mereka akan berenang. Ara menyarankan Rani untuk mengajak teman-teman perempuannya yang semalam, "Makin rame, makin seru!" Ujar Ara ketika ditanya Rani. Via mengangguk setuju, mendukung usul Ara. Rani segera menghubungi teman-temannya yang semalam, dan mereka pun pergi berenang beramai-ramai. Shavira, Nirina, Fitria, Faiz, Sarah, Lidya, Nadya, Haniva dan Mariena telah tiba di rumah Rani. Setelah itu mereka serombongan segera pergi ke pantai yang letaknya tak seberapa jauh dari tempat tinggal mereka. Mereka menggunakan banyak sekali sepeda motor, seperti konvoi. Ara dan Via sore itu sepakat mengenakan celana short hitam pendek yang di lapisi dengan celana selutut banyak kantong dan T-shirt lengan pendek biasa.
Sesampainya di pantai, Ara dan Via terkagum-kagum melihat pemandangan pantai yang begitu indah. Pasirnya putih bersih dan airnya sangat jernih. Sangking jernihnya sampai-sampai ikan-ikan dan terumbu karangnya terlihat sangat jelas. Keadaan sekitar pantai pun sangat bersih. Tak ada sampah-sampah yang berserakan. Ara sangat terpesona dengan keindahan alam yang terpampang di hadapannya. Subhanallah, ucap Ara dalam hati. Ia semakin tidak sabar untuk segera masuk ke dalam air dan merasakan kesegaran air laut tersebut.
Setelah rombongan mereka telah terkumpul semua, kini giliran mencari tempat yang enak untuk mereka duduk-duduk santai. Mereka berjalan menelusuri pinggir bibir pantai, berpegangan di bibir-bibir tebing yang sedikit menjorok ke arah laut. Saat itu air laut sedang pasang, ketika mereka berjalan di pinggir pantai melewati tebing, air laut tingginya sebatas betis mereka. Setelah mendapatkan tempat yang enak, mereka tidak langsung nyebur ke laut. Akan tetapi beberapa dari mereka malah membuka makanan ringan yang memang telah mereka persiapkan sebelumnya dari rumah. Mereka semua adalah penduduk asli desa, jadi wajar saja jika mereka semua sudah bosan sama yang namanya berenang di laut. Hanya Ara dan Via saja lah yang terlihat antusias. Setelah mengoleskan sunblock, melepas celana pendeknya, Ara dan Via langsung melompat ke dalam air. Mereka berenang kesana-kemari bermain-main dengan ombak.
Vanya yang sedari tadi ikut dengan rombongan mereka, ikutan nyemplung ke air. Meski masih kecil tapi Vanya jago berenang. Melihat kehebohan Ara, Via, dan Vanya di air membuat beberapa teman Rani juga ingin ikutan nyemplung di air. Fitria, Faiz dan Lidya naik ke atas tebing, lalu loncat ke air pakai gaya salto. Keren sekali jika dilihat dari bawah. Sedangkan yang lain lebih memilih duduk-duduk sambil ngerumpi, dan sesekali mata mereka memandang sana sini ke arah cowok-cowok tampan yang sore itu juga pada berenang. Pokoknya sore itu benar-benar seru! Menjelang Maghrib mereka pulangan.
Malamnya, Ara, Via dan Rani turun ke arah rumah Shavira. Sesampainya mereka disana, telah ada Zacky yang menunggu Ara bersama Shavira. Malam itu Zacky yang datang dengan menggunakan mobilnya terlihat sangat rapi. Ara yang malam itu tampil sederhana namun modis juga terlihat sangat menarik. Dengan menggunakan celana panjang stocking berwarna hitam, atasannya baju agak panjang garis-garis ke bawah warna-warni tanpa lengan dan dipadu dengan sebuah sweater warna merah marun, dan dilengkapi dengan tas tangan besar warna hitam polos. Ara tampil cukup percaya diri malam itu membuat Zacky terpana dengan kecantikan dirinya.
Setelah lama terdiam, terpesona oleh kecantikan alami Ara, Zacky kembali meminta Ara untuk menemaninya makan diluar sebentar. Via yang sudah mengerti betul dengan sifat Ara, melihat bahwa Ara tampak sedikit ragu. Via berinisiatif untuk membantu Zacky meyakinkan Ara agar mau menemani Zacky keluar. "Tapi sebentar aja ya, jangan lama-lama." Kata Ara kemudian. Ia memang sedang tak ingin kemana-mana malam itu. Besok Via pulang ke Jakarta, Ara ingin menikmati malam terakhir Via hanya dengan Via dan Rani juga teman-teman Rani. Pokoknya ada Via disampingnya. Tapi Ara juga sungkan menolak ajakan Zacky, karena Zacky adalah teman baiknya Shavira. Akhirnya setelah Ara mau menerima ajakan makan diluarnya Zacky, mereka semua lantas tersenyum lega.
Zacky ternyata cukup romantis. Ia mengajak Ara makan di sebuah restoran di pinggir pantai yang diseting dengan begitu anggun, elegan dan romantis. Makanannya enak-enak. Bukan restoran murah tampaknya. Ara beryukur dalam hati karena busana yang dikenakannya tidak malu-maluin. Ara tidak salah kostum. Ara sangat cantik. Ara sungguh-sungguh tak menyangka bahwa Zacky bisa seromantis itu terhadapnya. Kata-katanya sungguh puitis. Zacky mempersembahkan sebuah lagu buat Ara. Ia menyanyikan sebuah lagu yang sangat romantis menurut Ara. Setelah agak malam mereka pun kembali pulang. Ara ingin menghabiskan malam itu dengan Via.
Zacky memang sangat romantis. Ara sadari hal itu. Namun hal tersebut tidak lantas membuat Ara jatuh hati terhadap Zacky. Ara malah merasa takut terhadap Zacky. Ara takut kalau Zacky sampai benar-benar jatuh hati terhadapnya. Ara merasa takkan mampu membalas cinta Zacky terhadapnya. Zacky memang sangat baik kepada Ara. Sikapnya sangat hormat dan menghargai Ara sebagai seorang perempuan. Zacky juga cukup tampan. Tetapi itu semua tidak cukup bagi Ara untuk jatuh ke dalam pelukan Zacky. Ara tidak merasakan getar-getar cinta pada diri Zacky. Dia hanya ingin bersahabat dengan Zacky. Ara berdoa dalam hati semoga Zacky tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadapnya. Meski Ara yakin dari cara Zacky bersikap dan berbicara, tersirat jelas bahwa ia sangat jatuh hati terhadap Ara.
Malam sudah sangat larut ketika Via, Rani dan Ara beranjak pulang ke rumah. Sejak Ara pulang dari makan malam bersama Zacky tadi, Ara langsung ikutan Via dan Rani ngumpul-ngumpul di rumah Fitria. Anggota mereka cukup lengkap malam itu. Hanya Mariena, Shavira dan Haniva saja yang tidak hadir, karena mereka harus sekolah keesokan harinya. Seharusnya Fitria juga tidak boleh ikutan ngumpul karena esok hari ia juga harus sekolah. Namun ia merasa ia harus dapat pengecualian, karena di rumahnya lah malam itu dijadikan tempat mereka ngumpul-ngumpul. Setelah sampai di rumah, ketiga gadis itu segera berganti pakaian dan pergi tidur. Mereka tidur sangat lelap.
¤
23 April,
Subuh hari Ara terbangun, namun ia tidak memilih untuk tertidur lagi setelah shalat. Melainkan lebih memilih untuk bermain bersama Kayla yang saat itu sedang berusaha mencari perhatian dari ibunya. Kayla yang sedang duduk di atas kereta berjalannya berusaha menggapai-gapai ibunya yang sedang menyiapkan sarapan dan bekal sekolah putri sulungnya, Vanya. Sadar usahanya menggapai ibunya selalu gagal, Kayla lalu menangis. Sandra yang merasa kasihan terhadap putri bungsunya itu merasa iba. Segera diraihnya botol susu yang berada tak jauh darinya dan diberikannya kepada Kayla. Bocah cilik itu pun langsung seketika berhenti menangis dan tertawa kegirangan ketika meraih botol susu yang diberikan oleh ibunya. Sandra dan Ara tertawa geli melihat tingkah laku si kecil Kayla.
Pukul delapan kurang lima belas menit, setelah Vanya berangkat ke sekolah, Ara berebahan di sebelah Rani yang sedang mengayun Kayla sambil memutar lagunya "Pinkan Mambo". Pelan-pelan mata Ara mulai terasa sangat berat. Pelan-pelan rasa ngantuk hinggap dimatanya. Tak lama Ara pun tertidur pulas berbarengan dengan Kayla yang juga tertidur pulas di atas ayunan. Ara tertidur di lantai depan TV, yang hanya beralaskan ambal. Cahaya matahari pagi yang mengandung banyak vitamin masuk lewat jendela yang terbuka dan langsung menyinari pergelangan kaki Ara. Cahayanya yang hangat sama sekali tidak menganggu tidur Ara.
Sejam kemudian Ara terbangun. Cahaya matahari yang menyinari kakinya mulai terasa panas dan mengganggu. Selain itu perutnya yang juga sudah mulai keroncongan minta segera diisi. Ara sarapan ikan bakar buatan Rani bersama Via dan Sandra. Ibunya Rani sedang pergi ke kota karena ada undangan pernikahan di sana. Setelah selesai makan, Ara duduk-duduk di samping Via yang sedang mengemasi barangnya. Sore ini Via berencana pulang ke Jakarta. Memulai kembali semua rutinitasnya semula. Dan kalau tidak ada halangan, rencananya Ara yang akan mengantar Via ke bandara nanti sore. Mungkin ia akan menyewa mobil di tempat yang sama sewaktu ia menjemput Via dari bandara beberapa hari yang lalu.
Ketika sedang bercanda gurau dengan Via, ponsel Ara berdering. Kali ini dari nomor yang tidak ia kenal. Diangkatnya dan disapanya.
"Ass.. Siapa nih?" Sapa Maura yang bertanya tentang identitas si penelpon.
"Www.. Ara, aku Zacky. Semalam kan aku ada tanya nomor ponsel kamu, trus kamu kasih tahu. Lupa ya?" Jawab Zacky dari ujung sana. Ara benar-benar lupa bahwa ia ada memberikan nomor ponselnya kepada Zacky. Ia baru ingat setelah diingatkan kembali oleh Zacky. Ara juga baru ingat bahwa semalam ia tidak ada mencatat dan menyimpan nomor Zacky di ponselnya, karena ponselnya itu mati kehabisan battery.
"Hai Ky, sorry, semalam ponsel aku mati jadi gak bisa simpan nomor kamu. Bdw, ada apa ya Ky? Ada yang bisa aku bantu?" Sahut Ara halus.
"Eh, tidak ada apa-apa. Cuma mau ngajak jalan lagi nanti sore, bisa tidak?" Jawab Zacky, Suaranya terdengar agak gugup.
"Nanti sorenya jam berapa? Soalnya, nanti jam dua aku mau ngantar Via ke bandara. Mungkin sorean baru pulang."
"Sama siapa aja perginya, dan naik apa?"
"Mungkin aku mau ngajak Rani. Dan rencananya aku mau rental mobil. Emangnya kenapa Ky?"
"Hmmm, tidak apa-apa sih. Tapi kalau aku ikutan ngantar gimana? Pake mobilku, gimana? Boleh Tidak?" Zacky memberikan tawarannya ragu-ragu. Ia takut Ara tidak setuju dengan usulnya. Ara kaget mendengar perkataan Zacky. Lalu Ia memberitahukan kepada Via dan Rani tentang gagasan Zacky tersebut. Rani dan Via mengangguk setuju. Ara lalu kembali berbicara lagi dengan Zacky di telepon.
"Boleh Ky. Kamu boleh ikut ngantar Via ke bandara. Jam dua sudah harus ada di rumah Rani ya. gak boleh telat. Okey?"
"Terima kasih ya Ra. Tenang saja, aku tidak bakal telat kok. Okey, sampai jumpa nanti jam dua. Bye Ara." Zacky mengakhiri pembicaraan dengan nada riang. Via dan Rani senyum-senyum dengan arti tertentu, sedangkan Ara cuek aja dengan senyuman Rani dan Via tersebut. Dia memang lagi tidak mau mengartikan macam-macam apa maksud Zacky ikut mengantar Via ke bandara.
Tepat pukul dua, Zacky menghubungi ponsel Ara. Ia memberitahukan bahwa ia telah berada di depan rumah Shavira. Ia tidak tahu letak rumah Rani. Setelah mengikuti petunjuk yang diberikan Ara, akhirnya Zacky tiba juga di rumah Rani. Siang itu Ara mengenakan celana panjang jins warna hitam. Atasannya baju berbahan kaus tanpa lengan warna kuning polos pas badan dan dilapisi dengan kaus longgar warna hitam polos. Sedangkan Via lebih memilih untuk tampil sederhana, celana jins warna coklat tua dipadu dengan baju kaus putih polos. Simple tapi modis.
Setelah semua barang-barang Via telah masuk di bagasi mobil Zacky, Via pun pamitan kepada ibunya Rani dan Sandra. Tak lupa pula kepada Nirina, Fitria dan Shavira yang sengaja datang ke rumah Rani untuk mengantar kepergian Via. Setelah itu, Zacky, Ara dan Via pun berangkat ke bandara. Rani tidak jadi ikut mengantar Via, karena pacar Rani, Fadly, yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah Rani, siang itu datang berkunjung. Rani minta maaf kepada Via karena tidak jadi ikut mengantar. Via mengangguk, mengerti dengan keadaan Rani tersebut.
Di dalam mobil, Ara duduk di depan, di samping Zacky yang sedang mengendarai mobil. Mereka berdua mengobrol santai. Sedangkan Via yang duduk di belakang seorang diri sedang asyik berbicara di telepon dengan pacarnya yang juga seorang model di Jakarta. Setelah setengah jam perjalanan, Via yang sedari tadi bercandaan dengan Ara dan Zacky, tiba-tiba mengantuk dan tertidur. Tinggallah Ara berdua Zacky yang masih terjaga. Suasana diantara mereka berdua tiba-tiba menjadi hening. Mereka masing-masing sibuk dengan pikiran mereka sendiri-sendiri. Ara sedang memikirkan bagaimana ia harus bersikap nanti ketika hanya tersisa ia dan Zacky di mobil. Apa ia harus lebih banyak diam atau banyak bicara? Ara bingung. Sedangkan pikiran Zacky penuh dengan bayangan-bayangan Ara, wanita yang kini sedang berada disampingnya. Sepertinya ia merasakan bahwa ia telah jatuh cinta terhadap wanita cantik disampingnya itu.
"Bandaranya sudah dekat Ra." Ucapan Zacky tiba-tiba, cukup mengagetkan Ara. Ara sedikit tersontak, tetapi tidak tampak oleh Zacky.
"Oh, iya, dan sepertinya Via sudah harus dibangunkan nih." Kata Ara kemudian. Ara bersyukur Zacky mempunyai inisiatif untuk memulai pembicaraan duluan, sehingga keheningan yang sempat tercipta langsung hilang seketika.
"Sebaiknya memang begitu. Biar dia punya kesempatan merapikan diri."Ujar Zacky. Ara mengangguk dan segera membangunkan Via.
Pesawat Via tepat waktu. Berangkat sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Setelah Check-in, Via keluar lagi dari terminal keberangkatan untuk pamitan sama Ara dan Zacky. Via memeluk Ara lama sekali. Ara mencium pipi Via. Via berbisik kepada Ara bahwa menurutnya Zacky adalah pria yang baik buat Ara. Ara tersenyum kepada Via dan berbisik lembut, "Jodoh di tangan Tuhan". Via balas tersenyum lalu mengangguk pelan. Dipeluknya Ara sekali lagi, erat sekali. Kemudian Via berpaling kepada Zacky, lalu berjabat tangan. Zacky menyampaikan pesan kepada Via agar berhati-hati di jalan. Via mengangguk dan berlalu masuk ke dalam terminal keberangkatan. Sebelum benar-benar menghilang di balik sekian banyak manusia di dalam terminal tersebut, Via membalikkan badannya ke arah Ara dan Zacky, kemudian ia melambaikan tangannya tinggi-tinggi. Setelah itu ia berbalik lagi dan ia pun menghilang ditelan sekian banyak manusia di ruangan tersebut.
Pesawat yang membawa Via telah berangkat beberapa menit yang lalu. Kini Ara tengah duduk manis disamping Zacky yang tengah mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Suasana hening menyeruak diantara mereka. Untuk mengusir keheningan tersebut, Zacky memutar CD lagunya yang baru. Mereka bernyanyi-nyanyi kecil berdua, tertawa, bercandaan, mereka bersenang-senang. Zacky telah berhasil mengusir keheningan tersebut. Perjalanan jauh pun menjadi tak terasa. Dalam hati Ara mengucapkan terima kasih kepada Zacky yang telah mencairkan suasana diantara mereka.
Zacky tidak langsung mengantarkan Ara pulang ke rumah Rani, tetapi ia membawa Ara ke distro miliknya. Ada yang ingin ia bicarakan dengan Ara. Setelah sampai di distro, Zacky tidak langsung membicarakan masalah yang mengganggu pikirannya. Akan tetapi ia mengajak Ara untuk melihat-lihat koleksi pakaian-pakaian miliknya. Pakaian yang dipajang bagus-bagus. Ada sebuah baju yang sangat disukai oleh Ara, tetapi Ara tidak mengatakannya kepada Zacky. Zacky mengerti apa isi hati Ara. Ia bisa membacanya ketika melihat binar bola mata Ara saat memandangi sebuah pakaian yang sedang dipajang di atas etalase. Baju yang simple. Kaus pas badan dengan sedikit lengan warna hitam. Pada bagian dadanya ada gambar bewarna biru seorang perempuan berambut sebahu. Meski cukup simple, tapi Ara menyukainya.
"Ambilah." Kata Zacky tiba-tiba benar-benar mengagetkan Ara. Lebih kaget dari yang di mobil tadi siang.
"Ambil apa?"
"Bajunya. Ambilah bila kau suka."
"Ah, nanti saja. Kapan-kapan. Aku sekarang lagi gak bawa uang banyak. Belum ke ATM."
"Tidak usah bayar. Gratis. Tidak usah sungkan. Aku memang mau ngasih kamu sesuatu, tapi aku takut salah. Jadi mending kamu saja yang memilihnya sendiri."
Pipi Ara merona merah menahan malu, ia benar-benar merasa tidak enak kepada Zacky. Pria itu terlalu baik kepadanya.
"Gak usah repot-repot Ky." Ucap Ara sambil menggelengkan kepalanya dan berjalan menjauh dari pakaian yang dipajang tersebut. Ia tidak mau Zacky repot hanya gara-gara dia. Namun, tanpa disangka oleh Ara, Zacky tiba-tiba melepas baju yang dipajang di etalase tersebut dari patungnya. Membungkusnya, dan memberikannya di tangan Ara.
"Ambilah. Kumohon. Jangan bikin aku kecewa. Aku benar-benar ingin memberikannya ke kamu. Please Maura, jangan ditolak." Ara benar-benar bingung harus bagaimana. Zacky telah memohon kepadanya, dan ia tidak ingin melukai hati Zacky. Akhirnya diterimanya juga baju pemberian dari Zacky itu.
Zacky menuntun Ara yang masih terdiam, berdiri mematung disamping etalase distro. Zacky menarik pelan tangan Ara, agar gadis tersebut bisa duduk. Ara duduk di sebuah bangku yang di depannya ada sebuah meja. Di depan meja itu ada sebuah bangku. Zacky duduk di bangku tersebut.
"Ra, Aku minta maaf jika caraku yang seperti ini salah. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu bingung ataupun tersinggung Ra. Aku benar-benar tulus dari dalam hati ingin memberikan sesuatu sama kamu." Tutur Zacky. Ia merasa tidak enak dan merasa bertanggung jawab atas sikap Ara yang tiba-tiba menjadi diam. Tak ada sepatah kata pun terucap dari bibir Ara selain kata "Terima kasih banyak" yang tadi telah diucapkannya ketika menerima hadiah pemberian Zacky.
Ara tetap diam seribu bahasa. Matanya menatap baju pemberian Zacky yang kini berada di tangannya. Hatinya gelisah membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia tahu, Zacky tidak akan mungkin memberikannya baju dengan harga yang lumayan mahal secara cuma-cuma tanpa ada maksud apa-apa di balik itu. Ara takut ia tidak akan bisa memenuhi permintaan Zacky. Suasana menjadi hening. Kaku. Ara merasa tidak nyaman dengan suasana diantara mereka. Musik yang mengalun di ruangan itu sama sekali tidak bisa mencairkan suasana dingin yang tercipta di antara kedua anak manusia tersebut.
"Maura, aku suka kamu." Ucap Zacky tiba-tiba dengan suara yang pelan. Ara tidak menyahut. Ia pura-pura tidak mendengar ucapan Zacky. Matanya terus menatap ke arah baju hadiah yang telah terbungkus rapi.
"Maura. Jujur, dari pertama kenal sama kamu malam itu, aku langsung sangat suka sama kamu. Kamu benar-benar tipe wanita ideal bagi aku. Aku jatuh cinta sama kamu Ara." Zacky mengungkapkan semua isi hatinya kepada Ara. Kali ini dengan nada yang normal. Zacky menjulurkan tangannya menyeberangi meja, meraih tangan Ara. Ditariknya ke atas meja lalu digenggamnya tangan Ara.
"Ra, please, kasih aku jawaban." Zacky memohon kepada Ara. Dirinya cemas. Jantungnya deg-degan menanti jawaban kepastian dari Ara. Apakah cintanya diterima atau tidak oleh gadis pujaan hatinya yang langsung disukainya di malam pertama mereka berkenalan itu.
Ara masih tetap terdiam. Hatinya resah. Pikirannya kalut. Ia sama sekali tidak tahu harus memberi jawaban apa kepada Zacky. Ia tidak ingin menyakiti perasaan cowok itu. Zacky sudah terlalu baik kepadanya. Tetapi untuk menerima cinta Zacky juga sepertinya tidak mungkin. Ara tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadap pria itu. Ia juga belum mau untuk pacaran dengan seseorang. Ia masih suka teringat dengan masa lalunya bersama Raka. Ara menoleh ke arah Zacky pelan, ia berusaha tersenyum meski terasa kaku.
"Zacky, kamu orang yang baik menurut aku. Kamu sudah mau capek-capek nemanin aku ngantar Via ke bandara. Kamu juga memberikan aku hadiah yang sangat istimewa bagiku ini. Jujur aku sangat senang bisa kenalan dengan seseorang sepertimu Ky." Selesai berbicara, Ara terdiam sebentar. Mengatur nafas. "Ky, aku tahu kamu adalah pria yang bijaksana. Kamu pasti ingin jawabanya segera, tapi Ky aku gak bisa menjawabnya sekarang. Aku ingin kamu mau memberikan aku waktu untuk memikirkannya. Aku gak bisa memutuskanya sekarang Ky. Please Ky. Ku mohon ngertiin aku." Lanjut Ara lagi. Ia mengutarakan keinginannya dengan sedikit memohon. Ia yakin Zacky pasti mengerti.
"Baiklah. Aku tunggu jawabanmu Ra. Asal kamu tahu saja Ra, aku benar-benar tulus suka sama kamu." Zacky meluluskan keinginan Ara dan mencoba meyakinkan gadis itu sekali lagi tentang niatnya sambil memandang kedua bola mata Ara. Mencoba meyakinkan gadis itu. Ara merasa kikuk karena dipandangi Zacky. Ia lalu menunduk. Ia tidak kuasa melihat mata sendu Zacky.
"Ky, aku mau pulang."
"Sini aku antar." Kata Zacky sambil berdiri dan meraih kunci mobil dari sakunya.
"Gak usah Ky. Aku gak mau ngerepotin kamu tuk kesekian kalinya. Aku mau pulang sendiri aja. Please." Ara menolak dengan halus tawaran Zacky. Saat ini Ia benar-benar mengingkinkan adanya sedikit jarak dengan Zacky. Ia ingin bisa berfikir tenang barang sejenak. Zacky mengangguk. Meski kecewa tawarannya ditolak, tapi ia mencoba bersikap bijak. Tidak memaksa keinginan gadis itu.
Ara berdiri di depan distro di dampingi oleh Zacky. Tak lama sebuah becak pun melintas. Ara menghentikan becak tersebut dan menyebutkan tujuannya. Si abang becak mengangguk. Ara lalu menoleh ke arah Zacky. Di tatapnya mata Zacky dan mencoba untuk tersenyum.
"Terima kasih banyak ya Ky atas semuanya." Ucap Ara. Zacky mengangguk dan membalas tersenyum manis kepada Ara. Setelah itu Ara langsung segera naik ke atas becak dan si abang becak pun membawa Ara berlalu dari pandangan Zacky. Setelah Ara berlalu, Zacky berdoa dalam hati semoga Ara mau menerimanya menjadi pujaan hati gadis itu.
Ara tiba dirumah Rani menjelang Maghrib. Baru saja Ara selesai mandi tiba-tiba listrik kembali padam. Ara membantu orang rumah menyiapkan lampu emergency dan juga beberapa lilin. Tak lama kemudian hari pun mulai gelap. Mereka menjalankan sholat Maghrib berjamaah. Setelah itu, mereka menikmati makan malam bersama-sama. Namun entah mengapa Ara malam itu sama sekali tidak mempunyai nafsu makan. Ia hanya minum air putih banyak-banyak.
Sekitar pukul setengah sembilan, Ara dan Rani jalan-jalan ke rumah Fadly. Malam ini seperti malam-malam kemarin saat sedang mati listrik. Ara dan Rani hanya bermodalkan sebuah senter dengan cahaya penerangan yang sedang. Tapi kali ini mereka tidak merasa takut saat melewati kebun pisang, karena malam ini banyak sekali warga sekitar yang juga keluar rumah. Entah itu jalan-jalan seperti halnya Ara dan Rani atau hanya duduk-duduk di teras rumah mereka mencari kesejukan malam.
Sesampainya di rumah Fadly, Ara yang sedang duduk-duduk sambil bercandaan bersama Rani dan Fadly, terkejut mendengar suara ponselnya sendiri yang berdering di saku celananya. Dijawabnya panggilan masuk pada ponselnya tersebut.
"Hai.. Yudi..!! Tumben nelpon." Ara menyapa Yudi dengan riang. Yudi sebenarnya agak terkejut juga mendengar suara Ara yang terdengar sangat nyaring dikupingnya. Akan tetapi ia segera dapat mengatasi keadaannya.
"Hehehe.. Gak apa-apa, kangen banget aja sama kamu. Kapan pulang? Kangen banget nih.." Yudi membuat nada suaranya berkesan romantis. Ia ingin sedikit menggoda Ara.
"Tumben kangen sama aku. Paling-paling juga kalau aku pulang diajak jalannya cuma ke kondangan doang.. Hehehe...canda boss, jangan marah ya.." Ujar Ara. Ia takut kalau Yudi sampai tersinggung dengan candaannya barusan. Rani dan Fadly tertawa-tawa menggoda Ara. Mereka sengaja bikin suara ribut-ribut, biar Ara merasa terganggu. Mereka mengira bahwa Yudi adalah pacar Ara. Apabila Fadly sedang asik berpacaran dengan Rani, Ara suka menggoda mereka. Kali ini Fadly ingin membalas Ara. Ia ingin membuat Ara jengkel kepadanya. Setelah Ara memasang tampang cemberut, barulah Fadly dan Rani merasa puas. Dan mereka berdua tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan.
Ara sedikit menjauh dari Rani dan Fadly. Ia ingin mendapatkan sedikit ketenangan berbicara dengan Yudi, sahabat pria terdekatnya selama ini. Ara duduk sendirian di belakang rumah Fadly yang langsung menghadap ke laut. Suara ombak di waktu malam dan cahaya bulan purnama yang terang benderang benar-benar membuat Ara merasa rindu dengan belaian dan kecupan seorang pria disisinya. Hanya Yudi yang selama ini menemani Ara mengisi hari-harinya. Hanya Yudi yang bisa memahami dirinya. Andai saja Yudi bukan sahabatnya, mungkin ia bisa jadian dengan Yudi. Tetapi Yudi adalah sahabatnya. Ara tidak mau merusak hubungan persahabatannya dengan Yudi. Baginya "Friendship is Number One".
"Nah sunyi sudah. Kita bisa berbincang santai nih Yud." Ujar Ara pelan. Ia tidak ingin merusak keheningan malam tersebut.
"Ra, aku punya sesuatu buat kamu. Aku minta kamu diam sebentar dan betul-betul dengarin aku. Setelah aku selesai baru kamu boleh komentar. Okey?" Pinta Yudi kemudian. Ara terdiam sejenak, lalu ia mengatakan kepada Yudi bahwa ia setuju.
Yudi mendendangkan sebuah lagu yang isinya tentang curhatan hatinya kepada Ara.
"Meski hanya sesaat,
tetapi setiap detik bersamamu sangat membuatku terkesan,
terima-kasih banyak karena selama ini kamu mau menemani aku mengisi hari-hariku."
Inti lagu Yudi tersebut membuat perasaan Ara yang selama ini terasa kosong tambah terasa kosong. Ara merasakan hatinya sangat perih. Saat Yudi selesai menyelesaikan nyanyiannya, kerongkongan Ara terasa tercekat. Ia seolah tak bisa berbicara sama sekali. Yudi menanyakan tentang pendapatnya, dengan susah payah Ara meyakinkan Yudi bahwa lagunya tersebut sangat bagus. Lagu tersebut sangat menyentuh hati Ara.
Setelah percakapannya dengan Yudi selesai, Ara kembali ke tempat Rani dan Fadly. Mereka senyum-senyum ke arah Ara, seolah-olah mereka mengetahui apa yang telah Yudi dan Ara bicarakan. Ara tersenyum kepada mereka berdua, lalu duduk di hadapan Rani dan Fadly. Ara tidak banyak bicara ia hanya menjadi pendengar yang baik bagi Rani dan Fadly. Tak lama kemudian Rani mengajak Ara pulang.
Sesampainya mereka di rumah, listrik masih padam. Dengan hanya dibantu cahaya lilin, Ara berganti pakaian. Kayla dan Vanya sudah tertidur lelap dikamarnya. Begitu juga dengan ibunya Rani yang telah tertidur pulas di depan TV. Ia menggunakan kasur lipat yang menjaga tubuhnya dari dingin malam. Sandra, Ara dan Rani berbincang-bincang di ruang tengah yang diterangi oleh cahaya lampu emergency. Sekitar setengah jam kemudian, listrik hidup kembali. Hati Ara sangat lega. Kemudian Ara, Sandra serta Rani pun masuk ke kamar. Ara merebahkannya tubuhnya di sebelah Vanya. Tak lama kemudian ia pun terlelap.
¤
24 April,
Rani sedang asik menikmati sarapannya ketika Ara keluar kamar pagi itu. Ara menuju kamar mandi. Ia mau cuci muka dan sikat gigi. Setelah selesai, Ara duduk-duduk di kursi sofa samping Rani. Rani menawarinya sarapan. Ara menggeleng lemah. Entah mengapa tubuhnya terasa begitu lemas. Mungkin karena kebanyakan tidur pikir Ara. Ara menyadari bahwa selama beberapa hari di desa itu, berat tubuhnya berkurang. Celana dan bajunya banyak yang mulai terasa longgar sekarang. Ia mengingat-ngingat kapan terakhir ia makan malam. Ternyata ia terakhir makan malam sekitar beberapa hari yang lalu ketika ia pertama kali bertemu dengan Raka. Sudah lama sekali. Ara menimbang dirinya, badan Ara turun empat kilo. Sekarang berat badannya sekitar 59 kg. Tubuh Ara kentara sekali kurusnya. Tetapi itu semua sama sekali tidak mengurangi pesona pada diri Ara. Ara berfikir, baru berapa hari saja disini, berat badannya sudah turun lumayan banyak. Apalagi kalau ia sebulan tinggal disini? bisa habis badannya nanti.
Rani memaksa Ara untuk makan dan menghabiskan sarapan yang telah disediakannya. Menurutnya wajah Ara kelihatan cukup pucat. Ara menurut apa perkataan Rani. Tetapi ia tetap tidak bisa menghabiskannya. Rani menuangkan makanan ke piring Ara seperti orang yang sedang kesurupan. Sangat-sangat banyak. Porsi untuk tiga orang. Ara takkan sanggup untuk menghabiskannya. Shavira tiba-tiba muncul dengan membawa nampan yang berisi kue-kue buat sarapan dengan jumlah yang lumayan banyak. Ia disuruh oleh tantenya mengantarkan kue-kue tersebut untuk Ara dan orang-orang di rumah Rani. Rani tersenyum penuh arti kepada Ara. Ara tiba-tiba merasa kepalanya berputar. Ia merasa pusing melihat makanan yang begitu banyak. Ia yakin Rani akan memaksanya memakan kue-kue tersebut sebanyak mungkin.
Siangnya, Ara duduk-duduk di teras rumah menikmati semilir angin yang berhembus dari arah kebun pisang di bawah rumah Rani. Kalau siang begini kebun pisang tersebut tampak sangat bersahabat. Tetapi kalau malam kebun tersebut langsung menebarkan aura angker yang sangat menyeramkan kemana-mana. Shavira datang menghampiri Ara dan ikut duduk di sebelah Ara. Ia hari ini tidak pergi ke sekolah karena tadi pagi hujan turun cukup deras dan ia bangun kesiangan. Shavira mengajak Ara jalan-jalan naik becak nanti sore bersama Haniva. Shavira, Haniva, dan Mariena adalah teman satu sekolah. "Insya Allah ya Vir" kata Ara. Ia tidak ingin menjanjikan apa-apa terhadap remaja putri tersebut. Shavira mengangguk. Tak lama kemudian Shavira pun pamit pulang. Masih banyak kerjaan yang diberikan tantenya, sebagai hukuman karena ia bolos sekolah katanya.
Sepeninggal Shavira, Ara kembali tenggelam dalam kesendiriannya. Ia mengeluarkan ponselnya. Memutar musik lalu mendengarkan lagu-lagu favoritnya. Bibirnya bergerak-gerak pelan mengikuti alunan lagu yang mengalun ke gendang telinganya melalui earphone. Tanpa ia sadari, Sandra telah duduk disebelahnya. Di kursi kosong yang tadi dipakai duduk Shavira.
"Dengar lagu apa Ra?" Tanya Sandra penasaran.
"Lagu baru Kak. Bagus loh lagunya." Ujar Ara sambil melepaskan earphone dari telinganya dan menekan tombol loudspeaker pada ponselnya. Kemudian ia dan Sandra mendengarkan lagu tersebut serta lagu-lagu yang lainnya bersama-sama.
Sore hari, Shavira datang ke rumah Rani. Ia bersama dengan Haniva. Mereka berdua tampak cantik sore itu. Ara juga telah siap. Sore itu ia memakai celana pendek jins warna biru laut, dipadu dengan atasan kaus T-shirt putih bertuliskan Spiderbilt warna hitam pada bagian tengah kausnya. Kalung panjang manik-manik warna pink mempermanis dandanannya. Ara mengenakan sandal jepit warna hitam, dan tas selempang warna pink. Ara tidak kalah cantik dengan Shavira dan Haniva. Setelah pamit dengan orang rumah, mereka bertiga pun segera mencari becak.
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya becak yang mereka nanti-nantikan muncul dari kejauhan. Setelah dekat mereka lalu menyetopnya. Ternyata becak yang mereka hentikan itu adalah becak yang Ara dan Sandra tumpangi ketika ke pasar beberapa hari lalu. Becak yang abangnya tidak mau dibayar. Awalnya Ara berniat tidak jadi naik ke becak tersebut, tetapi Shavira, Haniva dan si abang becaknya memaksa. Akhirnya meski agak tidak enak hati, Ara naik juga ke atas becak itu. Sebenarnya becak itu hanya muat untuk dua orang penumpang saja, tetapi Shavira dan Haniva punya akal lain. Mereka bisa membuat becak itu muat dengan tiga orang penumpang. Caranya yakni Ara dan Shavira duduk di bangku penumpang seperti biasa. Mereka memangku kaki mereka masing-masing dengan sedemikian rupa, sehingga masih ada tempat pada bagian kaki sebagai tempat untuk Haniva duduk. Haniva bisa duduk dengan posisi kaki bersila, akan tetapi bisa juga dengan posisi duduk biasa. Kakinya diselonjorkan ke bawah hingga menyentuh jalanan. Apabila becak berjalan, kakinya akan terseret-seret. Haniva tampaknya lebih suka posisi duduk bersila. Para muda-mudi di desa itu tampaknya telah terbiasa dengan cara duduk di bawah seperti itu.
Mereka bertiga asik dibawa si abang becak berkeliling desa. Ara minta turun sebentar di toko yang berjualan makanan dan minuman. Ia membeli dua bungkus besar kacang garing dan empat buah minuman ringan kalengan. Satu bungkus kacang garing dan satu kaleng minuman diberikannya kepada si abang becak. Sisanya mereka nikmati bertiga. Setelah itu mereka lanjut keliling desa lagi. Mereka bertiga sangat menikmati suasana sore itu. Si abang becak juga tampaknya tampak sangat bahagia, karena becaknya ditumpangi oleh tiga wanita-wanita cantik. Dan tampaknya hal itu sangat membuat abang-abang becak yang lain sedikit cemburu.
Tanpa disangka ternyata si abang becak membawa mereka melewati distro milik Zacky. Ada Zacky serta beberapa temannya disitu. Shavira memanggil Zacky. Zacky menoleh lalu balas memanggil Shavira. Haniva yang juga kenal dengan Zacky, melambai-lambaikan tangannya kepada Zacky dan teman-temannya. Melihat itu semua Ara hanya diam tanpa berkomentar sedikitpun. Zacky tidak melihat bahwa juga ada Ara di dalam becak. Shavira memerintahkan si abang becak untuk memutar becaknya kembali ke arah distro. Meski dengan tampang yang sedikit kecewa akhirnya si abang becak mengantarkan mereka balik ke distro.
Zacky terlihat sedikit terkejut ketika melihat Ara turun dari becak mengikuti Shavira dan Haniva. Zacky langsung memberikan senyuman manisnya kepada Ara sambil berjalan mendekati gadis tersebut. Ara dan Zacky terlihat sedikit kikuk, tapi segera mereka mengatasinya. Zacky kemudian memperkenalkan Ara kepada teman-temannya. Ada Bondan, Aldo juga Beni. Teman-teman Zacky tersebut adalah orang-orang yang lumayan asik. Ara cepat akrab dengan mereka. mereka ngobrol kesana kemari, berbagai topik. Sedangkan Shavira dan Haniva asik melihat-lihat koleksi baju yang ada di dalam distro.
Shavira dan Haniva telah ikut gabung mengobrol dengan Ara, Zacky dan teman-temannya Zacky, ketika Ara berbisik pelan kepada Zacky yang saat itu duduk tepat disamping dirinya. Ara mengajak Zacky agak menjauh dari yang lain karena ada yang ingin Ara bicarakan berdua dengan Zacky. Zacky tersenyum mengangguk lalu menarik tangan Ara pelan masuk ke dalam distro. Ia berpesan kepada teman-temannya agar tidak masuk ke dalam distro dulu. Teman-teman Zacky, Shavira serta Haniva langsung memberikan siulan-siulan usil kepada Ara dan Zacky.
Zacky mengajak Ara duduk di tempat yang sama seperti pada waktu Zacky menyatakan isi hatinya kepada Ara kemarin. Setelah tinggal hanya berdua dengan Zacky, lidah Ara terasa kelu. Akan tetapi tetap dipaksakannya untuk mengungkapkan perasaan yang sebenarnya dari dalam hatinya. Zacky menatap mata Ara. Dirinya sangat penasaran dengan apa yang akan dikatakan Ara. Jantungnya berdegup kencang. Tetapi ia mencoba menyembunyikannya dengan berusaha bersikap netral. Sedangkan Ara hanya menunduk, memainkan cincin yang ada di jari manis tangan kirinya.
"Zacky...., kamu cakep. Kamu baik. Kamu sangat menghargai perempuan... Aku suka itu.." Ara terdiam sebentar. Ia sangat gugup. Zacky tersenyum mendengar ucapan Ara. "Kamu sangat baik bagi aku Zacky.... aku takut mengecewakan kamu.... kurasa aku kurang pantas bagi kamu Ky...... kurasa kamu pasti bisa mendapatkan seorang perempuan yang lebih baik dari aku..." Ucap Ara lagi secara terbata-bata.
"Maksud kamu apa Ra?" Tanya Zacky penasaran. Ia tidak sabar mendengar kelanjutan jawaban Ara.
"Aku gak bisa mencintai kamu Ky... aku sayang sama kamu, tetapi hanya sebatas rasa sayangku kepada seorang sahabat.. aku gak bisa lebih dari itu Ky... aku pernah sakit karena cinta, aku gak mau kamu merasakan sakit seperti yang pernah aku rasakan... ku yakin kamu ngerti apa yang aku maksud Ky... please maafin aku ya Ky.." Ara menjelaskan apa yang ia rasakan saat ini kepada Zacky. Ia tahu bahwa hal itu akan sangat menyakitkan. Tapi ia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri, ia memang tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadap Zacky. "Ky, Saat ini aku gak bawa baju yang kemarin kamu kasih ke aku. Tapi besok akan ku bawain." Kata Ara kemudian, yang disambut dengan bentakan Zacky.
"Jangan pernah sekali-kali kamu kembalikan..!!! Nada bicara Zacky menandakan bahwa ia sangat marah kepada Ara. Ia sangat tersinggung dengan ucapan Ara barusan yang ingin mengembalikan baju pemberiannya. "Maura, aku mengerti dan memahami bagaimana perasaanmu terhadapku. Aku tidak apa-apa kamu tidak bisa menerima cintaku... meski sakit, tapi aku tidak mau memaksakan perasaanku ini terhadap kamu. Cinta tidak harus memiliki Ra. Aku sudah sangat senang kamu mau jadi sahabatku. Apalagi tadi kamu bilang kamu sayang sama aku, meski hanya sayang untuk sahabat. Tetapi itu sudah membuatku sangat senang Ra.." Nada suara Zacky mulai tenang kembali. Ia berhenti berbicara sebentar. Ia mengatur nafasnya. Setelah itu ia melanjutkannya lagi. "Namun soal baju, aku akan sangat kecewa kalau kamu sampai mengembalikannya Ra. Aku memberikan baju itu untuk kamu benar-benar tulus dari dalam hatiku. Aku tidak punya maksud apa-apa dibalik baju itu Ra... ku mohon terimalah.." Terang Zacky. Ara mengangguk dan meminta maaf kepada Zacky. Ia berjanji akan merawat baju pemberian Zacky baik-baik.
Ara dan Zacky berjanji akan selalu bersahabat, dan takkan pernah putus persahabatan mereka sampai kapan pun. Umpama suatu saat nanti mereka berjodoh, itu urusan Allah. Yang terpenting saat ini mereka berdua saling menyayangi sebagai sahabat. Mereka berdua saling tersenyum manis. Zacky memegang tangan Ara erat. Ia mengatakan kepada Ara bahwa ia akan menjadi sahabat Ara yang paling baik. Ara mengangguk. Setelah itu mereka keluar dan bergabung kembali dengan yang lain.
Shavira, Haniva, Bondan, Aldo juga Beni sedang bersenda gurau ramai sekali ketika Ara dan Zacky kembali bergabung dengan mereka. Ara duduk di sebelah kiri Aldo, sedangkan Zacky duduk di sebelah kiri Ara. Di sebelah kiri Zacky ada Shavira dan Haniva. Mereka mengobrol santai ngalur-ngidul. Teman-teman Zacky kini sangat akrab dengan Ara. Mereka foto-foto bersama menggunakan kamera pada I-phone Ara. Berbagai pose mereka keluarkan. Lucu-lucu.
Aldo, sahabat baik Zacky merasakan kekaguman yang sangat besar terhadap sosok Ara. Kepribadian dan personality Ara sangat dahsyat membiusnya. Andai saja Zacky bukan sahabat karibnya dan ia tidak mengetahui tentang perasaan Zacky pada Ara, pasti sudah sejak tadi ia pendekatan kepada Ara. Siapa tahu beruntung bisa jadian sama Ara, pikirnya. Ara sangat cantik luar dan dalam. Tubuh dan rambutnya wangi. Bibirnya merah muda cerah. Kulitnya halus. Sikapnya ramah. Baik. Juga lucu, puji Aldo di dalam hati. Kenapa kamu tidak bertemu aku dulu sebelum bertemu dengan Zacky Ra??? protes Aldo masih didalam hatinya. Aldo terus memandangi wajah Ara. Ia terus-terusan mencari kesempatan agar dapat menyentuh kulit halus Ara. Agar ia juga dapat merasakan kelembutan kulit wanita yang dikaguminya itu.
Aldo sangat senang hatinya ketika ia mendapatkan kesempatan berfoto berdua dengan Ara. Shavira berkenan untuk memfotokan mereka berdua. Ara dan Aldo duduk bersebelahan. Tangan Aldo merangkul bahu Ara. Mereka berdua tersenyum manis sekali. Aldo girang sekali. Ia berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Ara karena telah mau berfoto berdua dengan dirinya. Ara hanya tersenyum. Bagi Ara berfoto bersama Aldo bukanlah hal yang sangat spesial bagi dirinya. Karena ia sama sekali tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadap pria itu. Ia juga sama sekali tidak mengetahui tentang perasaan Aldo terhadapnya. Baginya Aldo hanyalah teman biasa.
Setelah beberapa lama mengobrol di teras distro, akhirnya mereka semua bosan. Mereka pun lalu pindah ke tempat tongkrongan lain yang terletak tidak jauh dari distro. Tempat tongkrongan mereka kali ini berupa bangku panjang yang di susun bertingkat tiga dan berada di pinggir perempatan jalan besar. Sangat strategis sekali posisinya. Ara, Zacky, Haniva, dan Beni duduk di jejeran nomor dua. Aldo dan Bondan di bangku paling atas. Sedangkan Shavira lebih memilih untuk berdiri. Ia masih memegang ponsel berkamera milik Ara. Ia terus-menerus mengabadikan pose-pose spontan orang-orang yang berada dihadapannya.
Zacky duduk tepat disebelah kanan Ara. Aldo pun duduk tepat di atas tempat duduk Ara. Shavira lebih sering memotret Zacky dengan Ara ketimbang memotret yang lain. Haniva telah beberapa kali protes terhadap Shavira, ia ingin juga dirinya di foto. Tetapi Shavira cuek. Ia pura-pura tidak mendengar protes dari Haniva. Ia tetap asik memotret Ara dan Zacky.
Aldo yang berada di atas tempat duduk Ara merasa sangat cemburu kepada Zacky yang sedari tadi terus-terusan berada di dekat Ara. Tetapi ia tetap berusaha bersikap biasa-biasa saja, seolah-olah tak terjadi gejolak apapun dari dalam hatinya. Aldo, memandang bagian belakang tubuh Ara, karena hanya bagian itulah yang bisa ia lihat dari posisi duduknya sekarang. Aldo agak mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia ingin kembali mencium bau wangi aroma tubuh Ara. Ia melakukannya dengan cukup hati-hati. Ia tidak mau kalau sampai teman-temannya yang lain tahu tentang apa yang ia rasakan dan ia lakukan. Kali ini Aldo tidak dapat menahan rasa kagumnya terhadap Ara. Dengan memberanikan diri, dielusnya pelan belakang kepala Ara. Kini ia tidak hanya dapat mencium bau wangi rambut Ara, tetapi ia juga dapat merasakan kehalusan dan ketebalan rambut panjang Ara. Aldo sangat menyukainya. Saat itu ia tidak perduli kalau Zacky dan teman-temannya tahu perbuatannya tersebut.
Ara merasakan ada sentuhan halus pada kepalanya. Diliriknya tangan Zacky, tangan Zacky terlipat rapi di dadanya. Jadi tidak mungkin tangan Zacky yang tadi telah mengelus kepala Ara. Ara kemudian menoleh ke arah atas, ke arah Aldo. Posisi duduk Aldo masih condong ke arahnya. Aldo tersenyum manis. Ara yakin bahwa yang mengelus kepalanya barusan adalah Aldo. Ara membalas senyuman Aldo, lalu kembali menoleh menghadap Shavira yang masih asik berdiri di hadapannya. Mereka kini bernyanyi-nyanyi bersama diiringi petikan gitar yang dimainkan oleh Beni. Ketika sedang asik mendendangkan lagu bersama yang lain, tiba-tiba Ara merasakan sebuah elusan lagi di kepalanya. Elusan yang sangat lembut. Ara yakin Aldo lah pelakunya. Entah kenapa Ara hanya diam merasakan elusan di kepalanya itu. Ia tidak menoleh ke Aldo lalu menanyakan kenapa pria itu melakukan hal tersebut. Ara hanya diam merasakannya, entah kenapa ia menyukai elusan itu.
Setelah pada elusan yang ketiga kalinya barulah Ara menoleh ke arah Aldo. Ia tidak berkata-kata sedikit pun. Hanya raut wajah dan tatapannya saja yang menandakan bahwa ia bertanya-tanya kepada Aldo tentang apa yang dilakukannya sedari tadi. Aldo mengerti arti raut wajah Ara. Tambah dicondongkannya tubuhnya ke arah Ara, sehingga wajah mereka saling berdekatan. Aldo mengatakan secara pelan dan lembut kepada Ara bahwa ia sangat menyukai gadis itu. Tetapi ia tahu bahwa ia takkan pernah bisa memilikinya, meski ia mengerti bahwa jodoh itu ada di tangan Tuhan. Ara hanya diam mendengar pengakuan Aldo. Ia tidak ada komentar apa-apa. Ia menunduk sebentar kemudian tersenyum sedikit kepada Aldo. Setelah itu ia kembali menoleh ke arah Shavira dan Haniva, kemudian mengajak anak dua itu pulang. Setelah pamit dengan Zacky dan yang lain, Ara dan kedua gadis remaja itu pun pulang dengan menggunakan becak lain yang kebetulan lewat.
Ara sampai di rumah menjelang Maghrib. Ia lalu segera mandi. Setelah itu Ara duduk-duduk sebentar dengan Rani dan Sandra sambil menunggu adzan Maghrib. Setelah beribadah bersama seluruh anggota keluarga kecuali Kayla, Ara kembali duduk-duduk di depan TV bersama Rani beserta kakak, ibu, dan ponakannya. Tak lama ponsel Ara berdering, mamanya tercinta yang menghubunginya. Mamanya menceritakan kabar yang terjadi di rumahnya kepada Ara. Mamanya juga menceritakan tentang ponakan kembarnya yang sudah tidak sabar menunggunya pulang ke rumah. Ara tiba-tiba merasakan rasa rindu teramat sangat terhadap orang-orang di rumahnya, tetapi ia belum mau pulang. Ia masih ingin menghabiskan masa cutinya di desa itu. Dan juga ia masih ingin menuntaskan rasa penasarannya terhadap seorang pria di desa tersebut.
Malam itu udaranya sangat dingin. Hujan deras mengguyur seluruh desa. Udara malam yang dingin membuat mata Ara terasa berat dan ingin terpejam. Setelah mengobrol sebentar dengan Rani dan Sandra, Ara lalu pamit tidur duluan. Matanya sangat berat. Tubuh dan pikirannya juga agak capek. Sebelum benar-benar terpejam, sempat terlintas dibenak Ara kejadian tak terduga yang terjadi sore tadi. Saat dimana dua pria bersahabat karib jatuh hati padanya. Ara tidak bisa membayangkan bagaimana kelanjutan persahabatan mereka selanjutnya apabila Zacky sampai tahu bahwa Aldo menyukainya. Ada dua kemungkinan. Pertama persahabatan mereka hancur berantakan karena Zacky merasa dikhianati oleh Aldo. Aldo telah menjadi "Pagar Makan Tanaman" bagi Zacky. Lalu kemungkinan keduanya ialah persahabatan mereka akan baik-baik saja. Zacky menganggap tidak ada persaingan diantara mereka berdua. Siapa saja berhak untuk jatuh cinta. Selama belum ada ikatan, masih terbuka untuk umum. Persahabatan lebih penting daripada yang lain. Ara berhadap kemungkinan kedua lah yang terjadi.
Besok adalah hari kelahiran Ara. 26 tahun. Cukup bagi seorang gadis untuk segera memiliki hubungan yang lebih serius. Usia Ara kini cukup matang untuk melangkah ke arah pelaminan. Namun yang jadi masalah kini adalah dengan siapa ia akan melangkah ke arah pelaminan tersebut? Pasangan yang benar-benar cocok saja ia belum punya. Ia terlalu serius dalam menjalankan pekerjaannya sebagai seorang Konsultan Psikolog. Ia telah terlena dengan pekerjaannya itu. Disisi lain rasa ketidak percayaan Ara terhadap apa yang dinamakan cinta sejati membuatnya enggan mempunyai suatu hubungan yang spesial terhadap kaum Adam. Para kaum Adam hanya enak untuk di jadikan teman atau sahabat saja, jika lebih daripada itu maka para kaum Adam hanya bisa menyakiti hati dan merusak semua persahabatan yang telah terjalin, begitulah menurut pendapat Ara.
Tepat jam dua belas malam, Ara berdoa semoga di usia yang sekarang ia bisa menjadi sosok yang lebih bijaksana dalam bersikap. Diberi kesehatan. Dimudahkan rejekinya serta diberi kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ponsel Ara yang sebelumnya telah di beri modus "Silent" tiba-tiba bergetar. SMS-SMS ucapan Happy B'day dari Via, Yudi, dan para anggota keluarganya pun satu persatu pada masuk. Berbagai ucapan selamat dan doa-doa diterima Ara. Dibalasnya satu persatu SMS tersebut. Hati Ara terenyuh, begitu banyak orang-orang disekelilingnya yang begitu perhatian kepadanya. Ara sangat menyayangi mereka semua.
Di sisi lain Ara juga sadar bahwa saat ini umurnya telah berkurang. Ia teringat masih banyak dosa-dosa yang dimilikinya terhadap papa dan mamanya. Ara belum sempat benar-benar membahagiakan kedua orangtuanya. Ara tahu bahwa papa dan mamanya sama sekali tidak mengharap imbalan apapun darinya, namun dari hati yang paling dalam, Ara sangat ingin memberikan sesuatu yang sangat bernilai untuk kedua orangtuanya tersebut. Ara sangat ingin kedua orangtuanya tahu bahwa ia sangat mencintai mereka berdua. Ara ingin membalas jasa-jasa papa dan mamanya yang sedarinya kecil telah banyak menanamkan pelajaran terhadapnya. Baik itu dalam urusan dunia maupun akhirat. Berkat jerih payah mereka lah Ara bisa menjadi sosok seperti sekarang ini. Ara berharap semoga ia masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk bersama kedua orangtuanya dalam waktu yang cukup lama. Ara sangat-sangat ingin membahagiakan mereka berdua. Ara ingin mereka berdua menyaksikan saat-saat pernikahannya nanti. Dan Ara juga ingin kedua orangtuanya menyaksikan perkembangan cucu-cucunya dari Ara nanti. Insya Allah. Amien.
Saat mengenang kedua orangtuanya, Ara merasakan kerinduan yang luar biasa. Belaian dan sentuhan lembut mamanya. Masakan mamanya. Nasihat-nasihat bijak papanya. Saat-saat bersenda gurau dengan papa-mamanya. Ara kangen semua itu. Air mata Ara menetes dipipinya. Ara berdoa semoga papa dan mamanya diberi kesehatan, rejeki, dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Amien. Tak lama kemudian Ara pun akhirnya tertidur dan bermimpi bertemu dengan kedua orangtuanya, mimpi yang bahagia.
¤
25 April,
Ara terbangun dengan terkejut. Tangisan Kayla terdengar begitu nyaring di telinganya. Dilihatnya jam pada ponselnya ternyata sudah pukul sembilan pagi. Telah hampir siang. Setelah mandi, badan dan pikiran Ara kembali terasa segar. Kemudian ia langsung menghampiri Rani yang tengah sibuk menidurkan Kayla. Kali ini Kayla sedang asyik mendengarkan lagunya "Rio Febrian". Ara duduk diam disamping Rani sambil ikut menikmati lagu yang mengalun merdu. Hari ini adalah hari ulang-tahun Ara, namun ia sengaja tidak mengatakannya kepada siapa-siapa.
"Ran, sudah sarapan atau belum?"
"Belum. Kenapa Ra? mau beliin kah?"
"Iya, mau beli buras." Jawab Ara. Ia merasa perutnya sangat lapar. Ia ingin sarapan buras yang di jual di samping rumah Shavira. Ara sangat menyukai buras yang hendak di belinya itu. Tidak sama dengan buras yang biasa ada di Kalimantan. Burasnya kali ini di buat dengan menggunakan santan, dan di makan dengan sambal. Sambalnya juga khas sekali. Rasanya tidak terlalu pedas. Di buat dengan sedikit menggunakan pepaya. Ara sangat menyukainya.
"Tunggu Kayla tidur dulu ya." Ujar Rani kemudian. Ara mengangguk. Tak lama kemudian Kayla pun tertidur. Ara dan Rani segera beranjak menuju samping rumah Shavira.
Ara dan Rani sedang menikmati burasnya ketika Shavira datang menghampiri mereka. Ia hari ini tidak pergi ke sekolah lagi karena kakinya terkilir ketika hendak pergi mandi tadi pagi. Shavira juga membeli buras. Ia menyantapnya bersama Ara dan Rani. Mereka bertiga menikmati sarapan sambil bercerita-cerita ringan. Tak Lama kemudian Faiz muncul. Segera Ara menawarinya sarapan. Ia menerimanya. Akhirnya mereka pun sarapan beramai-ramai.
Ara masih menikmati sarapannya ketika ia melihat sosok yang seperti dikenalnya berdiri tidak jauh darinya. Hanya berjarak sekitar tiga rumah dari tempat Ara duduk sekarang. Sosok pria tersebut seperti Raka. Ia menggunakan kaus lengan pendek biru dengan celana pendek hitam. Mata Ara tidak berkedip dibuatnya. Pria itu berada di rumah tetangga Shavira yang berprofesi sebagai ahli modifikasi kendaraan, baik itu motor ataupun mobil. Ketika pria itu hendak pergi, Ara terus mengawasinya. Ketika hendak melewati tempat Ara sedang duduk, pria itu menghentikan laju motornya. Ternyata pria itu juga sedang menatap Ara dari balik helm besar yang menutupi seluruh wajahnya. Ketika saling bertatapan, sedikit-sedikit Ara bisa melihat wajah pria di balik helm besar tersebut. Jantung Ara kembali berdegup kencang ketika ia melihat wajah Raka.
Cukup lama Raka dan Ara saling terdiam di posisi masing-masing. Tetapi kemudian Raka kembali menjalankan motornya, ketika ia menyadari bahwa Ara sedang tidak sendiri. Ara hanya terdiam menatap kepergian Raka. Mulutnya sama sekali tidak bisa berkata-kata. Rani, Faiz, dan Shavira ternyata juga melihat kehadiran sosok Raka barusan. "Sepertinya ia juga melihatmu Kak." Kata Shavira membuyarkan lamunan Ara. Ara menganggukkan kepalanya. Kemudian Ara menunduk menatap makanannya kembali. Entah kenapa selera makannya tiba-tiba hilang. Ia kini tidak lapar lagi. Setelah membayar semua yang mereka santap ber-empat, Ara kemudian mengajak Rani kembali pulang.
Hari telang siang, matahari memancarkan sinarnya dengan sangat terik. Semenjak kejadian tadi pagi, Ara seperti orang yang kekurangan semangat. Ia malas ngapa-ngapain. Ia terus tertabayang-bayang wajah Raka tadi pagi meski samar-samar. Rani mengajak Ara memesan es kacang merah kepada Nirina. Ara setuju. Setelah pengantar es suruhan Nirina datang, mereka menikmati es tersebut. Tenggorokan dan badan pun segar kembali.
"Ra, nanti sore duduk-duduk di Tepian yuk." Kata Rani tiba-tiba. Ia menawari Ara nongkrong di tempat tepi pantai yang jaraknya tidak jauh dari rumah mereka. Salah satu tempat ngumpulnya muda-mudi pada waktu sore.
"Ayuk, ajak anak-anak yang lain juga biar rame." Ara setuju. Rani mengangguk senang. Ia kemudian langsung menghubungi teman-temannya yang lain.
Sore harinya, teman-teman Rani yang kini juga telah menjadi teman-temannya Ara, telah bermunculan di rumah Rani. Lalu mereka bersama-sama pergi ke Tepian. Begitu mereka tiba di tempat tujuan, ternyata telah banyak orang di sana. Ara yang sore itu mengenakan celana legging selutut dengan dipadu atasan tanpa lengan berwarna merah marun, di hiasi dengan renda-renda dan sebuah pita pada dadanya yang berbentuk huruf V, membuat Ara sore itu terlihat cukup sexy. Cukup membuatnya menjadi pusat perhatian.
Ketika mereka sedang asik duduk-duduk sambil bersenda gurau, tiba-tiba Rani melangkah maju kehadapan mereka semua dan mengucapkan selamat ulang-tahun untuk Ara dengan suara yang sengaja dibuatnya sekencang mungkin. Sontak semuanya langsung menatap ke arah Ara. Mereka terkejut. Kemudian mereka semua satu-persatu mencium pipi Ara sambil mengucapkan selamat kepada Ara. Ara hanya bisa tersenyum, namun di dalam hati Ara heran dari mana Rani bisa tahu bahwa ia hari itu berulang-tahun.
"Kok tahu Ran aku ulang-tahun?" Tanya Ara setelah Rani duduk kembali disampingnya.
"Dari Via tempo hari. Malam sebelum ia balik ke Jakarta." Jawab Rani sambil nyengir.
"Kalau gitu mana kadonya?" Tanya Ara bercanda. Rani tidak menjawab, ia malah tambah cengar-cengir kompak dengan yang lain. Ara pun paham dengan maksud cengiran Rani dan teman-temannya yang lain.
Mereka semua bersenang-senang sore itu. Ara mentraktir mereka semua makan es krim yang kebetulan sedang lewat di depan mereka. Setelah itu mereka foto-foto dengan menggunakan ponsel Ara. Puas foto-foto mereka bercandaan. Tertawa bersama-sama. Selain merayakan ulang-tahun Ara, juga untuk melepaskan kepenatan. Ternyata rencana Ara untuk diam-diam pas di hari ulang-tahunnya gagal. Meski begitu ia tetap bahagia hari itu. Menjelang Maghrib mereka beranjak pulang ke rumah masing-masing.
Setelah Isya, Ara, Rani, dan teman-teman mereka yang lain duduk-duduk di teras rumah Nirina. Tak lama Fadly datang. Ia hendak mengunjungi Rani. Kekasihnya tercinta. Tak ingin mengganggu orang yang sedang kasmaran, akhirnya Ara, Shavira, Lidya, Marienha, dan Haniva pindah tempat nongkrong di rumah tetangga depan Shavira. Ketika Ara sedang asyik bercerita dengan para sahabatnya, Zacky dan para sahabatnya lewat di depan Ara dan teman-temannya.
Zacky yang juga melihat Ara dan para sahabatnya duduk-duduk, langsung memutar motornya balik ke arah Ara and the gank. Zacky dan kelompoknya yang mengendarai beberapa motor langsung parkir di depan Ara and the gank, lalu ikutan ngobrol bersama mereka. Zacky segera mengambil posisi duduk di depan Ara. Ara menanyakan keberadaan Aldo yang malam itu tidak tampak wujudnya. Belum ada lima menit Ara menanyakan keberadaannya ke Zacky, Aldo tiba-tiba muncul dan langsung duduk di samping Zacky. "Sorry telat." Kata Aldo kepada Zacky, lalu tersenyum kepada Ara. Ara yang malam itu mengenakan celana jins selutut warna biru pudar dan atasan kaus hitam lengan pendek, tampak sangat cantik dan imut. Aldo dan Zacky takjub dibuatnya.
Kelompok Zacky dan Ara sedang mengobrol seru ketika Shavira membisikkan di telinga Ara bahwa ada Raka di rumah tetangganya yang montir itu. Ara terkejut sedikit namun segera dapat dikuasainya keterkejutannya itu. Saat Ara menoleh ke arah Raka, ternyata Raka juga sedang menoleh ke arah dirinya. Mereka berpandang-pandangan. Tak lama kemudian Raka berjalan pelan ke arah Ara. Sadar Raka sedang berjalan mendekati dirinya, tiba-tiba Ara menjadi nerveous dan tegang. Jantungnya deg-degan.
"Hai.." Sapa Raka setelah berada tepat di depan Ara. Raka menyodorkan tangannya ke arah Ara. Mengajaknya bersalaman.
"Eh,, Hai.. Hai juga." Kata Ara gugup sambil tersenyum dan menyambut tangan Raka. Tangan Ara dingin. Raka menyadari hal itu, tetapi ia diam saja. Ia hanya tersenyum lembut nan manis ke Ara.
"Sudah lama duduk-duduk di sini?" Tanya Raka kemudian.
"Lumayan." Jawab Ara. Sebenarnya Ara kurang suka dengan gaya bahasanya sendiri yang singkat-singkat, bikin tambah grogi. Tetapi itulah kenyataannya. Ara seperti tidak bisa menemukan kalimat-kalimat lain yang lebih panjang. Bibirnya kelu karena grogi. Raka begitu tampan. Begitu mempesonanya. Tak lama Raka pamit kepada Ara, ia mau melihat keadaan motornya yang sedang dimodifikasi. Ara mengangguk, tetapi didalam hati ia mengutuk kebodohan dirinya yang telah membuang sia-sia kesempatan mengobrol dengan Raka. Dengan tidak sesemangat sebelumnya, Ara kembali mengobrol dengan teman-temannya yang lain.
Ketika mengobrol dengan para sahabatnya, tiba-tiba Ara melihat Rani, Fadly, Nirina, dan Fitria sedang berdiri sambil mengobrol tepat di depan rumah tempat Raka memodifikasi motornya. Ara ingin mendatangi Rani. Ia pamit sebentar kepada teman-temannya yang lain, lalu segera beranjak mendatangi tempat Rani berdiri. Sesampainya, Ara langsung disambut oleh bisikkan Rani yang memberitahukan bahwa ada Raka di tempat montir. Ara pun memberi tahu Rani bahwa ia telah mengetahui keberadaan Raka tersebut, karena sebelumnya tadi Raka telah menemuinya. Rani mengangguk dan tersenyum. Namun kemudian ia berbisik lagi kepada Ara. "Coba deh kamu noleh ke belakang." Ara menoleh. Bukan main kagetnya Ara saat ia melihat Raka sedang berjalan menuju ke arahnya berdiri. Ara balik menatap Rani. Berdoa dalam hati. Ara kumat groginya. Nerveous dan deg-degan. Ia berharap semoga tidak gugup lagi seperti sebelumnya.
"Hai Ara.." Suara Raka terdengar sangat merdu di telinga Ara. Ara menoleh pelan ke samping kiri. Namun lagi-lagi Ara terkejut. Raka telah berdiri di sampingnya. Sangat dekat dengan dirinya.
"Hai juga Ka.. Gimana motornya? Sudah selesai?" Tanya Ara kemudian. Ia bersyukur dalam hati karena tidak berbicara singkat-singkat lagi.
"Belum itu. Sisa sedikit lagi. Tinggal finishing. Oia sombong nih ya sekarang, mentang-mentang sudah punya pacar." Ara terkejut. Ia sama sekali tidak mengerti kemana arah pembicaraan Raka. Di pandanginya wajah Raka, guna mencari jawaban arah pembicaraan mereka. Tetapi nihil. Ara tidak menemukannya.
"Maksudmu apa?"
"Kamu sombong sekarang mentang-mentang sudah jadian sama Zacky."
"Jadian? Aku jadian sama Zacky? kata siapa?"
"Aku lihat sendiri beberapa hari lalu kamu ada jalan sama Zacky. Aku panggil kamu tapi kamu tidak mau menoleh." Ara sedikit banyak mulai mengerti kemana arah pembicaraan Raka, hanya salah sangka saja.
"Itu bohong! Itu gosip! Aku sama sekali gak jadian atau pacaran sama dia."
"Terus kalau tidak jadian, ngapain kemarin jalan berdua sama dia?" Sebenarnya dalam lubuk hati terdalam Raka berdoa semoga apa yang dikatakan Ara memang benar adanya. Bahwa Ara tidak jadian dengan Zacky.
Sesungguhnya Raka cukup merasa cemburu ketika melihat kedekatan Ara dengan Zacky beberapa malam lalu. Entah kenapa hatinya merasa perih dikala ia melihat wanita yang pernah menjadi ratu dihatinya itu akrab dengan pria lain. Ingin sekali diambilnya kembali posisi pria itu. Tetapi dengan sekuat tenaga ditahannya semua perasaannya itu. Apalagi saat itu ia tengah dikelilingi para sahabat karibnya, jadi sangat tidak mungkin ia mengejar pria yang telah merampas wanita pujaan hatinya itu lalu merebutnya kembali.
"Aku sama Zacky hanya teman biasa. Tidak lebih. Apa salah jika aku jalan dengan teman aku? Apa salah jika aku menerima ajakan jalan dari teman aku sendiri? Gak kan? Gak ada salahnya kan? Jadi sangat wajar dong aku jalan sama dia. Toh aku juga gak ngapa-ngapain kok sama dia. Hanya jalan dan makan. Tidak lebih.. Aku masih Single!!" Ara benar-benar menegaskan kepada Raka bahwa ia tidak ada hubungan apa-apa dengan Zacky. Dan ia juga menekankan pada pemuda itu bahwa ia benar-benar masih sendiri. Belum punya pendamping. Ara kurang suka dicurigai seperti itu.
"Jadi benar kamu belum punya seseorang yang bakal menjadi pendamping hidupmu?" Raka menanyakannya lagi. Ia sangat ingin mendapatkan jawaban Ara yang benar-benar dapat meyakinkannya. Ara mengangguk. Ia menatap mata teduh Raka. Mencoba meyakinkan Raka bahwa apa yang telah dikatakannya tadi memang jujur apa adanya. "Kalau memang jawabanmu itu jujur, mau tidak kamu ikut aku sebentar? Ada yang ingin aku katakan sama kamu." Kata Raka kemudian. Ia ingin berbicara banyak bersama Ara, tetapi ia merasa tidak enak berbicara dipinggir jalan seperti itu. Raka ingin membawa Ara ke tempat yang lebih tenang, agar mereka enak berbicara berdua.
"Aku mau." Jawab Ara cepat. Ia tidak perlu memikirkan jawabannya lama-lama. Ia memang ingin berbicara banyak sama Raka. Sangat banyak hal yang harus mereka bicarakan berdua.
"Baiklah. Tunggu disini sebentar. Aku antar temanku pulang dulu." Ara mengangguk. Setelah itu Raka langsung pergi mengantar temannya pulang.
Sekitar lima belas menit Ara menunggu, tak lama Raka datang kembali dengan temannya yang lain lagi. Ara di perkenalkan Raka kepada temannya tersebut.
"Satria" Temannya Raka menyebutkan namanya lalu tersenyum kepada Ara.
"Maura." Jawab Ara kemudian. Ia pun balas tersenyum kepada Satria. "Aku belum bisa ikut kamu sekarang, masih ada Zacky dan teman-temannya di situ. Tidak enak kalau aku langsung pergi. Nanti jika mereka sudah bubar baru aku ikut sama kamu. Bagaimana?" Kata Ara lagi sambil menunjuk dengan menggunakan kepalanya ke arah tempat Zacky dan teman-temannya sedang mengobrol. Untuk sesaat Ara sempat lupa dengan keberadaan Zacky dan teman-temannya.
"Oke, tapi jangan lama-lama." Kata Raka.
"Ini nomor ponsel aku. Berapa nomor ponsel kamu?" Tanya Ara sambil memberikan nomor ponselnya kepada Raka.
"Nanti jika Zacky dan teman-temannya sudah pergi, kamu segera hubungi aku ya." Pinta Raka setelah ia memberikan nomor ponselnya kepada Ara. Ara mengangguk. Raka dan Satria pun langsung pergi lagi.
Setelah kepergian Raka, Ara kembali duduk bersama dengan teman-temannya yang lain. Zacky dan Aldo yang sedari tadi melihat dari jauh perbincangan antara Ara dengan Raka, sedikit tidak suka dengan kedekatan yang terjalin diantara keduanya. Mereka berdua cemburu. Tetapi Ara cuek saja. Ia pura-pura tidak tahu hal itu. Selang beberapa menit kemudian, Zacky, Aldo dan teman-temannya pamit pulang. Sepeninggal Zacky dan sahabatnya, Ara lantas mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi Raka. Namun baru saja Ara hendak menekan tombol nomor ponsel Raka, tiba-tiba ponsel Ara berdering. Raka yang menelponnya.
"Hallo Ara. Zacky sudah pulang kan?" Ucap Raka cepat ketika Ara baru saja mengucapkan salam.
"Iya, baru saja. Kok kamu tahu?" Tanya Ara heran.
"Mereka baru saja lewat sini. Ku jemput sekarang ya. Tungguin. Jangan kemana-mana." Raka tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dan berbicara dengan Ara lagi.
"Iya. Ku tunggu." Ucap Ara kemudian sambil menutup ponselnya. Lalu ia duduk bersandar ke dinding. Menutup matanya. Ia ingin menjernihkan otaknya walau sebentar.
Sekitar beberapa menit kemudian, Rinto, teman Raka, datang. Ia memberitahu Ara bahwa Raka menyuruhnya menjemput Ara, karena Raka sedang menerima telepon dari keluarganya di Jakarta. Telepon tersebut cukup penting hingga Raka tidak bisa menunda telepon masuk tersebut. Setelah pamit dengan teman-temannya, Ara segera ikut dengan Rinto menuju tempat dimana Raka berada. Tak sampai sepuluh menit, mereka telah sampai ditempat Raka berada. Di rumah Rinto. Di rumah tersebut ada beberapa orang teman Raka yang lain. Mereka semua duduk-duduk di halaman rumah, sehingga ramai suara kendaraan menambah semarak suasana malam itu.
Raka menyambut kedatangan Ara dengan senyum manisnya yang sangat menawan. Entah mengapa Ara merasa Raka sangat tampan malam itu. Raka mengenakan kaus T-shirt putih lengan pendek dipadu dengan celana pendek selutut warna coklat. Dadanya yang bidang, tubuhnya yang tegap dan tinggi membuat Ara seolah tak berkedip memandangnya. Raka bukan tipe pria yang suka merokok. Dia bukan pemakai obat-obatan terlarang. Ia juga tidak suka minum minuman yang beralkohol. Ia juga sangat menyukai olahraga terutama lari pagi dan fitness. Jadi sangatlah wajar bila tubuh Raka terlihat sangat bugar. Raka juga termasuk pria yang cukup taat menjalankan ibadah agamanya. Ara sangat menyukai tipe pria seperti Raka.
Raka menarik tangan Ara dan mengajaknya duduk di kursi yang telah disediakannya. Ara duduk tepat disebelah Raka. Raka memperkenalkan para sahabatnya yang hadir malam itu. Ada Satria yang telah berkenalan dengan Ara sebelumnya, Rinto sang pemilik rumah serta beberapa kawannya yang lain. Ara banyak mendapat pertanyaan malam itu. Para sahabat Raka tampaknya sangat penasaran dengan Ara. Tak sedikit pula diantara mereka yang malam itu langsung jatuh cinta. Mereka mencuri-curi pandang kepada Ara. Bahkan ada pula yang tanpa malu-malu berusaha mencari perhatian lebih dari Ara.
Mereka saling bercanda, bersenda gurau, termasuk Ara. Ia cepat sekali akrab dengan teman-teman Raka. Ara memang lebih suka bersahabat dengan para pria, karena menurutnya pria tidak suka berbasa-basi dalam bersahabat. Mereka apa adanya. Mereka tidak suka bergosip yang tidak penting. Jika para pria tengah berkumpul, topik pembicaraan yang paling sering mereka bicarakan adalah seputar hobi mereka. Diantaranya adalah musik dan sport. Entah itu basket, bola ataupun climbing. Soal cinta, menurut Ara pria juga tidak suka basa-basi. Kalau suka mereka bilang suka kalau tidak ya tidak. Beda dengan wanita yang suka bergosip. Kadang saling iri-irian terhadap teman sendiri, dan tidak tegas dalam urusan cinta. Meski lebih suka berteman dengan para pria, namun bukan berarti Ara tidak suka berteman dengan para wanita. Ia juga suka. Karena sesama wanita bisa saling tukar pikiran dalam hal fashion, kecantikan, dan juga hal-hal yang berbau kewanitaan yang lain.
Malam hampir larut ketika Ara melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia berbisik kepada Raka bahwa ia ingin pulang. Raka tidak menyahut. Raka malah berdiri dan mengajak Ara masuk ke dalam rumah sebentar. Keadaan di dalam rumah sangat sepi. Tak ada seorang pun kecuali Raka dan Ara. Raka mengajak Ara duduk pada sebuah sofa hijau lumut panjang di ruang tamu. Mereka duduk berhadap-hadapan. Lampu ruang tamu yang tidak terlalu terang membuat mereka agak santai. Ara merasa seakan mimpi bisa duduk berdua dengan Raka. Raka juga seakan tak pernah merasa bosan untuk menatap wajah wanita yang ada di hadapannya itu.
"Aku kangen sama kamu Ra.. Kukira aku takkan pernah bisa berjumpa denganmu lagi selamanya.."
"Sama. Aku juga Ka... Kenapa kamu dulu ninggalin aku tanpa kabar dan berita?"
"Aku kehilangan jejak kamu. Kukira kamu sudah menghilang di telan bumi. Aku di sini bertahun-tahun nunggu kabar dari kamu." Jawaban Raka membuat dada Ara terasa lebih sesak dari sebelumnya.
"Menunggu kabar dariku? Gak salah tuh? Kamu yang menghilang duluan. Dulu kamu bilang setelah dari Jakarta kamu bakal ke Kalimantan datangin aku, tapi setelah itu gak ada kabar apa-apa lagi dari kamu. Aku nunggu kamu, tapi kamu gak datang-datang.. Bertahun-tahun aku nunggu kamu. Sampai pada akhirnya aku nyerah. Kamu gak akan pernah datang.. Aku ngerasa kamu hanya mainin perasaan aku aja. Saat itu kamu telah berhasil membuat perasaanku hancur dan tidak percaya sama yang namanya cinta." Ara ingin sekali menangis saat ia menumpahkan perasaan yang ia pendam selama ini. Matanya berkaca-kaca namun ia masih kuat menahannya.
"Setelah dari Jakarta, aku memang ke Kalimantan. Namun saat itu aku kehilangan nomor teleponmu. Aku sama sekali tidak tahu harus mencarimu kemana. Dalam kurun waktu enam tahun aku terus berusaha mencari kabar dari kamu. Aku beberapa kali bolak-balik Sulawesi-Kalimantan cuma untuk nyari kamu. Namun hasilnya nihil. Kamu seperti telah hilang ditelan bumi. Akhirnya aku juga nyerah. Tidak mungkin bertemu sama mu lagi. Tetapi Allah berkehendak lain. Kita dipertemukan-Nya." Raka mengucapkan itu semua dengan nada yang sedikit gemetar. "Ara, aku sampai sekarang masih menyayangimu seperti dulu. Perasaanku kepadamu masih sama seperti sembilan tahun lalu." Ucap Raka lagi sambil terus memandang mata teduh Ara. Ingin rasanya ia memeluk tubuh gadis itu.
"Sama Ka, aku juga masih sayang sama kamu sama seperti dulu." Ucap Ara dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.
"Ara, boleh tidak aku memelukmu?" Ara mengangguk pelan. Raka kemudian memeluk Ara pelan dan halus namun cukup erat. Ara sedikit terkejut. Tubuhnya menegang. Tidak percaya atas apa yang sedang dialaminya. Namun setelah itu Ara juga mempererat pelukannya terhadap Raka. Ara merasa sangat bahagia bisa memeluk pria yang sangat dicintainya itu lagi.
"Ara, apa kamu punya seseorang di Kalimantan yang telah menempati posisi dihatimu? Tanya Raka sambil menyeka air mata di pipi Ara. Ara menggeleng lemah.
"Gak punya. Sampai saat ini aku belum bisa menemukan sosok pria yang seperti kamu. Beberapa kali aku mencoba menjalin hubungan dan mencoba mencintai pria seperti aku mencintaimu, tapi aku gak bisa. Hanya kamu pria yang sangat kucinta. Meski kamu sangat menyakiti hati aku. Tapi entah kenapa bayangan diri kamu susah dilupakan. Saat ini aku memang telah berhasil sembuh dari lukaku yang dulu, namun hal itu bukan berarti telah membuatku kembali percaya terhadap cinta." Ara tertunduk saat mengatakan itu semua. Hatinya terasa perih jika mengingat kejadian di masa lalu. "Aku yakin kamu sendiri telah mempunyai seseorang. Tidak mungkin pria tampan dan dewasa sepertimu tidak mempunyai someone spesial di hati." Ara menanyakan pertanyaan yang sama seperti yang ditanyakan Raka kepadanya. Dan ia menunggu jawabannya dengan perasaan yang campur aduk.
"Tujuh tahun pencarianku agar menemukanmu tak menghasilkan apa-apa. Keyakinanku yang mengatakan bahwa aku takkan pernah menemukanmu lagi , telah membuatku akhirnya memutuskan menerima wanita pilihan orangtuaku. Kini sudah dua tahun aku berhubungan dengannya." Jawaban Raka membuat dada Ara kembali terasa sangat sakit. Ingin rasanya ia menjerit kuat-kuat. Namun itu semua sangat tidak mungkin dilakukannya. "Namun, apabila kamu mau menerimaku kembali di hatimu, aku ingin kita menjalin hubungan seperti dulu lagi. Aku rela ninggalin dia. Aku memang lagi ada konflik dengan dia. Dan aku yakin sebentar lagi kami pasti akan pisah." Pernyataan Raka barusan membuat Ara tercekat. Ia sama sekali tidak menyangka Raka akan mengatakan hal tersebut.
"Nggak. Aku gak mau merusak hubungan orang lain." Ara menjawab singkat. Otaknya penuh, belum bisa mencerna betul-betul semua yang telah dikatakan Raka.
"Kamu tidak merusak apa-apa. Aku memang mau pisah sama dia Ra." Raka mencoba meyakinkan Ara.
"Selesaikan dulu masalahmu dengan dia. Jika telah selesai, baru kita bicarakan akan kemana kelanjutannya nanti. Untuk saat ini biarlah hubungan kita ini berjalan apa adanya. Biarlah mengalir seperti air. Bila kita memang jodoh pasti takkan kemana. Namun ada satu hal yang harus kamu tahu, bahwa sampai kapanpun aku pasti akan selalu mencintai dan menyayangimu."
Ara menahan sekuat tenaga gejolak yang masih terjadi di dadanya. Raka lalu meraih kepala Ara. Diciumnya lembut kepala Ara. Rambut Ara sangat wangi. Raka menyukainya. Raka pelan-pelan mencium Pipi kanan-kiri Ara. Kemudian beralih secara lembut ke arah kening Ara. Dari kening, Raka lalu mengecup lembut kedua mata Ara. Hidung Ara. Setelah itu Raka mencium bibir Ara dengan sangat lembut. Dicicipinya bibir mungil Ara. Manis dan segar terasa di bibirnya. Raka menyukai rasa bibir Ara.
Jantung Ara berdegup kencang mendapatkan ciuman pertamanya setelah sembilan tahun pisah dari Raka. Ciuman Raka masih sama seperti sembilan tahun yang lalu. Caranya mencium, hangat bibirnya, lembutnya, halusnya dan manisnya masih sama seperti dulu. Ara merasa bahagia sekali. Pangerannya yang hilang kini telah ia temukan. Namun ia masih belum tahu apa ia masih bisa memiliki pangerannya seperti dulu atau tidak. Ia juga tidak yakin akan mendapatkan cinta pertamanya itu kembali. Ara bersyukur saat itu mereka sedang dalam keadaan duduk. Ia tidak bisa membayangkan jika saat mereka berciuman tadi dalam keadaan berdiri, pasti saat itu Ara sudah terjatuh karena lututnya terasa sangat lemas.
Malam sudah larut ketika Raka mengantarkan Ara pulang. Rani menyambut kedatangan Ara di depan pintu rumah bersama dengan Nirina dan Fitria. Ternyata mereka berdua malam ini hendak menginap dirumah Rani. Mereka bertiga berniat mau nyoba begadang sampai pagi. Mumpung besoknya hari minggu, begitu pikir mereka. Ara tidak ikutan. Setelah cuci kaki, tanpa berganti dengan baju tidur Ara langsung merebahkan tubuhnya di kamar. Pikirannya melayang ke kejadian yang baru saja dialaminya. Ciumannya dengan Raka terus terbayang-bayang di pelupuk matanya. Hatinya bahagia. Sangat bahagia. Ara lalu tertidur dengan senyuman di bibirnya
¤
26 April,
Ara terbangun pada Subuh hari. Setelah cuci muka dan sikat gigi serta shalat, Ara beranjak ke ruang tamu. Ternyata Rani, Nirina dan Fitria tak kunjung juga tidur. Mereka bertiga tampaknya masih kuat menahan rasa kantuk yang menyerang. Ara menghampiri mereka, bergabung dengan para wanita ceria tersebut. Di mana saja jika ada mereka bertiga pasti suasana yang semula membosankan berubah menjadi ceria. Mereka bertiga adalah sosok manusia yang penuh canda tawa. Jadi tidak heran kalau Ara hobi mendengarkan para wanita-wanita tersebut bercerita.
Semburat warna kemerah-merahan mulai tampak di ujung kaki langit. Tampaknya sebentar lagi matahari akan terbit. Suasana sunrise di desa itu sangat indah. Ketika cahaya matahari yang masih tampak kemerah-merahan di pantulkan oleh cahaya dari permukaan air laut, maka terbentuklah bayangan matahari beserta cahayanya yang menakjubkan pada permukaan air laut. Membuat pesona sunrise menjadi sangat indah. Apalagi bila di lihat dari arah rumah milik Sandra yang letaknya di atas gunung, suasana sunrise tersebut benar-benar memukau. Sangat mirip dengan suasana sunrise di Kuta Bali.
Saat matahari benar-benar telah menampakkan wujudnya, barulah Rani, Fitria, dan Nirina mulai merasa sangat ngantuk. Mereka kini tak bisa lagi menahannya. Mereka pun kemudian tertidur di depan TV dengan beralaskan sebuah kasur lipat yang cukup besar. Ara juga kembali tertidur bersama mereka. Cahaya matahari pagi yang masuk lewat jendela dan menerpa kaki mereka sama sekali tidak mengganggu tidur nyenyak mereka berempat.
Menjelang siang Ara terbangun. Hanya ada Fitria dan Rani disisinya yang masih tertidur dengan lelap. Tampaknya Nirina sudah pulang kembali ke rumahnya. Ara segera beranjak untuk mandi. Selesai mandi, Ara mendatangi Sandra yang sedang bermain dengan Kayla di teras rumah. Sandra menyampaikan bahwa siang itu mereka semua mendapatkan undangan makan siang di rumah salah satu tetangga Sandra. Semuanya harus datang. Termasuk Ara. Ketika asik berbincang dengan Sandra tiba-tiba ponsel Ara berdering. Ada misscall dari nomor asing. Berkali-kali nomor tersebut hanya me-misscall Ara. Gerah juga Ara jadinya. Ara menelfon nomor asing itu, tapi tidak di jawab. Akhirnya Sandra menyarankan Ara untuk mengirimkan SMS, dan segera Ara laksanakan. Ara dan Sandra berunding tentang apa yang akan di tanyakan pada pemilik nomor asing itu.
"Hai.. ini siapa ya? Sedari tadi ada misscall saya terus ya? Ada apa ya? Ada yang penting?" begitu isi SMS yang mereka kirim. Tak lama SMS balasan pun datang. Mereka membacanya berdua.
"Maaf Adik jika kakak mengganggu. Nama kakak Rizal. Boleh tidak kakak berkenalan dengan Adik?" Jawab si pemilik nomor asing yang ternyata bernama Rizal. Ara kemudian membalasnya.
"Rizal siapa ya? Tahu nomor ponsel saya dari mana?"
"Kakak pernah liat Adik pada acara kawinan keluarga Adik beberapa waktu lalu. Kakak kenal dengan beberapa keluarga Adik." Jawaban si Rizal, membuat Ara dan Sandra tambah penasaran. Ara menanyakan kepada Sandra, apakah kenal sama si Rizal ini? Sandra menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu.
"Oya?" Ara membalas SMS Rizal dengan tidak semangat. Ara malas meladeni SMS dari orang-orang yang statusnya kurang jelas.
"Iya benar. Adik tidak percaya? Kita benar-benar bertemu." Rizal menjelaskan dengan penuh semangat. Ara kali ini tidak membalas SMS dari Rizal tersebut. Dirinya sudah terlanjur malas. Ia kini kembali asik berbincang seru dengan Sandra.
Tak lama Fitria pamit pulang. Tampaknya ia baru saja bangun tidur. Jalannya saja masih sempoyongan. Sandra mengingatkan agar Fitria hati-hati di jalan. Jangan sampai jatuh di tangga. Fitria mengangguk, meng-iyakan. Kemudian muncul Rani, ia tampaknya juga baru bangun. Sandra segera menyuruhnya mandi. Rani menuruti apa kata Sandra tanpa banyak komentar. Ia segera mengambil handuk dan mandi. Setelah itu Sandra mengajak Ara bersiap-siap untuk pergi ke acara makan siang.
Siang itu Ara mengenakan celana stocking panjang warna hitam. Untuk atasannya ia mengenakan baju panjang warna pink dengan motif bunga-bunga, dan dihiasi dengan sebuah pita panjang pada bagian belakang. Ara membawa sebuah tas tangan kecil untuk tempat dompet dan ponselnya. Penampilan Ara cukup sederhana namun menawan. Setelah semuanya siap, merekapun akhirnya pergi.
Ketika mereka sampai di tempat yang di tuju, sudah cukup banyak orang di sana. Ara di sambut cukup baik oleh sang empunya rumah. Ternyata mereka sudah lama tahu tentang kedatangan Ara. Mereka juga mengenal keluarga Ara dengan baik. Hanya Ara saja yang kurang kenal. Ara lama sekali tidak bertemu dengan mereka. Pemilik rumah siang itu menyiapkan dua menu yang cukup mengundang selera, yakni Bubur Manado dan ikan asin, serta ikan bakar, nasi, juga lalapnya. Ara, Sandra dan Rani sangat menikmati menu-menu yang tersedia.
Saat tengah menikmati menu yang dipilihnya, ponsel Ara kembali berdering. Dengan agak susah Ara membuka tas kecilnya dengan tangan kiri. Tangan kanannya penuh dengan bumbu-bumbu ikan bakar. Ara lalu membaca SMS yang tertulis.
"Kamu cantik sekali Dik hari ini dengan baju pink." Bunyi SMS dari Rizal cukup membuat Ara terkejut hingga hampir tersedak. Ara melihat kiri-kanan mencari tahu apakah pria yang mengaku bernama Rizal tersebut berada di ruangan yang sama dengannya. Ara memberi tahu Sandra tentang isi SMS Rizal barusan. Sandra menoleh ke kanan-kiri seperti yang dilakukan Ara sebelumnya. Mencari sosok si empunya nama Rizal.
Tiba-tiba ada SMS masuk lagi ke ponsel Ara.
"Kenapa Dik noleh sana-sini? Bingung nyari kakak ya? Kakak tidak jauh kok dari Adik. Kakak pake baju hitam." Lagi-lagi Rizal mengirimkan SMS kepada Ara. kali ini dengan sedikit petunjuk. Sekali lagi Ara menunjukkan isi SMS tersebut kepada Sandra. Kali ini sepertinya Sandra tengah mencurigai seorang pria sebagai yang bernama Rizal. Ara memperhatikan arah yang di tunjukkan oleh Sandra. Ara melihat seorang pria berbaju hitam, tubuh agak gempal dan berambut cepak. Pria itu tersenyum kepada Ara. Ara balas tersenyum kepadanya. Kemudian Ara kembali menoleh ke arah Sandra. Lalu ia dan Sandra tersenyum-senyum kecil dengan banyak arti. Mereka berdua kemudian meneruskan kembali makan mereka.
Rizal ada di acara tersebut bersama kakak ipar Zahara. Ternyata ia memang sedari dahulu sudah cukup akrab dengan keluarga Zahara. Ia tinggal di desa, namun saat ini ia tengah bekerja di kota. Rizal jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Ara. Ia pertama kali melihat Ara pada saat pernikahan adik Zahara di kota tempo hari. Kecantikan dan keramahan Ara telah membiusnya. Telah lama ia ingin mencari tahu nomor ponsel Ara, tetapi baru kesampaian dikala Zahara nginap di kota pada saat Zahara hendak pulang ke Kalimantan. Ia pun baru hari ini berani menghubungi Ara. Hari ini Ara sangat mempesona bagi Rizal. Ia sangat ingin memiliki Ara. Dan ia juga berharap semoga dengan kedekatannya di keluarga Ara dapat membantunya untuk mendapatkan gadis cantik nan jelita itu. Rizal sangat ingin dapat berbicara langsung dengan Ara. Bahkan kalau ia beruntung, ia ingin sekali dapat berbicara hanya berduaan saja dengan Ara. Rizal sangat tergila-gila dengan Ara. Ia bahkan sering memimpikan Ara menjadi istrinya dan melakukan hubungan intim dengan Ara.
Sandra menyenggol lengan Ara, ia berbisik pelan kepada Ara memberitahukan bahwa Rizal sedari tadi memandang Ara. Sandra berpesan kepada Ara agar ia berhati-hati karena menurut Sandra, Rizal adalah tipe laki-laki yang bakal nekat demi mencapai tujuan yang dia inginkan. Ara mengganggukkan kepala tanda bahwa ia mengerti maksud Sandra. Ia juga memberitahukan kepada Sandra supaya tantenya satu itu jangan terlalu khawatir. Ara berjanji akan lebih berhati-hati dalam menghadapi Rizal.
Selesai makan bersama kini mereka berkumpul di ruang tamu. Ara sengaja mengajak Sandra dan Rani untuk duduk-duduk di teras depan rumah. Ara ingin sedikit menjauh dari Rizal. Ara merasa jengah diperhatikan terus-menerus oleh pria itu. Ara merasa privacynya sedikit terganggu. Rizal mencoba menghubungi Ara tapi selalu gagal. Ia ingin sekali berbincang dengan Ara. Ara sengaja mematikan ponselnya, ia ingin sedikit tenang. Ia ingin terbebas dari SMS-SMS maupun misscall-misscall dari Rizal. Seharian ini ia merasa dirongrong oleh pria itu. Jujur, semua hal itu cukup mengganggu Ara. Tak lama Yessy, adik mamanya Ara yang baru-baru ini juga tinggal di desa tersebut memanggil Ara masuk. Ia ternyata diminta oleh Rizal agar diperkenalkan kepada Ara. Yessy yang memang kenal dengan Rizal dan tidak mengetahui niat Rizal kepada Ara akhirnya benar-benar memanggil Ara masuk ke dalam rumah. Ara yang merasa sedang dipanggil tantenya itu pun menurut ikut masuk. Ara diperkenalkan kepada Rizal. Rizal tampak senang sekali bisa berkenalan sekaligus memegang tangan Ara. Setelah selesai berkenalan, Ara meminta ijin kepada tantenya untuk keluar lagi. Yessy mengangguk. Ara keluar rumah dengan perasaan lega. Sempat dilihatnya sekilas wajah Rizal yang murung, kecewa ditinggal Ara keluar. Namun Ara tidak perduli, ia terus melangkah keluar. Ara dan Rani kemudian ke rumah Fitria yang terletak persis di sebelah rumah yang mengadakan acara. Mereka bertiga duduk-duduk di teras rumah Fitria dan berbincang seru
Tak lama setelah Ara dan Rani berbincang-bincang di teras rumah Fitria, Sandra mengajak mereka berdua pulang. Ternyata acara telah usai. Ara tengah melihat ke arah jalanan ketika dilihatnya Rizal tengah memandangi Ara dari atas motornya. Ara yang tidak ingin di cap sombong oleh Rizal, lantas tersenyum kecil kepada Rizal. Setelah itu Ara lantas dengan perlahan memalingkan mukanya ke tempat lain secara halus. Tak lama Rizal pun berlalu. Sandra, ibunya Rani serta Kayla telah pulang ke rumah duluan. Ara, Rani dan Vanya masih duduk-duduk ditempat Fitria. Mereka bercandaan, tertawa-tawa riang. Ara teringat akan ponselnya yang mati. Cepat-cepat dinyalakannya I-phone-nya itu, ia takut kalau-kalau ada kabar penting dari rumahnya di Kalimantan. Setelah ponselnya nyala kembali, ada beberapa SMS yang masuk, ada dari Ikhsan, Yudi, dan Via. Akan tetapi yang SMSnya paling banyak masuk adalah Rizal, ada sekitar dua puluh lima SMS. Rasanya malas sekali Ara membacanya. SMS-SMS sebanyak itu isinya hanya itu-itu saja. Intinya ingin mengobrol dan jalan bersama Ara. Rizal adalah tipe pria yang sangat agresif. Ara sangat tidak menyukai tipe pria seperti itu. Ia lebih suka pria yang tenang dan sedikit cool. Menjelang Maghrib mereka bertiga pun akhirnya kembali pulang.
Ketika Ara, Vanya, dan Rani tiba dirumah, tiba-tiba listrik padam. Dengan ditemani cahaya lilin di kamarnya, Ara kemudian berganti pakaian dengan yang lebih santai. Celana pendek coklat tua selutut dipadu dengan atasan kaus lengan pendek warna merah marun. Tak lama kemudian ponsel Ara kembali berdering. Zacky menghubunginya. Zacky ingin mengajak Ara makan malam di luar seperti beberapa waktu lalu, tetapi Ara menolaknya dengan halus. Entah kenapa malam ini Ara malas jalan keluar bersama Zacky. Setelah peristiwa sore kemarin, di mana Ara menyadari bahwa Aldo yang notabene adalah teman baik Zacky telah jatuh hati kepadanya. Ara kini memutuskan untuk mulai menjauh dari kedua sahabat karib itu. Ia tidak ingin menghancurkan persahabatan yang telah lama terjalin di antara kedua pria yang sangat baik terhadapnya itu. Beberapa saat kemudian adzan Maghrib pun berkumandang, segera mereka melaksanakan shalat Maghrib berjamaah dengan di bantu oleh penerangan lampu emergency.
Selesai shalat, Rani, Ara, dan Sandra duduk-duduk di teras depan rumah. Mereka bercerita tentang pengalaman hidup masing-masing. Sandra memberikan banyak sekali nasihat-nasihat positif kepada Ara dan Rani. Beberapa saat kemudian, Sandra masuk ke dalam rumah sebentar lalu ia keluar lagi sambil membawa sebuah gitar kesayangannya. Mereka bernyanyi-nyanyi bersama. Saat tengah membawakan lagu yang kesekian, terdengar suara tangisan Kayla dari arah kamarnya. Kayla terbangun karena haus. Sepeninggal Sandra kini gitar berada di tangan Ara. Ara pandai memainkan gitar. semasa masih kuliah dulu Ara pernah belajar gitar secara otodidak bersama dengan temannya yang anggota grup band.
Asyik metik-metik senar gitar, tiba-tiba Rani mengajak Ara main-main ke rumah Shavira. Mereka jalan malam itu dengan hanya bermodalkan dua buah senter mungil seperti biasanya. Seorang pegang satu senter. Di saat melewati kebun pisang, tanpa diperintahkan lagi mereka berdua melangkah secepat mungkin. Jantung Ara seperti dipacu sangking cepatnya ia mengayunkan langkah kaki. Setelah kebun pisang berhasil mereka lewati, langkah mereka berdua perlahan kembali normal, degup jantung mereka pun akhirnya kembali normal. Kini mereka berdua bisa berjalan dengan santai. Saat mereka tiba di rumah Shavira, sudah ada Faiz, Lidya, Fitria dan Shavira tengah duduk-duduk di warung samping rumahnya. Warung yang kalau pagi dipakai buat jualan sarapan, kalau malam-malam begini biasa dijadikan tempat duduk-duduk oleh Shavira dan teman-temannya. Belum sampai beberapa menit mereka berkumpul, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.
"Sudah mati lampu, hujan pula. Pas sekali malam ini, bikin sengsara hati para pemuda yang ingin ngapel ke rumah pacarnya." kata Ara sok puitis, ia bermaksud sedikit menyindir Rani. Rani dan Fadly janjian bertemu di rumah Shavira malam itu. Sedangkan Rani yang tengah disindir Ara, cuek aja. Ia cuma tertawa cengengesan.
Hujan yang mengguyur ternyata hanya sebentar, hanya setengah jam. Begitu hujan reda hati Rani jadi sangat girang. Ara yang sedari tadi membawa gitarnya Sandra, tentu saja dengan seijin Sandra, mulai memainkan gitarnya itu. Ara duduk di atas meja. Kakinya disilangkan seperti gaya perempuan duduk pada umumnya. Dan gitar pun diletakkan dipangkuannya. Ara yang memainkan gitar, lalu teman-temannya yang menyanyikannya. Ara sedang memainkan sebuah lagu ketika ponselnya berdering. Sebelum Ara mengangkat telepon, terlebih dahulu gitarnya diserahkannya kepada Faiz yang juga mahir memainkan gitar. Lalu dijawabnya panggilan masuk tersebut.
"Sayang.. Lagi apa?" Tanya suara dari seberang sana. Suara yang Ara hapal sekali siapa pemiliknya. Siapa lagi kalau bukan suara pujaan hatinya, Raka.
"Baik.. Lagi ngumpul-ngumpul aja nih sama teman-teman di rumahnya Vira. Kalau kamu lagi ngapain? Mau ikutan gabung sama kita-kita kah?" Ara belum berani membalas panggilan "sayang" seperti yang dilakukan Raka barusan, karena ia belum yakin dengan hubungannya dengan Raka.
"Di rumah aja nih, malas kemana-mana. Habisnya sudah mati lampu, terus hujan juga. Tapi kalau Sayang mau kita ketemuan sekarang, aku langsung ke situ saat ini juga." Ujar Raka.
Tawaran Raka sungguh menggiurkan bagi Ara, tapi malam itu ia belum siap bertemu Raka. Kepalanya sedang tidak terlalu baik keadaannya, agak sakit, migrainnya kumat. Apabila ia paksakan untuk bertemu dengan Raka, hasilnya akan sebentar sekali. Sedangkan Ara sangat tidak mau kalau hanya sebentar berdekatan dengan Raka.
Ara tengah asyik menerima telepon dari Raka, saat ia melihat Fadly datang menemui Rani. Sejurus kemudian Rani lalu menoleh ke arah Ara dan menyunggingkan senyum penuh kemenangan di bibirnya. Ara menunjukkan kedua jempol ibu jarinya kepada Rani, sebagai tanda bahwa ia salut dengan kesetiaan Fadly. Ara turun dari meja, kemudian ia pindah tempat ke pojokan agar dirinya bisa bebas berbicara dengan Raka tanpa terganggu keributan yang dilakukan oleh teman-temannya.
"Sayang, besok ketemuan yuk."
"Insya Allah, kalau tidak ada halangan ya." Jawab Ara dengan nada yang biasa. Ia tidak ingin terlalu memberikan harapan terlalu tinggi bagi dirinya sendiri. Ia tidak yakin apa Raka sungguh-sungguh terhadapnya atau tidak. Ara memang sangat hati-hati dengan cinta, meski hal tersebut juga cukup membuatnya sengsara.
"Baiklah, besok kalau jadi hubungi aku ya. Miss you Honey."
"Ya." Jawab Ara datar sambil menyudahi pembicaraan. Migrainnya kini mulai tambah sakit, namun Ara masih sanggup menahannya.
Ara kembali bergitaran lagi dengan teman-temannya. Ia mencoba sedikit melupakan rasa sakit dikepalanya, dan berhasil. Ia tidak terlalu merasakannya. Ara kali ini memainkan lagu yang lumayan melambangkan perasaannya malam itu. Lagunya "Agnez Monica".
"Bukannya aku tak tahu kau sudah ada yang punya..
saat kau bisikkan cinta, ku tahu engkau berdusta.
Namun ku tak mau mengerti, selama kau masih bersamaku,
karena ku suka, ku butuh cinta yang pernah hilang dariku.."
Malam mulai larut ketika mereka bubar pulang ke rumah masing-masing. Fadly diminta Rani untuk mengantarkan mereka pulang, Fadly menuruti permintaan kekasih hatinya itu. Dengan adanya Fadly, Ara dan Rani merasakan kebun pisang tidak lagi menyeramkan. Di sepanjang jalan Rani terus bergelayutan manja di lengan Fadly. Ia ingin sedikit menggoda Ara. Tetapi Ara cuek saja, ia sibuk memetik senar gitar yang di bawanya. Ara pura-pura tidak melihat kelakuan Rani. Sesampainya di rumah mereka bertiga tidak langsung masuk ke dalam rumah, tetapi duduk-duduk dulu di teras sambil cerita-cerita. Setengah jam kemudian listrik kembali nyala, mereka menyambutnya dengan suka cita. Apalagi Vanya, kipas tangan yang sedari tadi dipegangnya langsung dilemparnya, dan dengan sigap segera diraihnya kipas angin yang terletak tak jauh dari dirinya. Dinyalakannya kipas angin tersebut dan diarahkan ke sekililing ruangan. Vanya pun kemudian tertidur lelap di depan kipas angin. Tak lama kemudian Fadly pamit pulang. Ara dan Rani lantas masuk ke dalam rumah lalu cuci kaki, shalat Isya, istirahat, dan tidur.
¤
27 April,
Pagi itu Ara terbangun cukup kaget, dia bermimpi yang kurang menyenangkan. Setelah cuci muka dan sikat gigi, Ara lantas menemui ibunya Rani yang tengah masak air di dapur. Ara kemudian diajak ke pasar oleh ibunya Rani, Ara setuju. Ara lalu berganti pakaian dengan celana pendek jins dan kaus lengan pendek warna kuning lembut. Rambutnya diikat semua. Setelah itu ia segera menemani ibunya Rani dan ikutan pergi ke pasar. Sesampainya di pasar, Ara segera membantu membawakan belanjaan neneknya tersebut. Lumayan banyak sayur dan lauk yang dibeli. Untuk jatah satu minggu katanya. Tak lama setelah semua kebutuhan dapur telah terbeli, mereka lalu pulang. semua sayur dan lauk yang mereka beli tadi langsung Ara masukkan ke dalam kulkas.
Tepat jam sembilan pagi, sarapan telah siap. Rani dibantu Ara yang membuatnya. Mereka menyantapnya bersama-sama. Saat suapan terakhir Ara, ponselnya lagi-lagi berdering. Ternyata Zacky mengirimkan pesan singkat padanya. Zacky ingin mengajak Ara ke pantai. Ara diam saja, ia tidak membalas SMS Zacky. Entah kenapa beberapa hari ini ia malas bertemu dengan Zacky. Ara telah selesai menyuci piring-piring kotor ketika Rizal menelponnya. "Hai Ara, mau tidak nanti malam jalan sama kakak?" Tanya Rizal. Sebenarnya Ara malas menjawab telepon Rizal tersebut, tapi hatinya tiba-tiba tidak tega. Akhirnya dijawabnya lah telepon dari Rizal.
"Mau jalan ke mana?" Tanya Ara, ia enggan berbasa-basi.
"Ke air terjun. Mungkin Adik belum pernah ke sana, pemandangannya bagus sekali." Rizal menjelaskan. Ia sangat ingin pergi berduaan dengan Ara. Siapa tahu ia dapat kesempatan memegang tangan Ara lagi, untung-untung bisa meluk atau cium bibirnya Ara. Harapnya dalam hati.
"Maaf, hari ini aku gak bisa. Ada acara dengan teman-teman. Nggak lama lagi aku balik ke Kalimantan, jadi teman-teman sering bikin acara buat aku." Jawab Ara. Ia sengaja berbohong sedikit. Ia tidak mau memberikan Rizal harapan dan kesempatan lebih. Ia sangat menjaga jarak dengan pria itu. Sebisa mungkin ia berupaya untuk tidak berurusan dengan pria agresif itu.
"Ya sudah kalau begitu. Tidak apa-apa. Lain kali saja. Siapa tahu Adik Ara bakal kesini lagi. Tetapi nanti apabila sudah tiba di Kalimantan jangan lupa menghubungi kakak ya.. Kakak akan selalu menunggu kabar dari Adik Ara.." Ucap Rizal. Sebenarnya ia kecewa karena harapannya untuk bisa jalan-jalan berduaan dengan Ara gagal, tetapi ia tidak ingin menunjukkan kekecewaannya itu kepada Ara. Ia ingin terlihat sebagai sosok yang tegar, optimis dan sabar bagi Ara.
"Bisa di atur." Ujar Ara singkat. Ia sama sekali tidak berminat menanggapi semua omongan Rizal. Semua yang didengarnya hanya masuk dari kuping kanan dan keluar dari kuping kirinya.
"Dik, kakak dengar-dengar Adik lagi dekat dengan Zacky ya?" Tanya Rizal kemudian yang cukup membuat Ara terusik.
"Iya, kenapa?" Tanya Ara heran. Ia sama sekali tidak mengerti Rizal tahu dari mana soal itu.
"Kalau Adik hanya berteman dengan Zacky, tidak apa-apa. Tetapi jika lebih dari teman sebaiknya jangan. Karena setahu kakak, Zacky itu sudah punya pacar. Kakak tidak mau kalau Adik sampai terluka gara-gara Zacky. Kakak tahu Adik sudah besar dan bisa menilai mana yang baik dan mana yang tidak. Kalau dengan kakak, Adik pasti bahagia. Kakak jamin itu." Penjelasan Rizal yang panjang lebar sungguh-sungguh membuat Ara semakin terusik. Ia agak tidak percaya terhadap kata-kata Rizal.
"Aku dengan Zacky hanya berteman biasa. Tidak lebih. Kakak gak usah khawatir dengan aku. Ini hidup aku. Aku mengerti benar apa yang terbaik untuk diri aku. Oia, thanks atas informasinya. Bye." Ara menghentikan pembicaraan. Ia sedikit shock mendengar kabar tersebut. Diam-diam Ara berterima kasih kepada Rizal karena telah memberikan informasi yang cukup berharga baginya. Namun kata-kata terakhir Rizal sangat mengagetkannya. Secara tidak langsung Rizal menyiratkan maksud hatinya kepada Ara. Dan Ara pun tambah ingin menarik diri lebih jauh dari pria yang bernama Rizal itu.
Usai menelaah kata-kata Rizal barusan, Ara segera menghubungi Shavira. Ia hendak menanyakan kejelasan kabar tersebut. Shavira kan teman dekat Zacky, ia pasti tahu apa benar saat ini Zacky sudah punya pacar atau belum. Shavira baru saja pulang dari sekolahnya ketika Ara menghubunginya. Ara segera menanyakan kebenaran berita tersebut kepada gadis remaja berambut panjang itu.
"Benar Kak, dia memang sudah punya pacar. Vira tahunya juga barusan. Ada teman Vira yang kasih tahu. Rencananya nanti malam Vira baru mau kasih tahu Kak Ara." Jawaban Shavira membuat Ara terhenyak. Ia bersyukur tidak sampai berhubungan terlalu dekat dengan Zacky.
"Sudah berapa lama jadiannya?" Tanya Ara kemudian. Ia ingin mencari kabar sejelas-jelasnya agar ia yakin tindakan apa yang akan dilakukannya.
"Dengar-dengar sih sudah setahunan lebih Kak. Pacarnya itu tidak cantik Kak, ia juga tidak pernah sekolah. Buta huruf. Jadi Zacky sering selingkuhi pacarnya itu." Shavira menjelaskan dengan semangat empat puluh lima. Shavira senang sekali bila berbicara dengan Ara. Shavira menyukai kepribadian Ara. Ia cukup bangga dengan kakak sepupunya itu.
"Loh kalau memang begitu, kenapa Zacky mau jadian selama itu sama pacarnya?"
"Soalnya Zacky dikasih "guna-guna" sama ceweknya itu Kak. Kebetulan ibu si cewek itu pintar "guna-guna". Si cewek itu suka sekali dengan Zacky, lelaki tampan dan kaya. Akhirnya Zacky termakan "guna-guna" perempuan itu. Semua teman-teman dan keluarga Zacky tahu kalau dia kena "guna-guna", tetapi Zacky selalu tidak percaya apabila dikasih tahu kebenarannya tersebut. Zacky sebenarnya sangat suka sama Kak Ara, tetapi ia tidak bisa memisahkan diri dari perempuan itu." Penjelasan Shavira membuat Ara terkaget-kaget. Setelah Ara mengerti apa yang telah terjadi, Ara memilih untuk benar-benar menjauhi Zacky.
Ia tidak ingin terlibat lebih jauh dengan pria itu. Meski Zacky sangat menyukainya, tetapi Ara tidak cukup berani berurusan dengan yang namanya "guna-guna".
Ara tengah mengecek email-email melalui laptop mungilnya ketika menerima panggilan masuk di ponselnya. Ternyata Rinto yang menghubunginya. Rinto memberitahukan kepada Ara bahwa tadi pagi saat mau berangkat kerja, ia bertemu Raka. Raka menitip pesan padanya untuk memberitahukan kepada Ara bahwa nanti malam, Raka rencananya mau datang ke tempat Ara. Raka minta supaya Ara tidak pergi kemana-mana. Ara menjawabnya dengan sangat antusias, ia berjanji tidak akan pergi kemana-mana. Setelah Rinto selesai berbicara dengannya, Ara tersenyum-senyum sendiri. Tidak sabar menunggu nanti malam.
Sore itu tanpa disangka-sangka, hujan mulai turun membasahi bumi. Udara dingin perlahan-lahan masuk dari jendela. Makin lama hujan makin deras, pintu dan jendela pun akhirnya ditutup biar air hujan tidak terbawa masuk oleh angin. Udara yang dingin membuat Ara terlena. Perlahan-lahan matanya mulai mengantuk, tetapi dicobanya menahan rasa kantuk tersebut. Ia tidak terlalu suka tidur siang, karena setiap habis tidur siang Ara selalu merasa tulang-tulangnya disekujur badan sakit. Kecuali saat ia tengah dilanda keletihan. Ara kemudian berbincang-bincang dengan ibunya Rani yang sedang menjahit pakaian di ruang tamu. Ara disuruhnya berdiri didekatnya, lalu badan Ara mulai diukurnya. Saat Ara menanyakan mau dibuatkan baju apa, neneknya itu hanya tersenyum dan mengatakan "Kita lihat saja nanti." Ara dan neneknya pun tertawa kecil.
Maghrib telah berlalu, tetapi hujan belum berhenti. Ara mulai merasa khawatir. Jika hujan belum berhenti sampai Isya, ia takut kalau Raka sampai tidak jadi datang. Tetapi segera ditepisnya perasaan khawatirnya tersebut. Ia tetap berusaha optimis. Ia berdo'a supaya hujan berhenti dan Raka bisa datang menghampirinya. Ara masuk ke dalam kamarnya. Ia kemudian mulai memilih-milih baju apa yang akan dipakainya, ia ingin terlihat cantik malam ini. Akhirnya ia memilih mengenakan celana jins selutut warna biru dan kaus T-shirt warna putih dengan tulisan "Billabong" biru di dadanya. Ia kemudian memakai kalung unik berwarna biru. Rambutnya sengaja digerainya dan dihiasi dengan sebuah bandana yang juga berwarna biru.
Perasaan Ara makin bertambah cemas ketika hujan belum juga berhenti, padahal adzan Isya sudah dari beberapa menit yang lalu berkumandang. Ara duduk memeluk lutut di lantai teras depan rumah. Ia memandang ke atas, ke arah langit, tak tampak satu pun bintang di atas sana. Ia memohon kepada Allah agar diperkenankan bertemu dengan Raka malam ini. Jujur dari lubuk hati yang paling dalam, ia sangat rindu dengan kehadiran Raka disisinya.
Diliriknya jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya, pukul 20.35. Tidak tahu mengapa ia merasa bahwa sepertinya malam itu Allah tidak mengijinkan ia bertemu dengan Raka. Ara terus tertunduk sambil memeluk lututnya dan menahan sesak didadanya, sesak oleh rasa kangen.
Hujan belum juga reda saat Ara mendengar suara langkah kaki seseorang di bawah anak tangga. Degup jantung Ara berdetak kencang. Ia deg-degan menanti si pemilik langkah kaki muncul di depan matanya. Ia berharap Raka lah pemilik langkah kaki tersebut. Akhirnya sang pemilik langkah kaki tiba di hadapan Ara. Sungguh kecewanya hati Ara, ketika kenyataannya Fadly lah pemilik langkah kaki itu. Ara kemudian masuk ke dalam rumah memanggil Rani. Diam-diam Ara benar-benar salut sama kesetiaan Fadly kepada Rani yang rela hujan-hujan deras begini datang mengunjungi Rani dengan hanya bermodalkan sebuah payung. Ara yakin karena letak rumah keduanya yang berdekatan lah yang membuat Fadly bersemangat nekat menerobos hujan.
Fadly dan Rani duduk berduaan di pojok teras. Ara meminta ijin kepada mereka berdua untuk ikut duduk di teras tersebut. Ara tidak ingin mengganggu keduanya. Mereka berdua memberikan ijin kepada Ara. Fadly dan Rani sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran Ara di dekat mereka. Fadly dan Ara sudah cukup akrab. Fadly sudah menganggap Ara sebagai calon keponakannya, dan Ara juga sudah menganggap Fadly sebagai calon pamannya. Tak lama Ara masuk sebentar kedalam rumah, ia ingin memberikan kesempatan kepada kedua pasangan yang sedang kasmaran tersebut untuk berduaan saja. Ara sangat mengerti ada kalanya pasangan kekasih membutuhkan waktu berduaan saja dengan pasangannya untuk saling menunjukkan rasa sayang kepada pasangannya tersebut.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang lima belas menit. Ara mencoba menghubungi Raka, tetapi ponsel Raka sedang tidak aktif. Ia mencoba menghubungi Rinto, kali ini tersambung. Ara lalu menanyakan kepada Rinto apakah pemuda itu tahu mengapa ponsel Raka tidak bisa dihubungi. Tetapi ternyata Rinto tidak mengetahuinya. Hujan deras malam itu membuat Rinto batal mengunjungi Raka. Raka juga tidak ada menghubunginya. Setelah mendapatkan penjelasan singkat dari Rinto, Ara lalu menutup telponnya. Setelah itu ia meminjam gitar milik Sandra dan memainkannya di teras, tentu saja sebelumnya ia telah permisi terlebih dahulu kepada Rani dan Fadly. Ara baru saja hendak memetik tali senar pada gitarnya saat dering ponselnya berbunyi, dari Raka. Ara kemudian masuk kembali ke dalam rumah dan menuju dapur. Ia mencari tempat yang tenang buat berbicara dengan Raka.
"Sayang, maaf aku malam ini tidak jadi ke tempatmu. Hujan di sini deras sekali. Mobilku sedang dipakai ibuku ke kota. Mau pakai motor tidak mungkin Sayang, hujan sangat deras. Anginnya juga sangat kencang. Aku minta maaf sekali. Aku rindu kamu." Kata-kata Raka membuat Ara ingin menangis. Ia benci, sebal, marah, kecewa, sekaligus sangat-sangat-sangat kangen terhadap Raka.
"Gak apa-apa. Hujan malam ini memang sudah kehendak Allah. Mungkin memang belum saatnya kita berjumpa malam ini. Semoga besok hari kita diijinkan untuk ketemu." Meski Ara kecewa Raka tidak jadi datang, namun ia bisa memahaminya. Hujan deras sekaligus angin yang cukup kencang membuat Raka batal mengunjunginya. Andai saja rumah Raka dekat sini seperti halnya rumah Fadly, Ara yakin Raka pasti akan datang menemuinya. Seperti halnya Fadly.
"Terima kasih ya Sayang atas pengertiannya. Semoga Allah mengijinkan kita ketemu besok. Jika besok malam tidak ada halangan, aku datang ke rumahmu. Aku sangat rindu sama kamu." Raka benar-benar jujur saat mengatakan perasaan kepada Ara. Meski saat ini masih ada seorang wanita yang berstatus kekasihnya, tetapi itu semua tidak dapat membuatnya memungkiri bahwa ia memang telah jatuh cinta untuk yang kedua kalinya kepada dara cantik nan lembut bernama Maura. Raka benar-benar tidak ingin kehilangan Ara untuk yang kedua kalinya.
Setelah pembicaraannya dengan Raka selesai, Ara kembali ke teras dan memetik gitar. Kali ini ia memainkan sebuah lagu berirama pelan. Ara mengiringi petikan gitarnya tersebut dengan alunan suaranya yang cukup merdu. Rani dan Fadly terpana mendengar kemerduan suara Ara. Mereka berdua sama sekali tidak percaya kalau Ara mempunyai suara semerdu itu. Setelah Ara menyanyikan lagu yang selanjutnya barulah mereka berdua percaya. Tak lama kemudian Sandra juga muncul di teras, mereka berempat bernyanyi bersama-sama. Setelah memainkan beberapa lagu Ara merasa lelah, lalu ia pamit masuk ke kamar lalu tidur.
¤
28 April,
Pagi ini Ara terbangun saat Sandra sedang menyiapkan sarapan buat Vanya. Ara berinisiatif untuk membantu Sandra. Kali ini Sandra membuat nasi goreng kornet dan dilengkapi dengan telur mata sapi. Ara ternyata mendapatkan jatah juga, sebagai ungkapan terima kasih Sandra. Setelah sarapan, Ara kemudian mengambil beberapa buah pakaian kotornya lalu mencucinya. Sebenarnya di rumahnya di Kalimantan, Ara telah terbiasa menggunakan mesin cuci. Tetapi berhubung di rumah Sandra tersebut tidak mempunyai mesin cuci baju, maka ia pun mencucinya dengan cara manual. Ara sama sekali tidak merasa kesulitan dengan cara manual seperti itu, karena sedari dirinya masih kecil ibunya telah membiasakan Ara beserta adik dan kakaknya untuk hidup mandiri. Cuci baju manual, cuci piring, cuci sepatu sekolah, memasak serta menyetrika pakaian.
Pukul setengah sepuluh, Faiz datang ke rumah Rani. Ia ingin mengajak Ara menemaninya ke pasar. Rencananya ia ingin membeli beberapa barang keperluannya. Setelah Ara mandi dan berganti pakaian, T-shirt pas badan warna pink dan celana pendek jins warna biru buram. Ara telah siap. Mereka berdua pergi ke pasar dengan menggunakan sepeda motornya Faiz. Tak sampai lima belas menit, mereka berdua kini telah sampai. Faiz langsung mengajak Ara ke kios kecil langganannya. Tak lama kemudian Faiz telah selesai membeli semua keperluannya. Mereka berdua segera beranjak menuju tempat parkir. Saat mereka hampir tiba di parkiran, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Ara. Suara seorang wanita. Ara dan Faiz sama-sama menoleh ke pemilik sumber suara tersebut. Ternyata Nia, tetangga Shavira.
Sembilan tahun lalu saat Ara datang ke desa tersebut, Nia lah sahabat pertamanya Ara. Nia membawanya kemana-mana. Nia mengenalkan Ara ke teman-temannya. Nia pula lah yang mengenalkan Raka kepada Ara. Istilah jaman sekarangnya Nia adalah "Mak Comblangnya" Ara dan Raka. Kini semua telah berbeda, Nia sudah menikah dan mempunyai seorang anak laki-laki yang sudah mulai beranjak besar. Kini Nia sudah tidak mempunyai waktu luang lagi untuk bersama Ara. Ia kini sibuk mengurus rumah tangganya serta membantu suaminya mencari nafkah dengan cara berjualan makanan ringan di pasar.
Ara dan Faiz kemudian menghampiri Nia. Nia menawari mereka beberapa dagangannya. Nia hendak memberikannya cuma-cuma kepada mereka berdua, tetapi Ara dan Faiz merasa tidak enak kalau gratisan. Sedangkan mereka tidak membawa duit lebih dari rumah tadi. Ara dan Faiz berusaha menolak tetapi Nia tidak mau. Ia terus berusaha menawari Ara dan Faiz. Akhirnya dengan sedikit sungkan Ara dan Faiz pun menerima tawaran Nia tersebut. Ara dan Faiz senyum-senyum sendiri saat menyantap makanan kecil buatan Nia. Mereka mencoba menutupi rasa makanan yang agak kurang sedap di lidah mereka. Mereka berdua cepat-cepat menghabiskan makanan tersebut biar bisa cepat pulang. Ketika Nia melihat makanan Ara dan Faiz mulai habis, ia berniat untuk menambahkannya lagi. Tetapi segera di cegah oleh Ara, ia mengatakan mereka berdua harus segera pulang karena ada kerjaan di rumah yang belum selesai. Nia mengangguk meski tergurat raut kekecewaan di wajahnya. Ara bersyukur dalam hati Nia memberikan ijin mereka pulang. Karena jujur, Ara sama sekali tidak sanggup untuk memasukkan makanan kecil buatan Nia lagi ke dalam mulutnya.
Ara tiba di rumah menjelang siang. Faiz setelah mengantarkan Ara pulang, langsung balik ke rumahnya. Ia berterima kasih kepada Ara karena telah bersedia menemaninya. Ara juga balas berterima kasih kepada Faiz karena telah bersedia mengajaknya untuk jalan-jalan ke pasar. Setelah membantu Rani menyiapkan makan siang, Ara kemudian menyantap makanan yang telah siap di atas meja makan itu beramai-ramai dengan Rani dan Sandra. Sedangkan ibunya Rani sedang ke kota. Selesai makan, Ara lalu membuka laptopnya kembali. Kali ini Ara ingin mengecek jejaring sosial miliknya. Empat jam lamanya Ara berkutat dengan laptopnya.
Sore hari, tak lama setelah Ara selesai mematikan laptop, Rani mengajaknya untuk jalan-jalan ke rumah Nirina. Rani mengajak Ara menikmati es kacang milik Nirina. Ara langsung setuju. Tak sampai sepuluh menit berjalan, mereka telah sampai di rumah Nirina. Ara masuk ke dalam rumah Nirina. Dilihatnya Faiz tengah tertidur di depan televisi dengan hanya beralaskan ambal. Faiz adalah adik Nirina. Ara kemudian keluar lagi setelah ia mendengar namanya di panggil oleh Rani. Rupanya es kacang milik Ara sudah tersedia. Ara dan Rani sangat menikmati es tersebut. Es kacang buatan Nirina memang sangat lezat. Menjelang Maghrib mereka lalu pulang.
Adzan Maghrib baru saja berlalu ketika tiba-tiba terdengar suara petir yang sangat nyaring di luar rumah. Hati Ara langsung ciut mendengarnya. Ia berdoa semoga hal-hal yang tidak diinginkannya tidak terjadi. Ara lalu beranjak menghubungi ponsel Raka, tersambung. Ara menanyakan apa Raka jadi datang malam ini. Raka mengatakan akan datang jika tidak hujan. Ara lega mendengar penjelasan Raka. Ia berdoa semoga malam itu tidak turun hujan. Setelah menelpon Raka, Ara kemudian mengecek pesan-pesan yang masuk ke ponselnya. Ada dari Via satu SMS, Rizal lima belas SMS dan dari Zacky lima SMS. Ara hanya berniat membalas yang dari Via saja, sedangkan SMS-SMS dari Rizal dan Zacky selesai dibacanya ingin langsung di hapusnya.
Sebenarnya inti dari semua SMS Rizal dan Zacky sama, yakni mengajak Ara keluar malam ini. Tapi Ara sama sekali tidak berniat menanggapinya. Rizal dan Zacky mempunyai kesamaan, yakni sama-sama ingin Ara jauhin. Setelah beberapa menit memerhatikan tumpukkan SMS-SMS tersebut, lubuk hati Ara mendadak merasa tidak tega menelantarkan SMS-SMS Rizal dan Zacky. Akhirnya dibalasnya juga SMS kedua pria tersebut dengan sekali kirim. SMS balasan Ara tersebut berisi pernyataan maaf tidak bisa memenuhi permintaan mereka karena cuaca malam itu yang tidak memungkinkan. Ara sedikit berbohong menutupi kata hatinya yang sebenarnya. Tapi tak apalah, berbohong demi kebaikan itu tidak apa-apa, pikirnya
Jam di dinding menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit ketika Ara berganti pakaian dengan celana stocking panjang warna hitam dan atasan agak panjang warna biru muda dengan garis-garis menurun warna hijau muda lengan pendek. Rambutnya panjangnya di biarkan tergerai, hanya bagian poninya saja yang di sisirnya ke atas semua dan dijepit dengan jepitan mungil warna biru muda. Ara memakai sedikit bedak, lipstick merah muda, dan blush-on merah muda. Simple, natural namun sangat mempesona. Setelah merasa cukup puas dengan tampilannya malam itu, Ara kemudian melangkah ke arah teras. Langit sangat gelap, angin cukup kencang, dan beberapa kilatan petir di daerah yang tak jauh dari tempat Ara kini berada. Ara berharap-harap cemas. Ia berdoa sungguh-sungguh didalam hati, semoga malam ini rencana dia dengan Raka tidak batal. Ia berdoa semoga Allah memberikan restunya malam ini. Ara menunggu kedatangan Raka dengan perasaan kacau balau.
Tak lama Ara duduk-duduk di teras, Fadly datang. Kedatangan Fadly menemui Rani cukup membuat perasaan Ara sedikit cemburu. Ia cemburu dengan kesetiaan Fadly kepada Rani. Andai saja Raka seperti Fadly, single dan jarak rumah yang sangat dekat, tentu akan membuat Ara sangat bahagia. Tetapi kenyataannya tidak begitu, Raka bukan pria single, sudah ada wanita disampingnya yang walaupun menurut Raka tidak dicintainya. Raka terpaksa bersama wanita itu. Mereka sebentar lagi akan pisah. Tetapi itu semua tetap membuat suatu kesimpulan bahwa Raka bukan seorang pria yang berstatus single.
Nun jauh di sana, seorang pria tampan sedang duduk di beranda rumahnya menatap ke arah angkasa yang sedang menumpahkan semua airnya dengan deras di sertai dengan sambaran kilat dan angin yang cukup kencang. Pria tersebut, Raka, hatinya sedang kacau, resah, dan galau. Ia sangat ingin bertemu dengan wanita pujaannya. Wanita yang selama ini sangat dicintai dan disayanginya. Walau saat ini ia telah bertunangan, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk mendapatkan kembali cinta dari kekasihnya yang pernah hilang darinya selama bertahun-tahun itu.
Raka dan wanita tunangannya tersebut bersama-sama karena di jodohkan orangtuanya. Raka putus asa kehilangan Ara, akhirnya menerima perjodohan tersebut. Kini mereka telah bertunangan. Raka dan wanita tunangannya itu sering sekali bertengkar. Banyak sekali ketidak cocokan diantara mereka berdua. Sudah berkali-kali Raka mencoba memahami dan mengikuti kemauan wanita tunangannya itu, tetapi tetap saja pertengkaran demi pertengkaran tidak bisa terhindarkan. Setelah bertemu kembali dengan Ara, Raka kemudian teringat kembali dengan cerita indah cinta mereka. Ia dan Ara begitu cocok. Hari-hari cinta mereka penuh dengan keromantisan, sajak-sajak cinta. Hati mereka yang bercinta membuat dunia mereka penuh dengan senandung lagu cinta.
Ara melirik jam di pergelangan tangan kirinya, 09.00. Hujan sudah mulai turun, tetapi Raka belum juga datang. Jangankan datang, kabarnya saja tidak ada. Raka tidak ada meng-SMS ataupun menelponnya. Hati Ara sangat kecut. Ara masuk ke dalam rumah, melewati ruang tamu hendak mengambil gitar ketika secara tidak sengaja ia melihat Fadly dan Rani sedang bercumbu mesra. Ara merasa kikuk sendiri. Ia cengar-cengir sambil kemudian mempergegas langkahnya melewati kedua sejoli yang sedang tersipu malu tersebut. Setelah gitar diperolehnya, Ara kemudian melanjutkan duduk di teras sambil memainkan gitar. Ia menyanyikan sebuah lagu milik "BCL" yang mencerminkan perasaannya malam itu.
"Sedetik menunggumu di sini seperti seharian,
Berkali ku lihat jam di tangan demi membunuh waktu,
Tak ku lihat tanda kehadiranmu yang semakin meyakiniku..
Kau tak datang.."
Ara menyanyikan lagu tersebut dengan penuh penghayatan. Ia yakin dalam hati Raka tidak jadi datang malam ini.
Waktu terus berlalu, Ara telah banyak memainkan sejumlah lagu ketika diliriknya lagi jam di pergelangan tangannya. Pukul 22.45. Raka benar-benar tidak datang. Ara ingin rasanya menangis. Ia sangat kecewa. Ternyata malam ini ia kembali tidak diijinkan bertemu dengan Raka. Untuk terakhir kalinya pada malam itu Ara mencoba menghubungi Raka, tetapi ponsel Raka tetap tidak bisa dihubungi. Dalam kekecewaan yang sangat dalam, Ara kembali masuk ke dalam rumah. Ia ingin cepat-cepat tidur dan melupakan malam yang mengecewakan tersebut. Saat melewati ruang tamu, kembali Ara disugguhkan pemandangan yang membuat miris hatinya. Fadly yang saat itu berpamitan hendak pulang sedang mencium kening Rani dengan sangat romantis. Hati Ara makin perih. Ia lalu masuk ke kamar, ganti pakaian, lalu tidur.
¤
29 April,
Ara terbangun Subuh hari dengan kepala yang agak berat. Ia melangkah gontai menuju kamar mandi. Air yang dingin cukup membantu Ara menjadi lebih segar ketika melaksanakan ibadah shalat Subuh. Selesai beribadah dan membaca kitab suci Al-Qur'an, Ara merasa hatinya begitu tenang, damai, dan tenteram. Seolah gundah yang selama ini berkecamuk dihatinya hilang seketika ke negeri antah berantah. Ara yakin kemuliaan kitab suci agamanya itu lah yang bisa membuat perasaannya sedamai itu. Tanpa disadarinya, air mata Ara jatuh terurai saat dirinya sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an tersebut. Setelah cukup lama membaca kitab suci, Ara merasa lelah. Ia mengantuk. Ia kemudian kembali berebah lalu tertidur.
Pukul sembilan pagi, Ara baru terbangun. Rasa sakit di kepalanya sangat mengganggunya. Setelah memakan sedikit kue untuk mengganjal perutnya, Ara lantas minum obat sakit kepala. Peraturan cara pakai obat sakit kepala itu memang sangat mengharuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum minum obat. Kali ini Ara merasa obat sakit kepalanya bereaksi lebih lambat dari biasanya. Kepala Ara seperti ditusuk-tusuk paku. Sangat sakit, sehingga membuat bola matanya seperti mau keluar. Selang dua puluhan menit barulah rasa sakit tersebut berangsur-angsur mereda. Ara sekarang sering sekali merasakan rasa sakit pada kepalanya. Kemarin-kemarin ia tidak terlalu sering sakit kepala, dan rasa sakitnya pun biasa-biasa saja. Ara malah jarang minum obat bila sakit kepalanya muncul. Tapi kini, rasa sakit tersebut mulai sering menyerangnya. Rasa sakitnya pun mulai tidak bisa ditahannya tanpa meminum sebuah obat sakit kepala.
Mamanya Ara sudah berulang kali menyuruhnya untuk memeriksakan kepalanya tersebut ke dokter, namun Ara tidak pergi-pergi juga. Jika ditanya mengapa ia tidak mau memeriksakan kepalanya ke dokter, Ara hanya menjawab enteng "Palingan juga cuma sakit kepala biasa Ma."
Ara sedang baring-baring di sofa ruang tamu ketika Rani datang menghampirinya. Sakit kepala yang tadi menyerang Ara kini sudah cukup berkurang. Rani menyampaikan kabar yang cukup menyentakkan Ara, bahwa mereka semua, termasuk Ara, dalam dua hari lagi akan kembali pulang ke Kalimantan. Ara shock mendengarnya. Ia belum mempunyai banyak kesempatan untuk bertemu dengan Raka. Masih ada banyak hal yang harus ia bicarakan bersama pria tersebut. Tiba-tiba Ara menjadi sangat sedih dan ingin sekali menangis. Ara menoleh ke arah Rani, dilihatnya Rani juga sedang termenung. Rani juga sedih saat harus menerima kenyataan akan berada sangat jauh dari Fadly.
Ara bergegas mengambil ponselnya yang sedari tadi dibiarkannya tergeletak disampingnya. Segera dikirimnya pesan ke nomor telepon seluler milik Raka.
"Raka, dua hari lagi aku akan balik ke Kalimantan." Ara mengetik pesan tersebut dengan jantung yang berdetak kencang serta tangan yang sedikit gemetar. Tak lama terdapat jawaban SMS dari Raka.
"Jangan bercanda gitu dong Sayang." Raka sama sekali tidak percaya kata-kata Ara.
"Aku tidak bohong Raka. Dua hari lagi aku akan pulang ke Kalimantan. Dan aku gak tahu kapan akan ke sini lagi." Ara menjelaskan kepada Raka. Jantungnya berdetak sangat kencang. Ara merasa matanya mulai memanas, ia ingin menangis.
"Kalau begitu nanti malam kita harus ketemu. Aku jemput Sayang habis Maghrib."
"Baik. Ku tunggu." Ucap Ara mengakhiri pembicaraan. Ara menunduk. Ia menahan air matanya yang sangat ingin keluar. Mengapa waktu berjalan begitu cepat? tanya Ara di dalam hati.
Ara beranjak ke dapur untuk mengambil air minum. Ia ingin membasahi tenggorokannya yang terasa sangat kering. Sakit kepalanya kini telah hilang berganti dengan rasa sedih yang sangat dalam karena akan berada jauh sekali dari Raka. Ara melihat Rani yang sedang duduk termenung di lantai dapur, ia memandang keluar, matanya kosong. Terlihat jelas bahwa pikirannya sedang kacau balau saat ini. Ara sedang tidak ingin mengganggu Rani. Ia kemudian kembali masuk ke dalam kamar, berbaring. Ia meletakkan sebuah bantal di atas wajahnya. Air matanya tumpah di bantal. Hatinya yang pilu sedikit demi sedikit dapat terobati. Tak lama ia pun tertidur.
Jam dua siang Ara terjaga dari tidurnya. Hati Ara kembali perih apabila mengingat bahwa sebentar lagi ia akan berada sangat jauh dari Raka. Air mata Ara kembali mengalir. Ia masih sangat ingin merasakan pelukan dan ciuman Raka. Ara belum ingin berada jauh dari Raka. Dari lubuk hati yang paling dalam, Ara memohon kepada Tuhannya. Apabila Raka memang untuknya, mohon didekatkan, namun apabila Raka bukan untuknya, mohon dijauhkan dari sekarang. Sebelum Ara terlanjur mencintainya lebih dalam lagi.
Sore itu Ara ingin menghibur hatinya, ia mengajak Rani keluar sebentar untuk makan bakso. Rani setuju. Mereka berdua kemudian makan bakso di depan masjid besar. Ara memesan dua porsi bakso dan dua es teh manis untuk dirinya dan juga Rani. Saat sedang makan, ponsel Ara berbunyi. Ada SMS dari Via yang menanyakan apa kabar Ara. Ara tidak menjawabnya. Ternyata bukan hanya ada SMS baru masuk dari Via saja, tetapi juga ada Yudi, Ikhsan, Zacky, dan Rizal. SMS-SMS dari mereka semua tidak yang Ara balas. Ara sedang tidak bersemangat untuk membalas SMS-SMS ataupun telepon-telepon yang masuk. Semangatnya seolah telah menguap setelah Rani memberitahukan kabar kepulangan mereka.
"Apa tidak bisa di undur Ran pulangnya?" Tanya Ara kemudian. Ia masih sangat berharap ada kabar baik yang bisa sedikit melegakan perasaannya.
"Tidak bisa Ra. Sandra sudah memutuskan kita semua kembali ke Kalimantan dalam dua hari lagi." Jawab Rani sambil menggelengkan kepalanya. Ara pun kembali tertunduk lesu menatap semangkuk bakso yang ada di hadapannya. Ara sama sekali tidak mempunyai nafsu makan. Namun meskipun Ara sama sekali tidak mempunyai nafsu makan, tetap saja Ara berusaha untuk menghabiskannya. Sedari kecil Ara selalu di didik untuk tidak boleh menyia-nyiakan makanan. Karena makanan adalah rejeki dari Allah.
Sebenarnya Ara bisa saja tetap berada di desa tersebut sementara Rani dan keluarganya kembali ke Kalimantan. Soal pekerjaannya tidak jadi masalah karena ia selalu tetap mengerjakan pekerjaannya selama di desa tersebut melalui laptop kesayangannya. Ia tetap bisa berhubungan face to face dengan para klien melalui fasilitas webcam yang juga tersedia di laptop miliknya, dan tentu saja juga di lengkapi dengan earphone agar ia juga tetap bisa komunikasi dengan para klien ataupun rekan kerjanya. Yang membuat Ara tidak bisa tetap tinggal ialah, bahwa ia sudah berjanji kepada mamanya kalau ia akan kembali ke Kalimantan bersama dengan Rani dan keluarganya. Ara tidak ingin membuat mamanya khawatir apabila ia berada di desa tersebut sendirian. Ia tahu mamanya suka khawatir dengan sakit kepala yang di deritanya. Selesai makan, mereka berdua langsung pulang.
Mereka tiba di rumah pukul setengah lima sore. Ara langsung membantu Sandra untuk menyiapkan makan malam. Ara ingin mencari kesibukan agar ia dapat mengalihkan pikirannya sedikit. Setelah selesai membantu Sandra, Ara kemudian bergegas mandi. Ia mau mendinginkan serta menjernihkan kepalanya yang terasa panas. Tak lama selesai mandi, kira-kira setengah jam kemudian terdengar lah adzan Maghrib. Selesai beribadah, Ara mulai menyiapkan dirinya untuk bertemu dengan Raka. Ia ingin tampil cantik di depan Raka malam ini.
Tepat pukul tujuh malam, Raka datang menjemput Ara. Ara yang malam itu mengenakan celana stocking abu-abu tua panjang di padukan dengan atasan agak panjang berwarna biru dongker tanpa lengan, tampil sangat memukau. Raka terpana melihat penampilan Ara. Di dalam hatinya ia sangat memuji kecantikan Ara. Ia benar-benar ingin memiliki wanita yang ada di hadapannya itu dan tidak akan pernah melepaskannya lagi. Tak ingin membuang-buang waktu, Raka langsung mengajak Ara jalan.
Raka mengajak Ara ke sebuah bukit yang mempunyai pemandangan sangat indah. Pemandangan seluruh desa yang di hiasi dengan kerlap-kerlip cahaya lampu rumah-rumah penduduk serta pemandangan laut lepas membuat Ara sangat terpesona. Bintang-bintang dan rembulan malam itu pun ikut menambah semarak pesona keindahan alam yang tercipta. Ara sangat mengagumi keindahan pemandangan ciptaan Allah tersebut.
Ara sangat menikmati pesona keindahan yang disuguhkan oleh alam malam itu sehingga ia sama sekali tidak sadar bahwa pria tampan yang berada disampingnya tersebut sedang menatapnya. Raka mengelus pipi Ara, halus dan lembut. Tubuh Ara wangi. Raka sangat menyukai aroma parfum Ara, lembut dan feminin. Benar-benar mencerminkan sifat Ara. Raka menarik pelan tangan Ara, kemudian di kecupnya tangan halus Ara tersebut. Ara yang saat itu sedang duduk di atas kap mobil Raka sedikit terkejut dengan kecupan lembut di punggung tangannya. Ia menatap Raka, pemuda tersebut sangat tampan malam ini. Meski penampilannya seperti biasa, celana selutut warna coklat tua dan kaus T-shirt hitam, casual namun Ara menyukainya.
"Maura.. Maura.. Kamu tahu tidak, kalau kamu itu laksana sebuah kapal."
"Maksud kamu?"
"Iya, kapal.. Ia datang ke sebuah pulau, menurunkan jangkar. Berlabuh beberapa saat di pelabuhan pulau tersebut. Setelah itu di tariknya kembali jangkarnya, lalu ia pun pergi berlayar. Dan entah kapan lagi ia akan kembali berlabuh ke pelabuhan pulau tersebut."
"Mirip lagunya 'Letto' dong. 'Kau datang dan pergi begitu saja, semua ku terima apa adanya'.. Hahahahahaha.." Ara tertawa mendengar penjelasan Raka. Ada-ada saja pria satu ini, fikirnya.
Ara menarik tangannya pelan, lalu kembali menatap pemandangan yang terbentang luas di hadapannya. Ia menarik nafas panjang, lalu dihembuskannya kembali. Tampak sekali ada beban berat di hatinya.
"Raka. Dua hari lagi aku balik ke Kalimantan. Aku ingin sesuatu yang pasti dalam hubungan kita ini. Aku gak mau terombang-ambing tanpa kepastian. Bagaimana hubungan kamu dengan tunanganmu itu? Aku gak mau jadi orang ketiga. Apabila kamu sudah tidak bersamanya lagi, aku siap menjadi kekasihmu lagi seperti dulu. Namun apabila hubunganmu dengan dia belum berakhir, aku akan mundur dari sekarang. Sebelum aku benar-benar mencintaimu lebih dalam lagi." Ara mengutarakan apa yang selama ini menghantui fikirannya, ia ingin kejelasan hubungannya.
"Aku sudah bubaran sama dia. Aku bilang kalau aku sama dia sudah tidak mungkin bisa di satukan lagi. Aku dan dia sudah tidak ada kecocokan lagi sama sekali." Jawaban Raka membuat Ara agak tenang sedikit, namun masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang menari-menari di fikirannya. Sangking banyaknya Ara sampai tidak tahu harus mulai bertanya dari mana lagi.
"Pertunanganmu sudah dibatalkan?" Ara bertanya lagi.
"Tidak secepat itu Ara. Aku dan dia memang sudah sepakat akan berpisah, namun kedua belah pihak keluarga belum ada yang tahu. Mereka sangat menyetujui pertunangan ini, karena pertunangan ini dilaksanakan untuk lebih mempererat persahabatan kedua belah keluarga. Jadi aku butuh waktu untuk mengatakan kepada mereka tentang pembatalan pertunangan. Tidak bisa seenaknya main kabur begitu saja Sayang." Raka mencoba menjelaskan kepada Ara. Ia tidak ingin kehilangan Ara namun ia juga tidak ingin mengecewakan keluarganya. Ia sangat mencintai Ara dan juga keluarganya.
Ara tertunduk lesu sambil memeluk lututnya. Raka melangkah ke hadapan Ara. Raka meraih kepala Ara pelan lalu menyandarkan kepala Ara di dadanya sehingga Ara bisa dengan jelas mendengar degup jantung Raka. Ara kemudian melingkarkan tangannya ke tubuh Raka. Ara memeluknya erat, seolah tidak akan melepaskan Raka lagi selamanya. Raka mengelus rambut halus Ara pelan, kemudian ia mencium kepala Ara. wangi sekali. Raka menyukai aroma tubuh Ara. Segar namun lembut. Raka menatap wajah lembut Ara. Dipandanginya wajah wanita terkasihnya tersebut. Dikecupnya bibir Ara, manis dirasanya. Ara membalas kecupan Raka dengan penuh perasaan. Ia ingin Raka mengetahui bahwa ia sungguh mencintai pria itu.
"Apakah kau sungguh-sungguh mencintai aku?" Tanya Ara tiba-tiba.
Raka terdiam sesaat, ia tidak langsung menjawab pertanyaan dari Ara. Ia menatap wajah Ara dalam-dalam. Ara menatap kedua bola mata Raka. Ia ingin menyelami pikiran Raka saat. Ia ingin mencari jawaban semua pertanyaannya di dalam keteduhan mata Raka.
"Kalau aku tidak sungguh-sungguh mencintai kamu, ngapain aku berbuat seperti ini? Aku siap menerima resiko di buang dari keluargaku hanya untuk bisa bersama denganmu selamanya. Aku sangat mencintai keluargaku dan aku pun sangat mencintaimu. Aku tidak ingin pisah dari kedua hal itu. Tetapi apabila keluargaku tidak setuju aku bersamamu, maka aku rela meninggalkan mereka. Ini sebagai bukti betapa besar cintaku padamu."
"Apa buktinya kamu sungguh-sungguh cinta sama aku?" Ara bertanya lagi. Ia ingin Raka memberikan jawaban yang bisa membuatnya yakin bahwa Raka sungguh-sungguh mencintainya.
"Aku pisah sama tunanganku. Itu suatu bukti keseriusanku sama kamu..!" Raka menjelaskan, sambil kedua belah tangannya menekan pipi Ara. Ara menatapnya dengan pandangan tajam.
"Berarti aku yang menyebabkan kalian pisah? Sudah pernah aku bilang sama kamu, sampai kapan pun aku gak akan mau menjadi penyebab perpisahan kalian! Aku gak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian!! Kalau memang kalian pisah, itu harus dari diri kalian sendiri. Bukan karena aku!! MENGERTI!!!" Ara kecewa mendengar penjelasan Raka, ia tidak suka apabila dirinya lah yang menyebabkan perpisahan antara Raka dengan tunangannya.
"Bukan karena kamu Ra. Aku pisah karena aku memang sudah tidak ada kecocokan lagi dengan dia. Kamu yang membuat aku yakin dengan keputusan yang akan aku ambil. Hanya denganmu Ra, aku yakin aku akan mendapatkan kebahagiaan seutuhnya." Raka menjelaskan dengan sangat hati-hati kepada Ara. Ia tidak ingin Ara salah paham lagi. Ia tidak ingin kehilangan Ara.
"Mengapa aku yang kamu pilih untuk kamu cintai lagi? Bukannya sembilan tahun terlalu lama untuk tetap menjaga pundi-pundi cinta terdahulu?" Ara bertanya lagi.
"Sembilan tahun tak akan cukup untuk menghapus cintaku padamu."
"Sungguh?" Ara bertanya sambil menyunggingkan senyumnya dibibirnya.
"Sungguh, sungguh, sungguh, dan sungguh bidadari hatiku." Jawab Raka sambil menarik pelan kepala Ara menuju ke arahnya. Raka kembali mencium Ara dengan pelan dan lembut. Dimulai dari pipi, kening, mata, dan bibir Ara. Semua berjalan begitu indah, begitu romantis. Ara sangat menikmati kedekatan mereka malam itu. Ciuman Raka begitu lembutnya, seakan membawa Ara melayang ke angkasa yang semerbak dengan cahaya bintang-bintang. Ciuman Raka begitu menghanyutkannya, membuatnya begitu ketagihan, laksana sebuah opium. Ia ingin Raka terus menciuminya lagi, lagi, dan lagi.
"Cara mia, ti voglio bene.." Ucap Ara lembut.
"I love you too Honey.. Bisa bahasa Itali dari mana Ra?"
"Dari mana-mana. Otodidak. Aku suka sekali sama semua yang berbau Itali, gak tahu kenapa. Dulunya cuma suka sama kota Venice aja, tapi lama-kelamaan jadi suka sama keseluruhan Italia. Kebetulan juga sekitar dua tahun lalu pernah dibawa sama Via ke sana, tambah cinta deh sama Itali.. Hehe.. Raka juga kok bisa bahasa Itali?"
"Pernah kursus saja. Lama sudah tidak pernah dipakai bicara, jadi sudah lupa-lupa."
"Wah, sayang sekali Ka. Harus sering dipakai biar tetap ingat." Raka menganggukkan kepalanya.
Bibir Ara begitu manis. Aroma tubuh Ara sangat mempesona. Ciuman Ara sangat memabukkan baginya. Ia mencium bibir Ara. Memeluk tubuh Ara. Ia sangat menyukai semua yang ada di diri Ara. Ia jatuh cinta terhadap keseluruhan diri Ara. Ara benar-benar wanita yang ia impikan. Sembilan tahun berlalu tidak membuat cintanya kepada Ara berubah. Di sisi lain Ara adalah wanita yang dewasa, lembut, dan lucu, namun disisi lain Ara juga seorang yang anggun, tertutup, dan sangat romantis. Kedua belah sisi Ara itulah yang membuat cinta Raka makin tumbuh subur. Sampai kapan pun Raka tidak ingin kehilangan cintanya itu untuk yang kedua kalinya.
Tak terasa waktu telah beranjak ke tengah malam. Raka harus kembali mengantarkan Ara pulang. Sebelum mereka beranjak pulang, untuk yang kesekian kalinya Raka kembali mencium bibir lembut Ara. Raka mencium kening Ara. Setelah itu ia mengajak Ara untuk pulang.
Tak lama kemudian mereka berdua telah tiba di depan rumah Rani. Saat Ara hendak turun dari mobil, Raka kembali menarik tangan Ara pelan. Ia kembali mencium Ara dengan lembut. Raka seolah tidak ingin berpisah dengan Ara malam itu. Pelan-pelan Ara menghentikan ciumannya dengan Raka, dan mengatakan besok mereka berdua akan bertemu lagi pada waktu yang sama, Raka menyetujuinya.
Setelah mobil Raka berlalu pergi, Ara kembali masuk ke dalam rumah. Setelah mencuci kaki dan berganti pakaian, ia lalu berebah disamping Rani yang sedang asik membaca novel sambil tidur-tiduran.
"Gak baik baca buku sambil tidur, nanti matamu cepat rusak." Kata Ara mengingatkan.
"Pulang kencan bukannya cerita yang seru-seru malah ceramah." Gerutu Rani. Ara tertawa renyah.
"Mau cerita apa tah Bu? Bukannya situ yang lebih jago?" Ara tersenyum dan melirik Rani yang ternyata pada saat yang sama juga sedang melirik Ara.
"Jago apaan, cuma pinter dikit doang kok. Masih mau belajar ke sana-sini dulu. Entar kalau kamu udah jago, kamu yang ngajarin aku." Kata Rani sambil menatap Ara, lalu mereka berdua tertawa cekikikan.
Setelah agak lama cerita-cerita dengan Rani, Ara lalu pamit mau tidur. Ia benar-benar sudah ngantuk. Selain itu ia juga ingin kembali melamunkan saat-saat ia bersama Raka tadi. Momment yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Setelah Ara tertidur, Rani kembali melanjutkan membaca novelnya, namun tak lama kemudian ia pun ikut tertidur dengan novel yang masih tergeletak di atas dadanya.
¤
30 April,
Pukul enam kurang sepuluh menit, saat Ara terbangun dari tidur lelapnya. Matahari sudah mulai muncul kepermukaan. Cahayanya yang indah membuat Ara semangat menyambut hari baru tersebut. Ara tengah duduk-duduk di teras depan rumah sendirian, ia menikmati segarnya udara pagi hari di pedesaan. Besok ia sudah harus kembali pulang ke Kalimantan, belum tentu akan dapat udara sesegar saat ini lagi. Jadi mumpung saat ini ia masih bisa menikmati udara desa dengan tenang dan damai, maka ia akan memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik mungkin.
Besok.. Ya, besok ia akan kembali ke tanah kelahirannya. Kota yang penuh dengan hiruk pikuk aktivitas dan permasalahan para penduduknya. Kota yang meskipun tergolong kecil dan cukup padat, namun Ara sangat mencintainya. Di kota itulah Ara lahir dan dibesarkan. Ia juga mendapatkan pelajaran dan pengalaman hidupnya di kota tersebut. Besok ia akan berangkat dari pelabuhan kapal laut pada sore hari dan mungkin akan tiba di kotanya itu pada keesokan harinya. Setelah itu Ara akan kembali menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Masuk kerja, menghadapi para klien, dan bermain dengan keponakan kembarnya tersayang. Namun satu hal yang pasti, ia akan sangat rindu dengan Raka.
"Duh pagi-pagi kok sudah ngelamun. Ngelamunin apaan tuh? Pasti cowok ya?" Ibunya Rani menggoda Ara.
"Ah, gak kok Oma." Ujar Ara malu tertangkap basah oleh neneknya. Pipi Ara bersemu merah. Ibunya Rani atau neneknya Ara yang selama ini biasa ia panggil "Oma" hanya tersenyum-senyum lalu berlalu berangkat ke pasar.
"Kak Ara, Anya berangkat sekolah dulu ya." Ucap Vanya sambil mencium tangan Ara. Ara yang kaget tiba-tiba di tegur oleh Vanya hanya bisa mengangguk-angguk saja sambil berpesan agar Vanya berhati-hati di jalan. Setelah kepergian Vanya, Ara masuk ke dalam rumah.
"Ara.. Sarapan." Sandra menawarkan sepiring besar nasi goreng buatannya.
"Thanks Kak. Nanti aja, Ara belum lapar." Tolak Ara secara halus, ia kemudian masuk ke dalam kamar, lalu berebah disisi Rani yang masih terlelap.
"Kak Ara... Kak Ara... Kak..." Shavira memanggil nama Ara sambil menggoyang-goyang tubuh Ara.. Ara tersontak kaget. Ternyata ia tertidur barusan. Ara heran mengapa Shavira ada di sampingnya.
"Aduh maaf, ternyata aku tertidur tadi. Oia, ada apa Vir?"
"Kak Ara di panggil mama Vira ke rumah. Mama ngajak kak Ara dan yang lain untuk makan siang di rumah, soalnya kan besok kak Ara mau pulang ke Kalimantan." Kata Shavira.
Ara lantas memandang jam di dinding, baru pukul sembilan, masih lama fikirnya.
"Baik, nanti siang kakak dan yang lain datang ke rumah Vira." Ucap Ara sambil beranjak dari tidurnya. Ara dan Vira kemudian duduk di ruang tengah. Ada Rani, Sandra, serta ibunya Rani juga di situ.
"Iya Vir, nanti kita semua ke sana, tungguin aja ya." Ucap Sandra menegaskan kembali apa yang telah Ara sampaikan sebelumnya.
Shavira kemudian mengangguk, setelah itu ia pamit pulang. Sebelum Shavira menghilang di balik pintu, Rani berkata dengan nyaring "Siapin yang banyak ya Vir." lalu mereka semua pun tertawa.
"Asyik.. Makan siang gratis lagi.." ucap Rani. Ara dan Sandra tertawa mendengarnya.
"Di sini memang begitu Ra, orang-orang sudah seperti keluarga semuanya. Sering saling memanggil makan bersama-sama. Kekeluargaannya sangat kental." Rani menjelaskan kepada Ara. Ara tersenyum dan mengangguk.
"Yuk siap-siap, mandian semua. Biar kita tidak telat. Tidak enak kalau kita sampai terlambat datang ke sana. Nanti di kira kita tidak menghargai waktu." Ucap Sandra.
"Iya Kak." Ucap Ara sambil mengangguk, ia sangat setuju dengan apa yang di ucap Sandra.
Mereka semua bersiap-siap. Ada yang mandi, merias wajah, dan memilih-milih pakaian yang akan digunakan. Tidak terkecuali dengan Ara, ia juga sibuk memilih-milih baju apa yang akan ia gunakan. Tetapi bukan untuk siang itu, melainkan untuk nanti malam. Ara memang sangat menantikan tibanya malam, sehingga ia bisa kembali bertemu dengan Raka. Untuk siang ini, Ara tidak terlalu pusing ingin mengenakan baju apa. Ia ingin yang simple-simple saja. Celana pendek jins sepaha warna coklat tua, serta sebuah kaus lengan pendek pas badan warna hitam dengan tulisan VOLCOM warna kuning pada dadanya lah yang di pilih Ara.
Siang itu Ara beserta Rani sekeluarga datang ke rumah Shavira. Tidak terlalu banyak orang yang datang ke sana. Mungkin sang tuan rumah memang sengaja tidak memanggil terlalu banyak orang untuk makan siang bersama di rumahnya. Menu yang di sajikan hampir sama dengan menu yang di sajikan ketika Ara dan Rani makan siang bersama di rumah tetangganya Rani tempo hari, yakni beberapa macam Ikan Bakar dan Bubur Manado, namun kali ini ada yang sedikit berbeda karena kali ini disajikan pula Sup Jagung Manis.
Ara suka sekali sup jagungnya. Ia sampai nambah dua mangkuk. Ara juga suka sekali ikan bakarnya kali ini, bumbunya benar-benar meresap sempurna. Rani dan Sandra juga Vanya terlihat lahap sekali menyantapnya, malahan Vanya sampai celemotan semua mulutnya. Siang ini mereka benar-benar kenyang, mereka sangat puas dengan apa yang sang tuan rumah suguhkan untuk mereka semua. Setelah selesai makan, mereka mengobrol sebentar, bersenda gurau. Setelah itu Ara dan Rani membantu Shavira mengangkat piring-piring kotor ke dapur. Ara dan Rani berinisiatif untuk menyuci piring-piring. Mereka berdua sempat di larang menyuci piring oleh Shavira dan tantenya, namun Ara dan Rani tetap bertahan. Mereka bersikeras untuk tetap menyuci piring-piring tersebut. Akhirnya Shavira dan tantenya pun mengalah, mereka membiarkan kedua gadis itu menyuci semua piring-piring kotor. Sebenarnya tidak cuma piring-piring yang mereka berdua bersihkan, tetapi juga semua-semua yang kotor, termasuk panci-panci, wajan-wajan, dan dandang yang semuanya besar-besar. Sesungguhnya Shavira dan juga tantenya sama sekali tidak tega melihat kedua tamu mereka kerja keras membersihkan semua barang-barang kotor itu, namun mereka berdua sama sekali tidak kuasa menahan keinginan kedua gadis itu.
Saat sedang asyik menyuci semua-semua yang kotor, tiba-tiba ember tempat Ara membilas barang-barang tersebut tumpah dan menyiram celana Ara. Untung saja tidak terlalu banyak tersiramnya, sehingga Ara tidak perlu pulang ke rumah untuk mengganti celana. Ara juga sangat bersyukur sekali, air tersebut tidak sampai terkena kantong celananya, karena ponsel Ara berada di dalam kantong celana itu. Rani yang menyaksikan peristiwa tersebut tertawa terbahak-bahak,
"Makanya, semangat nyucinya biasa-biasa aja. Jangan kayak orang mau pergi perang gitu, ketumpahan kan.. Untung tidak satu badan kenanya, kalau tidak mandi air cucian itu namanya." Ujar Rani sambil terus menertawakan Ara. Ara hanya tersenyum kecut, tak lama kemudian ia lalu mengambil sedikit air di tangannya lalu di siramkannya pula ke celana Rani,
"Impas kan.." Ujar Ara sambil tertawa terbahak-bahak pula.
"Nanti ya aku balas, ku ceburin di laut kamu nanti. Biar dicium sama ikan-ikan amis itu." Ujar Rani kemudian, lalu mereka berdua pun tertawa bersama-sama.
Kini mereka berdua telah selesai mencuci, celana mereka sama-sama basah. Ara kemudian menanyakan apakan Shavira punya gitar, Shavira menggeleng. Namun ia mengatakan bahwa ia akan meminjam punya kakaknya. Ara tersenyum senang, lalu Ara mengatakan kepada Shavira bahwa ia menunggunya di teras depan rumah. Shavira mengangguk kemudian berlalu untuk mencari kakaknya.
Ara dan Rani sedang asik duduk-duduk di teras rumah Shavira sambil menikmati segarnya angin yang bertiup. Mereka berdua kelelahan setelah tadi mereka berkerja keras. Angin yang sepoi-sepoi membuat mata Ara mengantuk. Beberapa kali ia menguap. Namun saat ini ia sedang tidak ingin tertidur. Vanya datang dari dalam rumah dengan membawa dua cangkir besar sirup rasa anggur. Hadiah dari tantenya Shavira, ujarnya. Ara dan Rani senang bukan main, Ara kini sudah tidak ngantuk lagi. Sirup yang dingin telah menyegarkan kembali kedua matanya.
Tak lama kemudian Shavira datang dengan membawa sebuah gitar berwarna merah milik kakaknya. Ia menyerahkannya kepada Ara. Ara menyambutnya dengan suka cita. Tanpa membuang-buang waktu lagi Ara langsung memainkan gitar tersebut. Rani dan Shavira yang me-request lagunya, dan Ara yang memainkan. Kemudian mereka bersama-sama menyanyikan lagu-lagu tersebut. Nirina dan Fitria yang secara kebetulan lewat di depan rumah Shavira, mampir dan ikutan bernyanyi-nyanyi bersama Ara, Rani, dan Shavira. Selang beberapa waktu kemudian Faiz ikutan bergabung dengan mereka, disusul oleh Lidya, Marienha, dan Haniva.
Ara tengah memainkan sebuah lagu saat I-phone-nya berdering. Suasana hening seketika. Ara menjawab panggilan masuk tersebut.
"Hai cizsta.. Lagi ngapain nih?" Sapa Viandha.
"Baik-baik aja cantik. Ini lagi ngumpul sama teman-teman sambil gitaran. Tumben nih nelpon?"
"Ah gak juga kok. Ini lagi nunggu giliran syuting aja, lama banget. Oia Kak, kapan balik Kalimantan?
"Besok sore, kenapa memangnya?
"Gini loh Kak, kak Ara ditawarin jadi model Video Clip sama manager Via. Gimana? Mau gak Kak? Honornya lumayan banget loh."
"Loh kok bisa? Managermu kan gak kenal sama aku?"
"Kemaren dia gak sengaja liat foto kak Ara di ponsel and facebook Via, terus dia tanya-tanya tentang kak Ara. Ya Via kasih tahu aja tentang Kakak sama dia. Eh, ternyata dia tertarik. Pas ada tawaran untuk model Video Clip, dia ingin menjadikan kak Ara modelnya."
"Non Via yang cantik, kamu kan sudah tahu siapa aku, gimana aku, dan tentu saja kamu sudah tahu prinsip aku tentang hal itu kan?"
"Via tahu Kak. Manager Via itu sudah Via kasih tahu, tapi ia tetap bersikeras mau jadikan kak Ara modelnya."
"Hmmm, tampaknya dia benar-benar kekeuh juga ya orangnya. Tapi yang namanya sudah prinsip ya gak bisa di paksa lagi Non."
"Ia Kak, Via ngerti. Nanti Via sampaikan sama manager Via itu apa yang kak Ara bilang barusan. Kak, sudah dulu ya, sudah giliran Via untuk Take. Bye, miss u." Ucap Via sambil menutup telponnya.
"Kenapa Ra?" Tanya Rani setelah Ara kembali memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana.
"Via. Managernya nawarin aku untuk jadi model Video Clip." Kata Ara sambil membetulkan letak gitarnya dan hendak memainkannya lagi.
"Terus kamu mau?" Tanya Faiz kemudian. Ara menggeleng.
"Kenapa tidak mau? Kan sayang sekali. Jadi model kan bisa terkenal." Sambung Haniva. Haniva terobsesi menjadi seorang artis yang terkenal. Dari gayanya sehari-hari saja sudah ngartis sekali.
"Gak pengen aja. Kerjaanku udah banyak." Jawab Ara.
"Tapi kan sayang sekali." Ujar Haniva lagi. Kali ini Ara tidak menjawab, ia diam saja, pura-pura tidak mendengar. Dalam hati ia berkata, susah ngomong sama yang sok ngartis.
"Ngomong-ngomong, kerjaanmu di Kalimantan apa Ra?" Kali ini Lidya yang bertanya.
"Aku Psikolog. Membaca sifat orang, karakter orang, dari caranya bersikap, berbicara, berjalan, adalah pekerjaanku." Ara sengaja tidak menjelaskan secara rinci tentang pekerjaannya, ia merasa hal tersebut tidak perlu ia lakukan. Beberapa orang dari temannya itu langsung terdiam saat Ara menjelaskan apa pekerjaannya.
"Jadi kamu tahu sifat-sifat kami Ra?" Tanya Lidya kemudian. Ia sedikit khawatir Ara mengetahui sifatnya yang kurang baik. Ia suka sedikit liar apabila sedang bersama pria, omongannya suka tidak terkontrol. Tidak heran apabila ada beberapa laki-laki yang berpandangan negatif terhadapnya.
"Beberapa aku tahu sifatnya, namun beberapa tidak terlalu." Ucap Ara.
"Kok bisa begitu?" Rani pun ikut bertanya.
"Sebenarnya hampir semua dari kalian sudah ku ketahui sifatnya, baik yang baik ataupun yang buruk. Karena sebagian besar dari kalian bersikap memang apa adanya, tanpa dibuat-buat. Namun ada beberapa dari kalian yang tidak terlalu ku ketahui, mengapa demikian? Karena orang tersebut bersikap dan bertingkah laku yang dibuat-buat bukan apa adanya dirinya sendiri." Ucap Ara menjelaskan. Semua mengangguk-angguk tanda mengerti. Mereka berebut ingin Ara sebutkan sifat-sifat mereka. Hanya Lidya dan Haniva saja yang terdiam, termenung, dan sibuk dengan fikirannya masing-masing.
Mereka semua sedang asik menikmati suasana keakraban bernyanyi bersama-sama, saat Sandra, Ibunya Rani, Vanya, dan juga Kayla keluar bersama-sama.
"Ayuk pulang, sudah sore nih." Ujar Sandra kepada Ara dan Rani. Ara lantas melirik ke arah jam tangannya, jam tiga sore. Saat tengah asik berkumpul dengan para sahabat, waktu benar-benar tidak terasa jalannya, ucap Ara dalam hati.
"Ra, jalan sama aku dulu yuk, besok kan kamu pulang. Belum tentu dalam waktu dekat kamu bakal balik lagi ke sini kan? Makanya sekarang aku pengen jalan-jalan sebentar sama kamu." Ujar Marienha yang duduk di sisi kanan Ara.
"Boleh juga tuh Rin, kapan? " Jawab Ara antusias.
"Sekarang, saat yang lain bubar kita langsung jalan. Kebetulan aku tadi kesininya bawa motor."
"Tapi aku kan gak ada helm Rin."
"Ah, itu sih gampang, gak perlu pakai helm. Kita mutar-mutar disini-sini aja kok, gak jauh-jauh sekali."
"Ayo deh kalo gitu. Ayo Rin, yang lain udah pada bubar tuh."
"Okey.. Ayo." Ujar Marienha sambil melangkah ke arah motornya, diikuti oleh Ara di sampingnya.
Kedua gadis cantik itu bersepeda motor ria sambil mengitari beberapa tempat. Marienha menunjukkan kepada Ara di mana tempatnya tinggal. Tidak jauh dari rumah Marienha, mereka berdua berpapasan dengan Zacky. Saat itu Zacky sedang duduk-duduk bersama gank-nya di sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Di samping rumah itu terparkir mobilnya Zacky. Marienha menghentikan motornya ketika Zacky memanggil Ara dan meminta Marienha dan Ara untuk singgah sebentar. Ara sebenarnya tidak ingin singgah, tetapi ia dan Marienha tidak ingin di cap sebagai gadis sombong. Mereka singgah sebentar di rumah tersebut.
Keadaan rumah yang di jadikan Zacky dan anggotanya sebagai tempat untuk ngumpul-ngumpul itu kondisinya sungguh berantakan. Sampah-sampah makanan, minuman dan puntung rokok berserakan dimana-mana, tampaknya mereka habis pesta semalaman di rumah itu. Ara dan Marienha sangat tidak nyaman dengan kondisi tersebut, mereka berpandangan-pandangan berdua. Setelah mereka berbincang-bincang dengan Zacky sebentar, Ara memberi kode kepada Marienha untuk segera cabut dari tempat itu. Marienha langsung cepat tanggap dengan kode yang diberikan Ara dan langsung pamit pulang kepada Zacky dan teman-temannya yang lain. Meski awalnya Zacky tidak mengijinkan untuk mereka pergi, Ara dan Marienha segera mencari-cari alasan agar Zacky melepaskan kepergian mereka. Untung saja saat itu hari sudah sangat sore sehingga mereka berdua menemukan alasan yang tepat. Zacky pun akhirnya harus merelakan kepergian Ara dan Marienha. Kedua gadis itu merasa sangat lega karena bisa meninggalkan rumah yang sangat kotor itu. Marienha kemudian mengantarkan Ara pulang ke rumah Rani, setelah itu Marienha pun kembali pulang ke rumahnya.
Kini mereka semua telah tiba di rumah. Semua tampak gembira. Menu hidangan yang nikmat membuat semuanya happy. Begitu masuk rumah, Ara langsung menyambar handuknya dan berlalu ke kamar mandi. Ia ingin segera mandi lalu bersiap-siap buat kencan nanti malam. Ara sudah selesai mandi dan berpakaian santai sore itu, celana pendek jins biru butut serta kaos hitam polos pas badan. Kini ia duduk santai di sisi Rani yang sedang menina-bobokan Kayla. Ara melamunkan Raka, ia membayangkan apa yang akan dilakukannya nanti malam. Ia merasa bahagia sekali saat itu, sangat bahagia akan segera bertemu dengan Raka lagi. Namun disisi hatinya yang lain, Ara juga bersedih, karena nanti malam adalah kencannya terakhir dengan Raka sebelum ia balik ke Kalimantan. Ia tidak tahu kapan ia akan bisa datang lagi ke desa itu. Ia juga tidak tahu apa ia akan bertemu lagi dengan Raka. Biarlah waktu yang akan menjawabnya.
Ponsel Ara berbunyi, ada SMS masuk.
"Ara Sayang, jangan lupa nanti malam aku jemput sehabis Maghrib. Di tunggu ya. Miss u." SMS dari Raka.
"Okey. Di tunggu. Jangan telat ya. Miss u too." Balas Ara ke nomor ponsel Raka. Ara girang setengah mati. Dibacanya berulang-ulang kali pesan singkat dari Raka tersebut, ia tersenyum-tersenyum sendiri. Hatinya sedang riang. Sudah tak sabar ia menunggu malam datang.
Adzan Maghrib berkumandang. Selesai menjalankan ibadah rutinnya, Ara mulai merias wajahnya secantik mungkin namun tetap natural. Ara malam itu mengenakan baju lengan pendek terusan selutut berwarna putih polos. Baju tersebut di penuhi dengan renda-renda pada bagian lengan, pinggang, serta pada bagian kerut-kerutan pada dadanya yang berbentuk huruf U. Baju tersebut juga dilengkapi dengan sebuah pita pada bagian pinggangnya. Baju yang sangat cantik. Sangat serasi dengan kecantikan yang terpancar dari tubuh wanita yang mengenakannya.
Tepat saat Ara selesai berdandan, pintu ruang tamu terdengar di ketuk dari luar. Ara dan Rani yang saat itu masih berada di kamar, saling berpandangan. Mereka menerka-nerka siapakah tamu yang telah datang tersebut, apakah Fadly ataukah Raka. Rani yang sedang menunggu kedatangan Fadly juga berharap-harap cemas, sama seperti Ara.
"Ara.. Ada Raka nih." Kata Sandra sambil mempersilahkan Raka masuk. Raka tersenyum.
"Kali ini aku duluan ya Tanteku sayang.. Selamat menunggu kedatangan yayangmu tercinta. " Ujar Ara kepada Rani sambil tertawa kecil penuh dengan rasa kemenangan. Ara berjalan ke ruang tamu dengan jantung yang berdetak kencang. Entah mengapa ia sangat deg-degan malam itu.
Raka menatap Ara tanpa kedip, ia sangat terpesona dengan kecantikan dan keanggunan Ara. Tak ada kata-kata yang mampu terucap dari bibirnya. Ara sangat cantik, sangat, sangat, sangat cantik.
"Hhmm.." Ara berdehem. Raka tersadar dengan keterpanaannya, ia salah tingkah.
"Eh, Maaf Ra.. Kamu sih malam ini cantik sekali. Sampai terhipnotis aku." Ucap Raka jujur.
"Ah kamu bisa aja Ka." Sahut Ara, kini giliran ia yang salah tingkah. Ara tersenyum manis, pipinya merah merona.
Malam itu Raka juga sangat tampan. Meski dengan pakaian kebesarannya, yakni celana jins selutut dan kaus oblong warna hitam, namun itu semua sama sekali tidak mengurangi ketampanannya. Tubuh Raka sangat enak aromanya, aroma segar khas pria. Serasi sekali dengan aroma tubuh Ara yang juga tak kalah enaknya, aroma lembut khas seorang wanita. Tak ingin membuang waktu yang sangat singkat, setelah berpamitan dengan orang rumah, Raka segera meraih tangan Ara dan menggandengnya menuju mobil. Begitu sampai di mobil, Raka sekilas mengecup bibir Ara. Setelah itu barulah Raka menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Kali ini Raka membawa Ara ke sebuah pantai. Mobil Raka parkir di dekat bibir pantai, sehingga dari atas kap mobil, Ara bisa melihat ke arah laut dengan jelas. Hanya dengan berjalan kaki beberapa langkah saja, maka Ara bisa menikmati air laut di sepanjang bibir pantai tersebut. Ara duduk di atas kap mobil. Raka berdiri bersandar di samping Ara. Ara memandang ke atas, langit luas tiada bertepi. Sekumpulan bintang yang gemerlapan, dan cahaya bulan yang indah mempesona di padu dengan suara gemuruh ombak laut di sertai dengan hembusan angin yang sepoi-sepoi membuat malam tersebut sangatlah indah bagi Ara.
"Tunggu dulu sebentar di sini ya." Pinta Raka.
"Emangnya mau ke mana?" Tanya Ara penasaran.
"Ada saja. Ini rahasia. Pokoknya tunggu saja disini dulu." Jawaban Raka malah membuat Ara penasaran. Mata Ara terus mengikuti ke arah Raka pergi. Ara memang suka tidak tahan dengan yang namanya rasa penasaran. Ternyata Raka mengambil sesuatu dari dalam mobil.
Tak lama kemudian Raka kembali, ada sebuah kotak kecil persegi empat di tangannya.
"Apaan tuh Ka?" Tanya Ara yang rasa penasarannya sudah di ubun-ubun kepala.
"Tutup mata dulu, baru boleh buka." Raka mempermainkan rasa penasaran Ara. Raka suka melihat mimik wajah Ara apabila rasa penasaran wanita satu itu sedang kumat. Lucu sekali, seperti mimik wajah bayi.
"Gak usah tutup-tutupan lah, langsung buka aja." Ara sedikit menghiba.
Meski wajah menghiba Ara sebenarnya sangat menyentuh hati Raka, tetapi Raka menggelengkan kepalanya. Ara memasang muka memelas, Raka tetap menolak. Akhirnya Ara pun menyerah dan menutup matanya. Saat Ara menutupkan matanya itulah tiba-tiba ia mencium bau yang sangat enak, bau yang sepertinya berada tepat di depan hidungnya. Raka memperbolehkan Ara untuk membuka matanya, Ara tersenyum. Alangkah terkejutnya Ara saat melihat apa yang tersedia di depan matanya saat itu. Sebuah Tiramisu yang sangat harum baunya dan rasanya pun pasti sangat enak. Ara tersenyum girang, seperti anak kecil yang di belikan balon oleh ibunya.
"Silahkan dicicipi. Ini aku sendiri yang buat khusus untuk kamu." Raka berkata sambil meletakkan Tiramisu tersebut di atas kap mobil dan mengeluarkan dua buah sendok makan dari sebuah bungkusan kecil. Meski dirinya adalah seorang pria, tetapi Raka sama sekali tidak malu untuk mengakui bahwa ia hobi memasak. Dulu ia pernah bercita-cita untuk menjadi seorang koki. Namun seiring dengan berjalannya waktu, ternyata pekerjaan yang diperolehnya sama sekali jauh berbeda dari apa yang telah dicita-citakannya tersebut. Kini ia telah bekerja sebagai seorang akuntan pada sebuah Bank yang cukup terkenal di kota.
"Hmmm... Yummy.. Enak banget.. Kamu pinter banget Ka. Aku aja belum bisa bikin Tiramisu seenak ini.." Ara dengan tulus memuji keahlian Raka. Raka tersenyum bahagia.
"Tenang aja Sayang, aku pasti akan sering bikinin buat kamu." Ucap Raka sambil mengecup lembut kening Ara.
"Jangan cuma dibikinin aja, tapi juga di ajarin cara buatnya. Jadi seandainya kita lagi berjauhan aku tetap bisa nikmatin Tiramisu ala kamu." Ucap Ara sambil tersenyum, kemudian ia menyuap kembali Tiramisu itu ke dalam mulutnya. Raka menggangguk, tersenyum kembali kepada Ara. Kemudian Raka menyuapkan sesendok Tiramisu ke mulut Ara. Ara membalas menyuap Raka, lalu mereka berdua tertawa-tawa bahagia.
Tiramisu kini telah habis. Raka memasukkan kotaknya kembali ke dalam mobil. Kemudian Raka mengajak Ara untuk berjalan-jalan di pinggir pantai. Raka dan Ara bergandengan mesra sambil berjalan pelan di bibir pantai. Ombak-ombak laut yang sampai ke bibir pantai menyapu kaki mereka berdua. Mereka berdua sengaja melepaskan sandal mereka dan bertelanjang kaki agar bisa merasakan kesegaran dan dinginnya air laut malam itu. Setelah puas merasakan hempasan air laut pada kaki mereka, kini Raka mengajak Ara tuk kembali ke mobil.
Ara kembali pada posisi saat mereka baru tiba ke pantai tadi, yakni kembali duduk di atas kap mobil. Namun kali ini Raka tidak berdiri di samping tubuhnya lagi, melainkan berdiri tepat di hadapannya. Raka kembali menyuruh Ara untuk menutup matanya. Meski penasaran, namun kali ini Ara langsung menurut. Biar rasa penasarannya cepat selesai, fikirnya. Ara mendengar suara pintu mobil di buka lalu di tutup lagi, dari dalam hati Ara bertanya-tanya apa Raka akan meninggalkannya? Namun segera ditepisnya fikiran buruknya tersebut. Tidak mungkin Raka akan meninggalkan aku, kan aku sekarang lagi duduk di kap mobilnya, Ara terus beragumen di dalam hati.
"Sayang, buka sudah matamu." Kata-kata Raka barusanlah yang paling Ara tunggu-tunggu. Pelan-pelan Ara membuka matanya. Tiba-tiba ia kembali terbelalak, takjub dengan apa yang telah dilihatnya.
"Apa ini Sayang?" Tanya Ara sambil menyentuh kalung mungil berbentuk separuh hati berwarna putih yang masih tergantung pada jemari tangan Raka.
"Ini buat kamu Sayang, hadiah ulang-tahun kamu beberapa hari lalu. Maaf baru sempat memberikannya sekarang. Kalung ini terbuat dari Titanium. Setahu aku Titanium adalah logam yang paling kuat. Aku ingin cinta kita berdua seperti kalung Titanium ini. Akan terus kuat terjaga sampai kapanpun." Ucap Raka sambil melepaskan kalung unik yang telah Ara pakai sebelumnya dan memasangkan kalung Titanium pemberiannya tersebut pada leher Ara.
"Kok kamu tahu aku kemarin ulang-tahun?" Tanya Ara heran. Ia merasa selama ini tidak pernah memberi tahu Raka kapan ia berulang-tahun.
"Sayang, sembilan tahun yang lalu kan kamu pernah kasih tahu aku kapan kamu ul-tah. Aku masih ingat semua itu Sayang. Mungkin kamu merasa kalau ucapan aku ini bulshit sekali, tetapi memang itulah apa adanya. Aku akan selalu mengingat tanggal ulang-tahunmu di dalam otak dan hatiku. Tanggal yang sangat spesial bagiku, tanggal di mana wanita yang kucintai ini di lahirkan ke dunia." Raka menjawab pertanyaan Ara sambil mengecup kening Ara dengan sangat lembut. Sangat, sangat lembut. Ara tersipu, ia sangat bahagia.
"Kalung ini bagus sekali Sayang, tapi kok bentuknya separuh hati?"
"Karena aku ingin kamu menyimpan separuh hati ini, dan aku pun menyimpan separuhnya lagi. Bila kedua kalung ini di satukan maka bentuknya pun menjadi utuh kembali. Seperti utuhnya cinta kita."
"Terima kasih banyak ya Sayang. Aku janji meski aku sudah di Kalimantan, tapi aku akan selalu menghubungi kamu. Aku pasti akan kembali lagi ke sini sayang."
Raka menundukkan kepalanya. Mendekatkan wajahnya pada wajah Ara. Bibir mereka berdekatan. Raka kemudian mencium bibir Ara mesra. Ara memejamkan matanya, ia mengalungkan kedua tangannya pada leher Raka. Ara membalas ciuman Raka dengan tak kalah mesranya.
"Jangan pergi Sayang." Ucap Raka di sela-sela ciumannya kepada Ara.
"Tidak bisa Sayang, aku sudah harus pulang. Banyak yang harus aku kerjakan di sana." Kata Ara sambil secara perlahan melepaskan pergelangan tangannya pada leher Raka.
"Andai aku tidak ada kerjaan, aku pasti sudah ikut kamu ke Kalimantan besok Sayang." Ucap Raka dengan penuh perasaan kecewa, ia kecewa mesti berpisah dengan Ara lagi. Setelah beberapa hari kedekatannya kembali bersama Ara, setelah bertahun-tahun berpisah, Raka kini benar-benar tidak mau kehilangan wanita yang paling berharga baginya itu.
"Raka Sayang.. Aku pasti kembali.." Ara mencoba meyakinkan Raka, bahwa ia pasti akan kembali ke desa itu. Kembali ke sisi Raka.
"Kapan? Bulan depan?"
"Tidak mungkin secepat itu Sayang. Aku belum tahu kapan, tapi aku janji ku pasti akan kembali lagi."
"Iya, kapan? Bertahun-tahun yang akan datang?"
"Tidak segitunya juga lah Sayang.. Bisa mati aku kalau harus selama itu baru kesini lagi.." Sahut Ara sambil tertawa kecil. Ara gemas terhadap Raka. Kali ini Raka seperti anak kecil yang bersikeras menanyakan kepada ibunya hadiah apa yang akan diterimanya pada ulang-tahunnya bulan depan.
"Jadi kapan Sayang?" Tanya Raka kembali, kali ini nadanya memelas.
"Belum tahu Sayang. Tapi aku janji, ku usahakan secepatnya ke sini lagi." Jawab Ara sambil tersenyum dan mencium bibir Raka lagi, Raka membalas ciuman Ara tersebut.
Ara kini duduk bersandar pada kaca depan mobil Raka, ia memandang ke arah bintang-bintang di atas sana. Kerlap-kerlip warna-warninya bagaikan sebuah bola kristal yang cemerlang. Raka kini tidur-tiduran di atas kap mobilnya, kepalanya diletakkannya di atas paha Ara. Ia kini juga tengah menatap ke angkasa luas, memandangi bintang-bintang dan bulan yang berada di atas sana. Wangi tubuh Ara yang lembut dan feminin membuat Raka betah meletakkan kepalanya di atas pangkuan Ara. Raka mendengar Ara menyanyikan sebuah lagu dengan suara pelan.
"Aku hanya pergi tuk sementara,
bukan tuk meninggalkanmu selamanya,
aku pasti kan kembali pada dirimu,
tapi kau jangan nakal, aku pasti akan kembali.
Ara menyanyikan lagu milik "PASTO" tersebut sambil menatap wajah Raka. Sesungguhnya hatinya juga tidak ingin pergi, ia ingin selalu dekat dengan Raka. Namun ia tidak bisa melakukannya, ada tanggung jawab yang harus di kerjakannya secara profesional. Meski hatinya sedih namun ia hanya bisa memastikan kepada Raka bahwa ia pasti akan kembali, meski ia sendiri tidak tahu kapankah itu.
"Sayang.. Kenapa kamu milih aku? Bagaimana seandainya semua ini tidak terjadi? Kita berdua tidak pernah bertemu kembali seperti ini? Apa kamu akan masih tetap bersama dengan tunanganmu itu?" Ara bertanya kepada Raka. Pertanyaan tersebut melintas begitu saja difikirannya.
"Ara, biarpun seandainya kita tidak bertemu lagi seperti ini, aku tetap akan pisah dari dia. Ra, aku sama dia memang tidak cocok sama sekali, buat apa aku terus berusaha keras menyatukannya? Aku juga tidak ada rasa cinta terhadapnya. Ara sayang.. aku milih kamu karena aku memang ada perasaan yang dalam sama kamu. Sembilan tahun Ra, tidak akan bisa musnah begitu saja. Lagipula ada sesuatu yang ada di diri kamu yang tidak kutemukan pada diri wanita lain, hanya kamu Ra yang bisa memberikan hal tersebut kepadaku." Ungkap Raka.
"Sesuatu hal di diri aku? Apa itu?"
"Kamu pasti tahu Ra, tanpa aku kasih tahu karena kamu seorang perempuan. Hanya kaum perempuan lah yang mengerti hal tersebut." Jawaban Raka tambah membuat bingung Ara. Ia sama sekali tidak mengerti dengan "Suatu Hal" yang dimaksud Raka tersebut.
Baru saja Ara hendak membuka mulut, hendak menanyakan maksud perkataan Raka, tiba-tiba Raka meletakkan sebuah jari telunjuknya ke bibir Ara sambil meminta agar Ara tidak usah membahas persoalan itu lagi. Raka merasa semuanya sudah clear. Tidak ada masalah yang mengganjal lagi. Masalah tentang "Suatu Hal" tersebut, Raka meminta agar Ara mencoba untuk mencari jawabannya sendiri.
"Aku sayang sekali sama kamu Maura." Ucap Raka sungguh-sungguh sambil mencium bibir Ara lembut. Manis bibir Ara sangat terasa di bibir Raka.
"Aku juga sayang banget sama kamu Raka." Ucap Ara pula di sela-sela ciuman demi ciuman lembut yang mereka berdua lakukan.
"Cepat datang kembali, aku akan selalu menunggumu." Ucap Raka lagi sambil memperdalam ciumannya. Ara mengangguk, ia memeluk tubuh Raka erat, sangat erat, seolah tak ingin melepasnya lagi.
Malam kian larut, sudah tiba saatnya untuk mereka kembali pulang. Saat Ara mengajak Raka pulang, Raka terlihat agak enggan. Ara pun sebenarnya masih sangat ingin terus bersama-sama berdua dengan Raka, kalau perlu sampai pagi mereka di situ. Namun itu semua tidak mungkin. Mereka berdua harus segera pulang.
Saat dalam perjalanan pulang, Raka mengendarai mobilnya cukup pelan. Ia tidak ingin segera tiba di rumah Rani. Ia masih sangat-sangat ingin bersama Ara. Raka meraih tangan Ara pelan, kemudian di letakkannya tangan Ara tersebut di atas tuas porsneling mobil, lalu Raka meletakkan tangannya di atas tangan Ara, sehingga meski Raka sibuk memindahkan porsneling mobil naik turun, namun tangan mereka berdua tetap selalu berpegangan erat.
"Raka, sebenarnya aku ingin kamu yang ngantar aku ke pelabuhan besok sore. Aku ingin saat kapal membawaku pergi, wajahmu lah yang terakhir kali aku lihat."
"Besok jam berapa ke pelabuhannya?"
"Jam lima-an."
"Akan ku usahakan Sayang. Tapi aku tidak janji. Soalnya aku kerjanya di kota, aku baru bisa pulang jam lima-an. Sampai di sini pasti sudah jam enam kurang. Tapi aku akan mengusahakan untuk pulang lebih awal." Ucap Raka. Ia tidak mau memberikan harapan yang berlebih terhadap Ara. Ia takut wanita yang sangat dikasihinya tersebut kecewa apabila ia tidak bisa memenuhi harapannya.
Ara mengangguk. Raka kemudian mencium kedua pipi Ara pelan. Kemudian kening Ara, lalu kedua mata Ara, turun ke hidung Ara, terakhir pada bibir Ara. Setelah itu Ara turun dari mobil. Raka menyusul Ara. Ia ingin mengantarkan Ara sampai di depan pintu rumah Rani. Tangan mereka berdua berpegangan erat saat mereka mulai melewati gang yang kecil menuju rumah Rani. Gang tersebut sangat kecil, sampai-sampai hanya muat untuk di lewati sebuah sepeda motor saja. Saat tiba giliran melewati kebun pisang, tangan Ara tambah erat memegang tangan Raka. Raka tersenyum. Kini mereka telah tiba di depan pintu rumah Rani. Sebelum pulang Raka kembali mencium kening dan rambut Ara, agak lama kali ini, Raka sangat berat melepaskan kepergian Ara.
"Besok, bisa atau tidak bisanya aku ngantar ke pelabuhan, kamu akan ku kabarin. Andai aku tidak bisa ngantar, aku minta maaf. Aku minta kamu baik-baik dan hati-hati di jalan. Aku selalu mendoakan agar kamu tiba di Kalimantan dengan selamat. Andai sudah sampai di rumah segera kasih kabar aku ya. Jaga diri baik-baik di sana. Kapan pun kamu datang kembali ke sini, aku akan selalu berada di sini, menunggumu, sampai kapan pun itu. Namun aku harap kamu bisa datang kembali secepatnya. Aku akan selalu cinta dan sayang sama kamu." Ucapan Raka membuat Ara sangat terharu, tak terasa bulir-bulir air mata mengalir dari kelopak matanya. Raka menghapus air mata Ara dengan menggunakan telapak tangannya.
"Aku juga akan selalu cinta dan sayang sama kamu Ka, sampai kapan pun." Ucap Ara lirih, ia dan Raka berpelukan sangat-sangat erat.
Pukul dua belas kurang beberapa menit saat Ara masuk ke dalam rumah, masih ada Fadly dan Rani di ruang tamu. Mata Rani tampak sembab, mungkin sedih karena akan berpisah, fikir Ara. Ara tersenyum kepada kedua insan tersebut sambil kemudian pamit guna masuk ke kamar. Ara mengganti bajunya dengan sebuah celana pendek kain agak lusuh warna putih dan baju kaus warna kuning yang sudah sering sekali ia pakai buat tidur. Setelah berganti pakaian, Ara lantas berebahan di kasur. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar. Ia terbayang-bayang akan hal-hal yang barusan di lewatinya bersama Raka, pelukan-pelukan mereka, ciuman-ciuman mereka, serta semua kata-kata mesra mereka berdua. Ara kembali menitikkan air mata saat mengingat bahwa esok adalah hari terakhirnya di desa. Ia berjanji di dalam hati akan berusaha mencari kesempatan untuk bisa datang lagi meski hanya untuk beberapa hari saja. Tentu saja itu semua dilakukannya di sela-sela kesibukkannya sebagai seorang Psikolog. Tak berapa lama kemudian Ara pun tertidur.
¤
31 April,
Subuh hari setelah selesai beribadah, dengan tidak semangat Ara mulai melipat dan merapikan kembali semua baju-bajunya dan memasukkannya di dalam koper. Hati Ara miris, sedih membayangkan akan berada jauh dari Raka. Ketika hendak memasukkan baju-bajunya ke dalam koper, Ara melihat sebuah baju kaus berwarna hitam. Ara teringat dengan riwayat baju tersebut, baju pemberian dari Zacky. Ara teringat kembali peristiwa tempo hari saat Zacky memberikan baju itu, dimana Zacky mengungkapkan perasaannya terhadap Ara. Pada saat yang sama, Ara juga teringat saat-saat dimana ia menyampaikan kepada Zacky bahwa ia tidak bisa menerima cinta pria itu, saat-saat yang penuh dengan ketegangan.
Ara masih sibuk packing-packing bajunya saat ponselnya berdering. Ternyata dari wanita terkasih Ara. Wanita yang telah melahirkan, membesarkan dan mendidiknya selama ini, mamanya.
"Ara, lagi apa nak?"
"Lagi packing nih Ma. Kenapa Ma? Ade-ade baik-baik aja kan?"
"Ade-ade baik-baik aja. Jam berapa nanti ke pelabuhan?"
"Nanti sore. Rencananya sih jam lima. Kenapa memangnya Ma?"
"Mama mau nitip Mangga sama Sarikaya, Ara beliin ya. Mama pengen banget."
"Okey entar Ara cariin. Kalau Mangga Ara janji bawain, tapi kalau Sarikaya Ara gak janji ya Ma, soalnya lagi bukan musimnya."
"Oke gak apa-apa. Makasih ya Ra. Hati-hati di jalan ya Nak. Kalau kapalnya sudah mau jalan nanti kabarin mama ya. Key. Udah dulu ya Ra, ini para ponakanmu pada mau mandi dulu. Bye Ara."
"Bye juga Mama." Ucap Ara sambil menutup ponselnya kembali. Ara merencanakan nanti siang dia mau ke pasar untuk beli buah titipan mamanya.
Jam sepuluh lewat dua puluh Ara datang ke rumah Nirina, ia hendak mengajak Faiz ke pasar. Faiz setuju. Kemudian mereka pergi naik becak. Sesampainya di pasar, si abang becak mengantarkan mereka berdua sampai tepat di hadapan kios tukang jual buah. Ara terkejut saat mengetahui harga pasaran buah Sarikaya saat itu. Sangat mahal! Ternyata saat itu bukanlah musimnya buah Sarikaya. Setelah sedikit tawar menawar, sedikit rayu-rayu akhirnya harga Sarikaya lumayan diturunkan. Ara membelinya cukup banyak.
Saat Ara hendak melanjutkan membeli Mangga, Faiz mencegahnya. Menurut Faiz lebih baik Ara mengambil Mangga dari pohonnya yang ada di samping rumahnya saja, "Mumpung lagi bebuah banyak Ra." kata Faiz. Ara setuju. Mereka berdua lalu kembali pulang ke rumah Faiz. Setibanya di rumahnya, Faiz langsung memanjat pohon Mangganya. Lihai sekali, tampaknya ia sudah sering melakukannya. Faiz memetiknya sangat banyak. Satu dus mie penuh dengan Mangga hasil petikannya.
Saat Ara hendak membayar Mangga-Mangga hasil petikan Faiz, Faiz menolak. Ia sama sekali tidak mau Ara mengeluarkan duit untuk membayarnya. Ara sangat sungkan, ia tidak enak hati telah merepoti Faiz. Apalagi Mangganya banyak sekali. Ara benar-benar ingin membayar semua Mangga-Mangga itu, setidaknya Faiz sudah bersusah payah untuknya. Tetapi Faiz benar-benar menolak untuk menerima uang pemberian Ara, ia benar-benar ikhlas membantu Ara. Itulah yang disukai Ara dari diri Faiz, ia sangat tulus dalam menolong sesama, tanpa mengharap suatu imbalan apa pun.
Dari dalam hati yang paling dalam, Ara sangat ingin membalas jasa Faiz. Ia kemudian mengajak Faiz untuk makan siang bersama di sebuah restoran Padang, tidak jauh dari masjid besar. Kali ini Ara memohon agar Faiz tidak menolak ajakannya, Ara sangat berharap. Faiz mengangguk tanda bahwa ia setuju. Ara tersenyum riang. Lalu mereka berdua makan siang bersama di restoran Padang. Hidangan yang disajikan sangat lezat, Ara melihat Faiz sangat semangat menyantap hidangan-hidangan tersebut. Ara senang melihatnya, oleh-oleh buat mamanya pun sudah lengkap. Ara bisa bernafas lega.
Selesai makan siang bersama Faiz, Ara langsung pulang ke rumah Rani. Ia membawa dua buah dus kecil yang masing-masing dus berisi Mangga dan Sarikaya pesanan mamanya. Sesampai di rumah, Ara mengecek kembali barang-barangnya di dalam koper, ternyata sudah lengkap semua. Yang belum Ara simpan hanyalah peralatan mandinya. Rencananya, nanti peralatan mandinya akan ia simpan di sebuah kotak khusus dan akan diletakkannya di bagian paling luar kopernya, sehingga mudah diambil apabila nanti di kapal ia membutuhkannya. Barang-barang simple lainnya akan ia letakkan di dalam tasnya yang cukup besar.
Rani sekeluarga berencana agak lama tinggal di Kalimantan, oleh karena itu rumah yang mereka tempati sekarang rencananya akan di sewakan. Barang-barang milik Sandra yang ia rasa sangat penting baginya dititipkannya di rumah salah satu kerabatnya yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Setelah semua barang-barang dan koper-koper sudah selesai di kemas, untuk mempermudah mereka agar nanti sore tidak terburu-buru, siang itu semua barang-barang dan koper-koper mereka turunkan dan titipkan ke rumah salah satu kerabat Sandra yang terletak di pinggir jalan besar. Setelah semua barang dan koper-koper selesai mereka bawa turun ke rumah itu, Ara dan yang lainnya ditawari oleh kerabat Sandra itu makan siang dengan menu ikan bakar di rumahnya. Ara yang masih merasa kenyang, menolaknya dengan halus. Namun kerabatnya Sandra tetap memaksanya, Ara pun tidak enak hati untuk terus menolak tawaran sang empunya rumah. Akhirnya ia ikut mencicipi ikan bakar yang disajikan.
Setelah selesai makan dan mencuci piring-piring kotor bekas mereka makan, Ara dan Rani duduk-duduk di teras rumah. Tak lama datang Fitria. Rumah Fitria sangat dekat dengan rumah kerabat Sandra itu. Mereka bertiga mengobrol ngalor ngidul. Tak lama kemudian Nirina dan Faiz juga menampakkan batang hidungnya, mereka mengobrol kembali sambil tertawa-tawa. Fitria kemudian mengajak mereka semua naik ke rumah Sandra, "Biar perpisahannya lebih terasa", ucapnya. Mereka semua setuju dengan usul Fitria. Saat mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Sandra, mereka bertemu dengan Lidya, Sarah, Haniva, Shavira dan Marienha yang juga berencana mengunjungi Ara dan Rani sekeluarga untuk mengucapkan selamat jalan. Ara lantas mengajak Lidya dan yang lainnya untuk langsung ikut bersama mereka ke rumah Sandra.
Rombongan para kaum hawa kini telah tiba di rumah Sandra. Rumah yang selama ini menjadi tempat mereka berkumpul bersama-sama kini terasa lengang dan kosong. Beberapa dari para ladies tersebut ada yang memilih duduk di sofa yang sengaja di tinggal oleh Sandra, dan beberapa lagi ada yang lebih memilih untuk duduk selonjoran di lantai, termasuk Ara. Suasana perpisahan sangat terasa di siang menjelang sore itu. Pembicaraan yang mereka lakukan juga berupa kilas balik perjalanan persahabatan mereka dengan Ara semenjak Ara berkenalan dengan mereka semua. Kisah persahabatan yang penuh dengan canda tawa, penuh dengan kenangan-kenangan indah. Ara merasa selama bersahabatan dengan para sahabat barunya itu membawa warna lain di dalam kehidupannya. Hidup yang saat itu mulai terasa statis kini kembali berwarna, kembali ceria, kembali membawa semangat hidup yang baru.
Suasana mulai terasa haru ketika Fadly muncul di tengah-tengah mereka. Rani yang semula wajahnya terlihat muram, kini bersinar-sinar kembali. Fadly tersenyum dan menyapa Ara. Ara membalas senyuman dan sapaan Fadly dengan tidak terlalu bersemangat. Jujur di dalam hati, ia sangat ingin menjadi seperti Rani saat itu, didatangi oleh pria yang dicintainya. Namun Ara harus menelan kembali keinginannya, karena hal tersebut benar-benar tidak mungkin bisa terwujud. Raka tidak bisa menemaninya saat itu. Fadly dan Rani kemudian mojok berduaan di ruangan lain.
"Raka jadi ngantarin ke pelabuhan Ra?" Tanya Rani saat ia telah kembali dari mojok.
"Gak tahu nih Ran, belum ada kabar. tapi sepertinya sih gak jadi. Kayaknya gak bisa berharap lebih deh." Jawab Ara, terpancar jelas raut kekecewaan di wajahnya. Namun ia bisa menahan rasa kecewanya tersebut dikala ia teringat kata-kata Raka semalam yang mengatakan kemungkinan Raka tidak bisa mengantarnya ke pelabuhan. Ara menunduk, bayang-bayang wajah Raka menari-nari di pelupuk matanya. Seperti secara otomatis pikiran Ara memutar kembali masa-masanya sedang bersama dengan Raka, mulai dari malam saat ia baru bertemu dengan Raka untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun sampai dengan tadi malam saat Raka memeluk tubuhnya erat dan mencium keningnya sebelum Raka berlalu dari hadapannya dan menghilang di balik kegelapan malam.
Jam yang melingkar di pergelangan tangan Ara kini sudah menunjukkan pukul tiga lewat lima belas, Ara menarik nafas panjang. Ia merasa sangat rindu dengan Raka, ia sangat berharap dapat bertemu dengan Raka. Akan tetapi ia juga sadar bahwa ia tidak bisa berharap banyak akan hal itu. Ponsel Ara tiba-tiba berdering, Ara terlonjak kaget, Rani dan teman-temannya yang lain menatapnya. Ara menjawab teleponnya.
"Raka, gimana?" Tanya Ara tanpa basa basi.
"Ara. Maaf Sayang, aku benar-benar tidak bisa mengantarkan kamu ke pelabuhan sore ini. Aku sudah berusaha mengupayakannya, namun pekerjaanku terlalu banyak, dan tidak bisa di tinggalkan. Sayang, aku benar-benar minta maaf."
"Gak apa-apa kok Sayang, aku bisa ngerti. Aku pasti akan baik-baik saja kok Sayang. Kamu juga baik-baik aja ya di sini, jangan macam-macam. Aku sayang kamu, I love U." Ujar Ara, meski kecewa namun ia tidak ingin menunjukkan kekecewaannya tersebut kepada Raka, ia tidak ingin Raka khawatir terhadapnya.
"Begitu sampai hubungin aku ya Sayang, jangan sampai lupa. Kamu juga hati-hati dan baik-baik ya di kapal. Jangan lupa pakai jaket. Aku juga sayang sama kamu, love U too." Ucap Raka sambil mengakhiri pembicaraan mereka.
Ara meletakkan ponselnya ke lantai dengan lemah, ia menatap Rani dan menggelengkan kepalanya pelan. Rani mengerti dengan isyarat yang diberikan Ara kepadanya. "Sabar Ara." Kata Rani. Ara mengangguk lemah dan berusaha tersenyum. Rasa kangen Ara tehadap Raka mulai memuncak, dada Ara terasa sesak, ia ingin menangis.
Pukul setengah lima kini, sebentar lagi mobil sewaan yang akan mengantarkan mereka ke pelabuhan akan segera datang. Para kaum hawa kini beranjak turun ke rumah kerabat Sandra kembali. Sesampainya di rumah tersebut, Sandra mengingatkan Ara dan Rani bahwa rencananya setengah jam lagi mobil sewaan akan datang. Ara dan Rani segera bergegas pergi ke kamar mandi. Sementara itu para kawan-kawan mereka kini berkumpul di teras rumah Fitria yang berhadapan langsung dengan rumah kerabatnya Sandra. Mereka mengobrol ngalor-ngidul untuk memecah suasana sedih yang menyelimuti mereka, sedih karena akan melepas kepergian kedua sahabat mereka. Jarak yang cukup luas akan terbentang diantara mereka kini.
Ara dan Rani selesai bersiap-siap, kini mereka berdua telah siap untuk berangkat ke pelabuhan. Sore ini Ara mengenakan celana panjang jins berwarna hitam, dipadu dengan baju berlengan pendek pas badan berwarna merah tua. Ara sengaja mengikat seluruh rambutnya kali ini sehingga leher Ara yang panjang terlihat jelas. Meski hanya berdandan biasa dan menggunakan sandal namun kecantikan Ara sepertinya sama sekali tidak bisa disembunyikan. Ia terlihat sangat cantik dan anggun. Andai ada Raka saat itu pasti lah pria itu akan terpesona dengan aura kecantikan yang keluar dari tubuh Ara.
Pukul lima sore tepat, mobil jemputan akhirnya datang juga guna mengantarkan mereka serombongan ke pelabuhan. Suasana perpisahan berlangsung haru sore itu. Ara dan Rani memeluk satu-persatu para sahabat mereka, banyak diantara mereka yang tidak kuasa menahan air mata. Ara dan Rani sebisa mungkin menahan air mata mereka yang mendesak ingin segera keluar. Dada Ara sesak, ia berjuang sekuat mungkin menahan air matanya yang hendak tumpah. Shavira memeluk Ara erat, ia sangat sedih ditinggal Ara. Ia masih sangat ingin ada Ara disisinya, menemaninya bercerita ataupun membantunya mengerjakan tugas sekolahnya. Fitria serta Nirina memeluk Rani tak kalah eratnya, mereka bertiga selalu bersama-sama setiap saat, kini trio mereka terasa tidak lengkap lagi. Untuk meredakan kesedihan para sahabatnya itu, Rani berjanji kepada Fitria dan Nirina bahwa ia akan selalu rajin menghubungi mereka berdua, Rani kembali memeluk Fitria dan Nirina erat. Ara berjanji kepada para sahabatnya semua bahwa ia akan selalu senantiasa menghubungi mereka semua.
Tak lama kemudian Fadly muncul dan langsung mendatangi Rani, Fadly memeluk dan mencium kening Rani hangat. Fadly berpesan agar Rani berhati-hati selama di perjalanan, dan sesampainya di Kalimantan agar segera menghubunginya kembali. Rani mengangguk, matanya berkaca-kaca, ia tidak kuasa menahan air matanya. Dada Fadly kini basah oleh air mata Rani. Saat bertatapan dengan Ara, Fadly tersenyum, ia berpesan agar Ara juga berhati-hati. Fadly menitipkan Rani kepada Ara, Ara mengangguk dan tersenyum kepada Fadly. "Beres Fad, Rani akan aman bersama kami." Ucap Ara.
Setelah semua barang bawaan sudah masuk ke dalam bagasi mobil, kini mereka telah siap berangkat. Ara, Rani dan Vanya berada di dalam satu mobil, sedangkan Sandra, ibunya, dan Kayla berada di mobil yang lain. Mobil Ara sebelum benar-benar berangkat ke pelabuhan, mampir dulu untuk menjemput penumpang yang satu lagi. Oma Dina, omanya Ara yang tinggal di desa itu juga hendak berangkat ke Kalimantan. Ketika ia mendengar bahwa Sandra sekeluarga hendak ke Kalimantan, maka ia pun memutuskan untuk ikut bersama rombongan Sandra.
Saat tiba di rumah Oma Dina, suasana sudah ramai dengan para keluarga Oma Dina yang pada berdiri di halaman rumah menemani Oma Dina menunggu mobil jemputannya. Pada saat salah satu anak Oma Dina melihat Ara yang juga berada di dalam mobil jemputan, ia terkejut. Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa Ara selama ini berada di desa itu.
"Ara, kok kamu ada di dalam mobil? Kapan datang? Sama siapa? Sudah berapa lama di sini?" Tanya tante Sisi, anak sulung Oma Dina. Pertanyaannya banyak sekali, seperti mau di wawancara saja, fikir Ara.
"Gak terlalu lama kok Tante, sekitar dua mingguan lah, datangnya sama-sama tante Zahara. Tetapi ia pulang duluan sama-sama anaknya Om Thamrin." Jelas Ara singkat, ia sedang tidak semangat untuk mengobrol banyak, karena saat ini ia sedang bersusah payah untuk menguatkan hatinya agar tidak menangis.
"Kenapa cepat-cepat pulangnya? Nanti saja, di sini saja dulu. Ara betah tidak tinggal di sini?" Tanya tante Sisi lagi. Tampaknya tante Sisi ini senang sekali menginterogasi aku dengan beribu-ribu pertanyaannya, fikir Ara lagi sambil sedikit meng-dramatisasi.
"Betah Tante, betah sekali malah. Sebenarnya sih malah belum pingin pulang, tapi kerjaan udah nunggu nih Te, gak enak kalau harus ninggalin lama-lama." Ujar Ara jujur, sangking jujurnya saat Ara sedang tertawa bersama dengan tante Sisi, air mata Ara mengalir di kedua pipinya, untung hanya sedikit. Ternyata Ara sudah hampir tidak sanggup menahan tangisnya.
Setelah barang-barang Oma Dina semuanya sudah masuk ke dalam bagasi, akhirnya mobil pun melanjutkan perjalanan ke pelabuhan kapal laut. Hari sudah memasuki malam ketika mereka tiba di kota, masih ada satu setengah jam lagi perjalanan menuju ke pelabuhan. Kali ini di kota, mobil kembali berhenti di salah satu rumah kerabat Oma Dina. Oma Dina masuk ke dalam rumah agak lama. Saat Ara, Rani, Vanya beserta sopir mobil dan asistennya sedang menunggu Oma Dina kembali, tiba-tiba kaca mobil mereka di pukul oleh seorang wanita dari arah luar. Rani yang sedang melamun membayangkan wajah Fadly terkejut ketika jendela disampingnya dipukul dengan keras. Rani, Ara, dan Vanya hanya bisa terdiam membisu melihat kejadian tersebut. Mereka bertiga deg-degan, jantung mereka berdegup sangat kencang.
Sang sopir dan asistennya langsung turun dari mobil dan menanyakan apa maksud wanita itu. Sang wanita yang ternyata istri dari sang asisten sopir mencurigai suaminya selingkuh dengan wanita lain. Mungkin ia mendapatkan kabar bahwa saat itu suaminya sedang bersama dengan para wanita. Ara dan Rani yang semula shock atas peristiwa itu kini malah tertawa.
"Memang benar suaminya sedang bersama wanita-wanita, ya kita-kita ini Ra wanitanya. Tapi suaminya itu kan cuma kerja, ngantarin kita ke pelabuhan, jadi gak sepantasnya dong dia segitu cemburunya." Rani berkata kepada Ara sambil tertawa. Ara mengangguk, setuju dengan perkataan Rani.
"Iya Ran, betul kamu, tuh contoh istri yang suka cemburu buta, masa suaminya kerja dikirain selingkuh. Aneh-aneh saja. Hehehe.." Sahut Ara sambil terus tertawa. Vanya yang masih shock, hanya bisa terdiam. Wajahnya pucat pasi, ia bingung dengan keadaan yang tengah berlaku. Beberapa menit kemudian Oma Dina kembali ke dalam mobil, mereka pun akhirnya bisa meneruskan kembali perjalanan menuju ke pelabuhan.
Satu setengah jam kemudian mereka telah tiba di pelabuhan, kedua mobil tersebut secara beriringan masuk ke dalam halaman parkir. Kapal yang rencananya akan mereka tumpangi belum datang. Setelah menurunkan semua barang-barang bawaan, mereka lalu duduk-duduk santai di dekat barang-barang mereka sambil menunggu kedatangan kapal. Ara tiba-tiba merasa lapar, ia mengajak Rani untuk memberi beberapa jajanan sekedar untuk mengganjal perut. Meski merasa lapar, Ara tidak terlalu bernafsu untuk makan, hatinya terlalu sedih sehingga mood-nya benar-benar hilang. Hanyalah Raka yang saat ini menari-nari di dalam benak dan fikiran Ara sehingga mampu membunuh rasa lapar yang ada di dalam tubuh Ara. Ara dan Rani membeli beberapa macam gorengan untuk mereka santap beramai-ramai. Sandra dan ibunya telah menyiapkan nasi dan lauk di dalam tasnya, yang rencananya akan mereka santap beramai-ramai apabila sudah berada di atas kapal nanti.
Ara sedang duduk memeluk lututnya sambil memandangi Sandra yang tengah memeluk Kayla di dadanya, berusaha agar anak bungsunya yang masih kecil itu tetap hangat di tengah dinginnya udara malam. Ketika Sandra memberitahukan Ara bahwa ia melihat sosok Raka di kejauhan, Ara tertawa kecil mendengarnya. Ia menganggap Sandra berhalusinasi. Tidak mungkin Raka berada di tempat itu fikirnya. Sandra bukannya membantah ucapan Ara, namun ia malah tersenyum penuh arti kepada Ara. Ara cuek aja, ia tetap memperhatikan Kayla yang tertidur nyenyak di dada ibunya.
Bahu Ara terasa ada yang menyentuhnya dengan lembut. Ara tersentak kaget, ia menoleh, terhenyak, Ara melihat Raka di hadapannya. Ara sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dikuceknya matanya, ternyata masih Raka yang dilihatnya di depan matanya. Ara tersenyum girang. Ia berdiri, melingkarkan tangannya di leher Raka, kemudian Raka memeluk Ara erat. Raka mencium kening Ara. Ara menangis haru di pelukan Raka, rasa rindunya seharian ini telah terobati. Raka memeluknya dengan sangat erat. Raka tersenyum kepada Sandra, Sandra membalas senyuman Raka. Ara menoleh kepada Sandra.
"Kok gak bilang-bilang Kak, ada Raka datang?" Tanya Ara sambil mengajak Raka duduk bersamanya di samping Sandra.
"Kan tadi udah dibilangin, tapi Ara tidak percaya." Jawab Sandra santai.
"Iya ya.. Hehehe.. Habis kayaknya gak mungkin sih." Sahut Ara sambil cengengesan. Hatinya sangat girang saat itu. Kehadiran Raka disisinya membuat kesedihannya sedikit terobati. Raka terus memegangi tangan Ara dengan erat, seolah tidak ingin merelakan wanita yang sangat dicintainya itu pergi.
Telah tiga jam lamanya Ara, Oma Dina dan Rani sekeluarga berada di pelabuhan menunggu kapal yang akan mereka tumpangi datang, mereka mulai tampak lelah dan mengantuk. Ara duduk di samping Raka. Raka merebahkan kepala Ara ke pundaknya, ia merasa kasihan melihat Ara yang kelelahan. Wajah layu Ara membuat Raka ingin sekali memeluk wanita itu kemudian merebahkannya ke ranjang yang empuk, menyelimutinya, mencium keningnya sehingga ia bisa tertidur dengan lelapnya. Raka mencium lembut ubun-ubun Ara. Wangi sampo Ara masih tercium hidung Raka. Ara memeluk tubuh Raka dari arah samping dengan erat, ia enggan melepaskan Raka.
Akhirnya setelah beberapa jam menunggu, kapal yang mereka tunggu-tunggu pun datang juga, para penumpang pada bersiap-siap untuk bergegas naik ke atas kapal. Ara dan Raka berdiri berhadap-hadapan, Raka memeluk tubuh Ara erat, sangat erat. Tubuh Ara sangat-sangat enggan dilepaskannya, Ara pun begitu. Saat Ara berada dipelukannya, Raka merasakan bahwa tubuh Ara sangat dingin. Setelah ia memerhatikan dengan seksama ternyata gadis berwajah agak pucat yang berada di hadapannya itu tidak membawa jaket. Segera Raka melepaskan jaket coklat tua agak tebal yang sedang dikenakannya, kemudian segera dipakaikannya jaket tersebut ke tubuh Ara. Jaket itu berbahan sangat halus, pada bagian leher dan kedua tangannya berwarna hitam, terdapat dua saku pada bagian kanan dan kiri bawahnya. Jaket milik Raka itu terasa nyaman di tubuh Ara. Aroma tubuh Raka menempel sangat kuat pada jaket itu, seolah membuat Ara selalu merasa Raka sedang memeluk tubuhnya. Menjaga tubuh mungilnya dari tusukan dingin angin malam.
"Jangan lupa semua pesan-pesan yang telah ku sampaikan ke kamu ya Sayang." Ujar Raka pelan.
"Iya Sayang, tidak akan aku lupa satu pun." Sahut Ara dengan air mata yang mulai menggenangi pelupuk matanya.
"Hati-hati, jaga diri. Take care ya Ara."
"Sama-sama Ka."
"Aku sangat sayang dan cinta kamu Ara."
"Aku juga Ka, always and forever." Air mata Ara kini mengalir dan membasahi dada Raka. Raka mencium kening dan mata Ara pelan-pelan, kemudian memeluk Ara lagi.
Telah tiba saatnya kini mereka berdua harus berpisah. Ara sudah harus naik ke atas kapal. Dengan sangat berat Raka melepaskannya. Ara berjalan pelan melangkah naik ke atas kapal mengikuti langkah-langkah Rani dan yang lain. Saat Ara berada di antara anak tangga, langkah Ara tiba-tiba terhenti. Ia menatap ke arah Raka yang berada di dekat kapal, diantara para pengantar penumpang yang lain. Raka membalas tatapan mata Ara, tersirat kesedihan yang sangat dalam pada tatapan keduanya.
Kapal telah bertiup tiga kali, menandakan bahwa tidak lama lagi pelayaran akan dimulai. Ara dan Rani berdiri pada sisi kapal, menatap ke arah para pengantar penumpang. Raka masih berdiri di bawah sana, ia sama sekali tidak bergeming sesenti pun dari tempatnya melepaskan Ara tadi. Raka menatap ke arah Ara, bibirnya terkatup rapat, menahan perih di dadanya. Kini ia harus kembali berada jauh kekasih hatinya. Ara merasakan hal yang sama dengan Raka, bibirnya pun terkatup rapat. Hanya matanya saja lah yang terus bertatapan dengan mata Raka. Tatapan mata mereka berdua seakan berkata bahwa mereka akan selalu mencintai sampai kapanpun jua meski akan terbentang jarak dan lautan yang memisahkan mereka. Namun cinta mereka berdua tetap akan abadi selamanya.
Kapal mulai bergerak perlahan. Ara melambaikan tangannya ke arah Raka, begitu pula dengan Raka, ia membalas lambaian tangan Ara. mata mereka tetap bersitatap, mencoba bertahan selama mungkin. Mata Ara terasa panas, air matanya berontak ingin keluar. Keinginan Ara kini telah terwujud, Raka lah yang ia lihat untuk terakhir kali sebelum kapal membawa pergi. Raka masih belum bergeming dari tempatnya, Ara mencoba menghubungi nomor ponsel Raka.
"Sayang, kenapa masih di situ? pulang lah, udaranya dingin sekali. Nanti kamu bisa sakit." Ujar Ara ketika Raka menjawab telponnya.
"Aku ingin melihatmu sampai kamu benar-benar tidak terlihat lagi oleh ku."
"Tapi kan dingin banget Ka. Aku juga bentar lagi masuk ke dalam. Raka ku sayang, kamu pulang ya.. Aku mohon, aku gak mau kamu sampai sakit gara-gara aku. "
"Baiklah, aku pulang sekarang. Tapi janji ya jaga diri baik-baik, take care and be careful. I love and miss u so much."
"Me too honey.
Setelah Ara menutup telponnya, ia beserta Rani pun berencana langsung masuk ke dalam kapal. Udara di luar kini terasa dingin sekali. Namun saat mereka baru melangkahkan kaki beberapa langkah, tiba-tiba dari pengeras suara diberitahukan bahwa pemeriksaan tiket tidak lama lagi akan dilangsungkan, dan pintu-pintu pun akan segera ditutup. Ara dan Rani tersontak kaget, mereka berdua lalu bergegas melangkah dengan sangat cepat. Ruangan yang mereka tempati rupanya berada empat lantai di bawah mereka. Karena takut pintu-pintunya keburu di tutup, Ara dan Rani bergegas berlari dan secepat mungkin menuruni anak-anak tangga. Angin yang kencang dan hujan yang mulai turun menambah ketegangan Ara dan Rani.
Sebenarnya Ara tidak terlalu khawatir dengan pemeriksaan tiket karena Ara sedari tadi telah membawa tiketnya yang ia masukkan ke dalam kantong celananya. Namun lain halnya dengan Rani, tiketnya ia titipkan kepada ibunya, sedangkan ibunya kini sedang bersama dengan yang lain entah berada di Dek berapa. Ara dan Rani beserta yang lain berada di kelas ekonomi. Mereka suka memesan kelas tersebut, karena di kelas ekonomi suasananya ramai, mereka menjadi punya banyak teman di situ. Mereka berdua sangat panik dan terus berlari. Mereka berdua akhirnya menemukan sebuah pintu. Mereka memasuki pintu tersebut, mereka berdua merasa sedikit lega. Namun baru beberapa detik bernafas lega kini mereka berhadapan dengan masalah baru, mereka berdua sama sekali tidak mengetahui di Dek berapa mereka berada saat itu. Setelah bingung beberapa saat, Rani akhirnya mengajak Ara untuk turun satu Dek lagi. Sesampainya, mereka menemukan sebuah pintu yang menghubungkan dengan Dek yang ada disebelahnya. Namun ketika Rani hendak membukanya ternyata pintu tersebut terkunci.
Mereka kembali panik, mereka berlari mencoba pintu yang lain, namun terkunci juga. Mereka terus mencoba namun sia-sia, kini semua pintu telah terkunci. Ara dan Rani sangat panik, jantung mereka berdua berdegup sangat kencang. Rani sangat cemas dengan apa yang akan menimpa mereka nanti. Ia khawatir kalau ia akan disangka penumpang gelap, lalu ia diberi hukuman oleh para awak kapal yaitu di turunkan ke laut menggunakan sebuah sekoci kecil dan tinggalkan begitu saja. Keringat dingin Rani kini mulai keluar, ia beserta Ara terduduk di lantai dekat pintu. Mereka hanya bisa pasrah menunggu apa yang akan para awak kapal lakukan kepada mereka berdua.
Saat-saat yang mereka berdua khawatirkan pun akhirnya datang juga, para awak kapal yang bertugas untuk memeriksa tiket kini sedang berjalan ke arah Ara dan Rani. Wajah-wajah para awak kapal itu sedikit menyeramkan, membuat jantung Ara dan Rani berdegup sangat-sangat kencang. Lutut Ara sampai lemas dibuatnya. Ara benar-benar khawatir akan nasib Rani. Setibanya di dekat Ara dan Rani, para awak kapal pun segera meminta tiket Ara dan Rani untuk di periksa, dengan sedikit gemetar Ara menyerahkan tiketnya kepada para petugas tersebut. Tiket Ara langsung mereka lubangi agar tidak bisa digunakan pada kemudian harinya lagi. Setelah dilubangi tiket tersebut dikembalikan lagi kepada Ara.
Kini tiba saatnya giliran Rani untuk diperiksa tiketnya. Wajah Rani tampak sangat pucat. Jantungnya berdegup sangat-sangat kencang, laksana gunung merapi yang siap memuntahkan semua lahar-lahar panasnya. Rani menerangkan dengan jelas keadaannya sekarang, bahwa tiket miliknya terbawa oleh ibunya yang berada entah di Dek berapa. Para awak kapal tersebut ternyata tidak mudah percaya begitu saja terhadap ucapan Rani, mereka menanyakan sekali lagi di mana tiket Rani. Mereka mengancam apabila Rani terbukti seorang penumpang gelap, maka mereka akan memberikan sangsi yang sangat tegas terhadap Rani. Ara sangat takut dibuatnya. Sedangkan Rani, meskipun jantungnya sudah mau copot, namun ia tetap mengusahakan dengan tenang sekali lagi memberikan penjelasan singkat terhadap para awak kapal tersebut.
Kali ini tampaknya usaha Rani telah berhasil, para petugas kapal itu percaya dengan apa yang dikatakannya. Para awak kapal itu menyuruh Ara dan Rani mengikuti mereka memeriksa tiket para penumpang, sehingga apabila apa yang dikatakan Rani memang benar adanya, maka Rani akan bertemu dengan ibunya. Pada waktu Ara dan Rani tengah berjalan mengikuti para ABK (Anak Buah Kapal) tersebut bekerja memeriksa tiket, tidak sedikit para penumpang pria yang iseng mengganggu mereka berdua. Kecantikan kedua gadis tersebut rupanya bukan hanya membuat para penumpang saja yang ingin menggoda mereka, namun juga ada beberapa ABK yang ikutan menggoda. Ara dan Rani hanya tersenyum kecut. Mereka berdua ingin segera menemukan ibunya Rani dan yang lainnya agar penderitaan mereka berdua segera berakhir.
Setelah lama berkeliling bersama para petugas, akhirnya Rani menemukan ibunya. Rani memandang Ara dan tersenyum girang. Perasaan Ara langsung lega seketika. Ara serta Rani kini bisa tertawa riang. Beberapa petugas kapal tersebut sebelum pergi ada yang menyempatkan untuk menanyakan nama dan nomor ponsel Ara dan Rani, namun Ara dan Rani hanya senyum-senyum saja menanggapi kelakuan para ABK iseng itu.
"Makanya lain kali kalau mau jalan-jalan setelah pemeriksaan tiket aja, atau setidaknya selalu bawa tiket kalau mau jalan-jalan sebelum pemeriksaan." Nasehat Sandra kepada Rani. Ibunya Sandra menganggukkan kepala tanda setuju atas apa yang diucapkan Sandra barusan.
"Iya.. Iya.. Tidak lagi kok.." Sahut Rani cengengesan, ia memang sudah kapok dengan apa yang barusan ia dan Ara alami. Rani kemudian berbaring disamping Ara.
"Petugasnya yang nanyain nomor ponsel kamu tadi cakep juga ya Ra, sayang kamu tidak kasih tahu nama dan nomor ponsel kamu itu. Kalau kamu tadi kasih kan kita bisa punya pemandangan seru di atas kapal ini." Bisik Rani tepat ditelinga Ara.
"Dasar candu.. Ayo nanti kita datangin. Siapa tahu dapat coffelate gratis di Caffe atas." Ujar Ara sambil tertawa. Rani pun ikut tertawa.
Malam itu sangat dingin. Ara mendekap erat jaket pemberian Raka. Aroma wangi tubuh Raka yang melekat di jaket membuat Ara merasa nyaman, hangat dan tenang. Laksana dalam pelukan seorang Raka Al-Fahrezy. Ara melihat jam di pergelangan tangannya, hampir tengah malam. Rasa kantuk yang semasa di pelabuhan tadi menyerangnya kini telah raib entah ke mana, matanya masih belum mau diajak tidur. Ara menoleh ke sampingnya, ke arah Rani. Dipanggilnya pelan wanita yang berstatus "Tante" namun karena umur mereka yang hanya berbeda sedikit membuat wanita itu enggan untuk dipanggil "Tante". Rani yang semula memejamkan mata, melamunkan Fadly, menyahuti panggilan Ara sambil membuka matanya secara perlahan.
"Sudah tidur ya Ran?"
"Belum, ingat sama Fadly, kangen."
"Dingin nih, mau ke atas gak? Cari yang hangat-hangat. Mungkin ada Coffelate, Moccacino, atau Capuccino hangat. Aku dingin banget."
"Kalau tidak ada yang kamu sebutin barusan, gimana Ra?"
"Bodo ah, kopi tubruk juga gak apa-apa. Ayo, mau gak ke atas? Siapa tahu ada awak kapal idolamu itu."
"He.eh, mau.. Ayo Ra." Rani akhirnya mau ikut bersama Ara ke Caffe di Dek atas.
Ara dan Rani kini berada di sebuah Caffe yang cukup hangat, sangat kontras dengan dinginnya angin malam di luar sana. Mereka berdua duduk di sebuah sofa berwarna merah yang terletak di pojok kiri ruangan Caffe tersebut. Ara memesan Coffelate kesukaannya, sedangkan Rani memesan Moccalate. Rasa hangat kini mengalir di tubuh kedua gadis itu. Wajah Ara sudah tidak sepucat sebelumnya. Rona-rona merah telah muncul di pipinya kini, menandakan bahwa aliran darahnya telah mengalir lancar kembali. Suasana Caffe malam itu lumayan ramai. Musik yang disuguhkan pun sangat enak di dengar. Ara dan Rani merasa enjoy menikmatinya.
"Andai ada Fadly dan Raka di sini saat ini, pasti suasana malam ini akan tambah menarik ya Ra." Ucapan Rani memecah kebisuan yang secara tidak sengaja tercipta diantara keduanya.
"Ya Ran, kamu betul banget. Pasti bukan hanya kopi-kopi ini aja yang bikin kita hangat." Sahut Ara sambil menyunggingkan senyum usilnya kepada Rani, lalu mereka berdua tertawa lepas, mencoba mengusir rasa kehilangan orang yang mereka sangat cintai walau hanya untuk sekejap.
Band bintang tamu malam itu membawakan sebuah lagu lama yang mengiris hati. Suara melankolis sang vocalist wanita membuat nyawa lagu tersebut terasa benar-benar menggetarkan hati, terutama bagi Ara dan Rani. Lagu tersebut sungguh-sungguh kena di hati mereka. Mereka terdiam, mata mereka berkaca-kaca menghayati makna yang terkandung di dalam lirik lagu tersebut. Setelah lagu yang mengharukan itu berakhir, Ara dan Rani saling pandang, mereka pun kemudian tertawa lepas. Menertawakan ekspresi wajah mereka satu sama lain.
"Ra, coba kamu lihat ke arah jam tiga, ada yang sedang memperhatikan kita."
"Oya?" Gumam Ara sambil mengarahkan pandangannya ke arah jam tiga sesuai dengan apa yang telah di instruksikan oleh Rani. "Lumayan Ran, kalau di suruh nilai dari A sampai D, ya kira-kira poinnya B lah."
"B kok lumayan sih? B tuh udah hampir maksimal loh."
"Tapi kan belum maksimal, makanya B. Di sudut jam sembilan, kira-kira B plus lah."
"Weleh-weleh bener banget Ra, bening banget." Sahut Rani sambil tertawa.
"Dasar candu.. Tuh awak kapal idolamu muncul sama teman-temannya." Ujar Ara sambil menunjukkan dengan dagunya ke tempat sosok yang ia maksud kepada Rani.
Saat Rani menoleh ke arah yang ditunjukkan Ara, secara sangat kebetulan ternyata sosok awak kapal yang ditunjuk oleh Ara itu tengah melihat ke arah tempat mereka berdua. Sang awak kapal yang lumayan tampan itu, yang menurut Ara pribadi pointnya adalah B, kini tengah berjalan menuju ke arah mereka berdua. Rani sebenarnya sedikit deg-degan, namun ia memasang gaya yang sok cool, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Lain lagi halnya dengan Ara, ia santai saja, menurutnya mana ada pria yang akan terpesona olehnya dengan penampilannya yang cukup rembes malam itu. Lagipula sudah ada sosok Raka dihatinya dan tidak akan ada yang bisa mengganggu-gugat.
"Malam semuanya, boleh gabung tidak? Sepertinya kalian sedang sedih ya malam ini?" Tanya sang ABK yang cukup tampan itu.
"Hmmm... Boleh aja, asal tidak berniat macam-macam." Jawab Ara sambil memasang tampang dingin. Ia masih ingat bahwa sang awak kapal itulah yang ketika sedang memeriksa tiket tadi selalu menggodanya. Rani senyum-senyum sambil menyikut siku Ara ketika mendengar jawaban Ara.
"Dijamin deh tidak akan macam-macam. Cuma ingin kenalan dan ngobrol-ngobrol saja dengan kalian berdua." Sahut sang ABK itu lagi. Ara dan Rani kemudian mempersilahkan sang ABK tampan itu bergabung dengan mereka. Dalam hati Ara berniat tidak akan berlama-lama di Caffe tersebut.
"Oia, kenalkan, namaku Ludi, aku adalah Asisten Kapten di kapal ini." Ujar si pria tampan yang ternyata bernama Ludi itu.
"Rani.." Ujar Rani sambil bersalaman dengan Ludi, mereka berdua saling tersenyum manis.
"Ara." Ucap Ara sambil menjabat tangan Ludi, lalu Ara menyeruput kembali kopinya dan duduk bersandar. Ludi memesan kepada pelayan minuman yang sama dengan punya Ara. Ia juga memesan beberapa makanan ringan. Jelas sekali terlihat bahwa ia sama sekali tidak berniat untuk hanya sebentar mengobrol dengan Ara dan juga Rani.
Ludi adalah sosok pria yang baik, sopan, dan ramah. Tampak sekali bahwa ia adalah pria yang cerdas. Itu semua tercermin dari semua jawabannya saat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Ara dan Rani. Saat Ara, Rani dan Ludi tengah asik berdiskusi tentang musik, tanpa diduga dari arah sebelah kiri Rani, seorang pemuda yang tidak kalah tampannya dengan Ludi, menyapa mereka bertiga. Pria itu adalah pria yang tadi berada di meja arah jam sembilan, yang Ara memberinya point B. Ternyata pria itu sedari awal memperhatikan Ara dan Rani. Pria itu tertarik dengan gaya santai nan cuek Ara dan Rani, gaya yang sama sekali tidak di buat-buat menurutnya.
"Hai all, boleh gabung? Nama aku Denny." Sapa pria tampan yang sekilas mirip sama Lionel Messi itu sambil menjabat tangan Ludi dengan gaya salaman khas anak band. Ara yang sudah cukup lama suka ngumpul dengan anak-anak band mengerti dengan cara salaman seperti itu. Dan ia pun bersalaman dengan Denny dengan cara yang sama. Rani juga ikut bersalaman dengan cara yang sama. Ludi dan Denny rupanya memang sudah saling kenal. Denny adalah salah satu vocalist band yang sedang mengisi acara di kapal yang tengah Ara tumpangi itu.
Denny orangnya hampir sama seperti Ludi, namun ia lebih banyak mengerti soal musik, maklum ia adalah seorang vocalist. Musik adalah hobinya Denny, sedangkan Sport adalah hobbinya Ludi. Untung saja Ara suka musik dan sedikit banyak suka sepak bola dan balap mobil F1, jadi ia tidak terlalu susah mengikuti obrolan yang terjadi diantara mereka ber-empat. Rani sebenarnya tidak terlalu suka dengan yang namanya sport, namun ia suka musik. Rani adalah pribadi yang lucu, penuh humor sehingga Ludi serta Denny sangat betah mengobrol bersama Ara dan Rani. Tanpa diduga Denny dan juga Ludi tertarik akan aura kecantikan dan keramahan Ara. Menurut mereka Ara enak di ajak ngobrol, bercerita apa saja dengan Ara selalu nyambung. Ara juga bijaksana dan dewasa. Didikan orang tuanya serta kerjaannya sebagai seorang Konsultan Psikolog lah yang membuat Ara menjadi seperti sekarang ini.
Malam sudah sangat larut, mata Ara sudah mulai mengantuk. Ara mengajak Rani untuk kembali ke ruangan mereka, Rani setuju. Mereka pamitan kepada Ludi dan Denny. Wajah kedua pemuda tampan tersebut menyiratkan kekecewaan yang sangat dalam. Mereka berdua masih sangat ingin untuk bercerita-cerita dengan Ara dan Rani, setidaknya untuk mengenal kepribadian mereka berdua lebih dalam lagi. Namun Ara dan Rani juga tidak bisa disalahkan, malam sudah sangat larut, keduanya sudah sangat lelah, butuh sekali istirahat. Sebelum Ara dan Rani benar-benar berlalu dari balik pintu Caffe, Ludi dan Denny menyempatkan untuk menanyakan nomor ponsel Ara dan Rani. Kedua gadis itu lantas memberikan nomor ponsel mereka kepada kedua sahabat barunya itu. Ara dan Rani yakin sekali bahwa mereka berdua adalah pemuda baik-baik.
Sesampainya di kasur masing-masing, Ara dan Rani senyum-senyum ketika mengingat kedua sahabat barunya itu. Rani mengatakan bahwa ia dapat melihat dengan jelas bahwa kedua pria itu jatuh hati kepada Ara. Ara tertawa-tawa kecil mendengar pernyataan Rani, ia sama sekali tidak menanggapinya secara berlebihan. Dengan santai ia mengatakan kepada Rani bahwa ia berterima kasih jika kedua pria tersebut menyukainya, namun ia tidak bisa memberikan balasan lebih selain hanya akan menganggap mereka berdua sebagai sahabatnya saja, tidak lebih. Karena sudah ada seseorang saat ini yang telah mengisi relung-relung hatinya. Rani tersenyum mendengar perkataan Ara, dalam hati ia salut terhadap kesetiaan ponakannya itu. Tak lama kemudian sambil mendekap erat jaket masing-masing, kedua gadis jelita itu pun akhirnya tertidur.
¤
01 Mei,
Matahari telah muncul di ufuk pada saat kapal yang ditumpangi oleh Ara dan yang lainnya masuk di perairan Kalimantan. Tinggal beberapa jam lagi kapal akan merapat di dermaga pelabuhan kota kelahiran Ara. Perasaan Ara campur aduk antara senang dan sedih. Ia senang karena sebentar lagi ia akan kembali bertemu dengan keponakan kembarnya tersayang yang lucu-lucu, namun di lain sisi ia juga merasa sedih karena kini ia telah berada jauh dari Raka, pria yang juga ia sangat sayangi.
Selesai mandi, Ara yang mengenakan celana pendek jins dan kaus T-shirt pas badan buatan asli Jogja, beranjak ke serambi samping kapal sendirian. Ia hendak merasakan terpaan angin laut dan suara deburan ombak. Ara ingin menghibur hatinya walau sejenak. Ara sedang menikmati birunya air laut ketika ia merasakan sebuah tepukan ringan pada bahu sebelah kanannya di susul dengan sapaan seorang pria.
"Lagi ngapain sendirian di sini Ra? Ngelamun ya?" Tanya Denny yang tiba-tiba ada di sebelah Ara. Ara terkejut. Ia tadi tengah asik melamunin Raka sehingga tidak mengetahui jika ada seseorang berada di sebelahnya.
"Eh, Denny. Lagi ngeliatin laut aja, ombaknya bagus." Jawab Ara asal. Mukanya memucat, ia sangat malu Denny memergokinya tengah melamun.
"Mana Rani?"
"Di dalam, lagi siap-siap buat turun nanti." Jawab Ara. Ia dan Denny bercerita banyak pagi itu, penuh canda tawa. Denny benar-benar sosok yang menyenangkan.
Terdengar jelas di telinga Ara pengumuman yang memberitahukan bahwa dalam waktu dua jam lagi kapal akan merapat di pelabuhan. Denny menatap Ara yang terdiam, sibuk dengan pikirannya sendiri. Denny tidak ingin kehilangan kesempatannya bersama Ara yang tinggal sedikit sekali itu. Ia mulai menanyakan banyak hal tentang kehidupan pribadinya Ara. Semakin banyak Denny mengetahui tentang Ara, maka semakin ia tertarik akan pribadi Ara. Menurutnya Ara benar-benar cocok untuknya.
Denny pria tampan bertubuh jangkung, kulitnya putih. Wajahnya bukan hanya sekilas mirip Lionel Messi, tetapi memang benar-benar mirip. Kalau Denny mengaku sebagai kakaknya Messi, Ara yakin pasti banyak sekali orang yang akan percaya akan hal itu. Denny mengatakan kepada Ara, bahwa tidak lama lagi bandnya akan tampil di kota kelahiran Ara. Bandnya akan di kontrak selama dua bulan oleh salah satu hotel untuk menjadi Home Band di Caffe hotel tersebut. Ara sangat senang mendengarnya. Ara berniat suatu saat nanti ia akan datang ke Caffe tersebut untuk menyaksikan penampilan Denny secara live.
Setelah beberapa saat mengobrol ngalor ngidul bersama Denny, Ara pamit kembali masuk ke dalam kapal. Ia ingin kembali mengecek barang-barangnya, memastikan tidak akan ada yang ketinggalan pada saat mereka turun dari kapal setengah jam lagi. Tetapi sebelum masuk ke dalam, Ara menyempatkan untuk terlebih dahulu menghubungi orangtuanya dan memberitahukan bahwa dalam waktu setengah jam lagi kapal akan merapat di pelabuhan. Setelah mendapat kepastian bahwa orangtuanya akan menjemput, Ara kembali masuk ke dalam.
Akhirnya kapal yang Ara tumpangi tiba juga di pelabuhan. Ara dan yang lainnya kini bersiap-siap untuk turun dari kapal. Sandra kembali menyewa buruh untuk membawakan semua barang-barang mereka. Saat berada di pintu keluar, Ara sama sekali tidak melihat orangtuanya. Kepalanya menoleh kesana-kemari berusaha mencari sosok kedua orangtuanya di antara sekian banyak penumpang yang baru saja tiba. Beberapa saat mencari, ternyata Ara tetap tidak bisa menemukan kedua orangtuanya. Kemudian diraihnya ponsel mungilnya dari tas yang sedari tadi tergantung di lengan kirinya, segera dihubunginya nomor ponsel mamanya.
"Mama dimana? Nih Ara sudah ada di pelabuhan."
"Ara, mama belum bisa jemput sekarang. Ara ikut aja dulu sama tante Fanny. Dia sudah di pelabuhan sekarang." Ujar mama Ara. Tante Fanny adalah adik mamanya Ara.
Tak lama setelah Ara menelpon mamanya, dari kejauhan Ara melihat Adik mamanya itu tengah berjalan mendekat ke arahnya. Setelah itu Ara ikut ke rumah tante Fanny.
Ara sudah berada di rumah tante Fanny cukup lama, tetapi mamanya belum juga datang menjemputnya. Ara yang mulai mengantuk tertidur di kamar sepupunya, Firly. Ara kelelahan, semalaman ia tidak bisa tidur. Selang lima belas menit kemudian, Firly membangunkan Ara. Ternyata Ara sudah dijemput oleh orangtuanya, kakaknya dan kedua ponakan kembarnya. Ramai sekali suasana rumah tante Fanny siang itu.
Kini Ara kembali berada di dalam kamarnya sendiri. Baru ia sadari, rupanya ia telah kangen terhadap suasana kamarnya yang bernuansa pink itu. Baru saja Ara merebahkan kepalanya dan memeluk guling kesayangannya, Ara langsung hanyut terbuai ke alam mimpi. Rupanya ia betul-betul kelelahan.
Sore harinya baru Ara terbangun. Ia segera ke kamar mandi untuk cuci muka, setelah itu mengambil ponselnya yang masih berada di dalam tas. Ara menghubungi nomor ponsel Raka. Ara memberitahu kepada Raka bahwa ia sudah berada di rumah dengan selamat. Ara berbicara dengan Raka selama lebih kurang dua puluh menit, setelah itu Ara beranjak keluar kamarnya dan mencari ponakan kembarnya tersayang. Ara melihat kedua ponakannya sedang bermain bersama mamanya di ruang keluarga. Segera Ara menghampiri kedua ponakannya itu. Ara duduk di sofa disebelah mamanya, kakinya sengaja diselonjorkannya. Ia masih lemas, badannya terasa pegal-pegal. Ara merebahkan kepalanya di pundak mamanya, agak manja Ara sore itu.
"Kurus banget badanmu Ra, turun berapa kilo kamu?" Tanya mama Ara yang heran melihat badan Ara yang beratnya menurun drastis.
"Masa sih? Kurus banget ya? Emang sih semua pakaian Ara kayaknya mulai longgar-longgar." Jawab Ara tidak yakin.
"Nih coba kamu timbang badanmu." Ujar mama Ara sambil menyerahkan sebuah timbangan mungil kepada Ara. Tanpa basa basi lagi Ara langsung berdiri di atas timbangan itu. Matanya terbelalak tidak percaya saat melihat angka yang ditunjuk oleh jarum jam, berat Ara turun 12 kilo!! Mama Ara tidak suka dengan kondisi badan Ara yang sekurus itu. Ia langsung menyuruh Ara untuk menaikan kembali berat badannya ke ukuran semula. Ara tersenyum saja mendengarnya. Sekarang-sekarang ini Ara sedang tidak mempunyai nafsu makan. Ara memang mempunyai suatu kebiasaan aneh, apabila Ara sedang jatuh cinta maka secara otomatis ia tidak akan mempunyai nafsu makan.
Malam harinya Ara dipaksa mamanya untuk makan malam. Mamanya menyiapkan menu makanan kesukaannya. Namun meski begitu, tetap saja Ara tidak bisa makan dengan banyak. Baru juga ia makan sebanyak delapan sendok, perutnya sudah merasa kenyang. Mamanya mencoba membujuk putrinya itu, namun Ara tetap menolak untuk terus makan, perutnya sudah kenyang. Selesai makan, Ara langsung masuk ke dalam kamarnya sambil membawa kedua ponakan kembarnya. Mereka bermain bertiga, tertawa-tawa, sampai akhirnya tiba waktunya untuk kedua ponakannya itu tidur. Tak lama berselang Ara juga tertidur dengan sangat pulasnya.
¤
02 Mei,
Pagi itu dengan kepala yang masih agak berat, Ara terbangun. Tampaknya ia terlupa ibadah Subuh tadi. Ia sama sekali tidak terbangun pada jam lima seperti biasanya, mungkin di sebabkan oleh tubuhnya yang terlalu lelah. Setelah mencuci muka dan menyikat gigi, Ara beranjak ke ruang keluarga. Ia mendengar gelak tawa riang si kembar dari ruangan itu. Ara duduk di sofa yang sama seperti kemarin sore, ia tertegun melihat kelakuan si kembar yang kini mau berusia dua tahun. Para ponakannya itu tengah berjoget mengikuti irama lagu yang diputar oleh mamanya Ara. Lucu sekali gerakan-gerakan mereka, Ara sampai gemas dibuatnya. Hari ini adalah hari terakhir Ara cuti, besok ia sudah harus kembali ke kantor lagi. Ia merasa kasihan kepada semua klien-nya yang selama ini telah menanti-nanti kehadirannya. Para klien Ara sudah sangat ingin bertemu dan berkonsultasi langsung dengan Ara. Tampaknya para klien-nya merasa kehadiran Ara sangat penting bagi mereka.
"Ra, sarapan sana, sudah mama siapkan susu coklat kesukaanmu di meja." Ujar mamanya Ara. Mamanya Ara sangat prihatin terhadap putrinya satu itu. Mamanya berniat dalam hati untuk dapat membantu Ara menaikan berat badannya seperti semula. Ara makan dengan cukup lahap pagi itu, sarapan yang dibuat mamanya sangat enak. Sudah cukup lama ia merindukan masakan mamanya. Sambil menikmati sarapannya, iseng-iseng Ara mengambil ponselnya, membuka bagian pesan masuk. Banyak sekali pesan-pesan yang belum dibacanya, ada hampir tiga puluhan pesan. Ara mencari nama Raka diantara sekian banyak nama si pengirim pesan tersebut, Ara menemukannya. Ada dua pesan Raka disitu, segera dibacanya.
"Pagi Sayang, sudah sarapan belum? Jangan ampe telat sarapan ya, ntar magh-nya kambuh loh." Segera di balas Ara SMS dari Raka tersebut.
"Pagi juga Sayang. Ini baru sarapan. Raka sendiri sudah sarapan belum?" Sambil menunggu balasan SMS dari Raka, Ara membaca pesan Raka yang satu lagi. Ternyata pesan dari semalam yang mengucapkan selamat tidur buat Ara. Sangking letihnya semalam sampai Ara tidak tahu lagi bila ada pesan masuk ke ponselnya. Tak lama jawaban SMS dari Raka yang sedari tadi di tunggu-tunggunya datang juga, segera dibacanya SMS tersebut. Ara senyum-senyum sendiri saat membaca isi pesan tersebut. Ara yang sedang sarapan dan Raka yang sedang sibuk dengan pekerjaannya di Bank, kini sedang asik berkirim-kiriman pesan. Mereka saling mengobati rasa rindu antara satu sama lain.
Siang harinya, Ara hendak ke mall, ia ingin mencari sebuah kemeja untuknya kerja besok. Ia membawa serta Vido, salah satu ponakan kembarnya. Sedangkan Dido kembaran Vido, sedang dibawa mamanya Ara ke rumah tante Fanny. Saat Ara tengah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ponakan Ara itu duduk dengan tenang disampingnya. Sabuk pengaman yang melindungi tubuh mungilnya sama sekali tidak di ganggu-gugatnya. Saat mereka berdua masuk ke dalam mall, udara dingin langsung menyergap keduanya. Vido yang saat itu minta untuk tidak digendong, tertawa riang saat hembusan angin AC menerpa wajahnya. Polos sekali, Ara sangat suka melihatnya.
Ara tidak membawa Vido terlalu lama berkeliling, ia tidak mau sampai ponakannya itu lelah. Mereka hanya keliling sebentar saat Ara mencari baju kerjanya dan beberapa buah baju mungil untuk Vido dan Dido. Itupun Vido berada di dalam gendongan Ara. Setelah Ara selesai mencari baju, kini Ara membawa ponakannya itu berbelanja di swalayan yang ada di dalam mall. Ara mendudukkan Vido di atas troli. Vido tampak girang sekali. Saat berada di bagian snack, tangan Vido menggapai-gapai hendak meraih semua makanan ringan yang ada di situ. Saat ia sadar bahwa ia tidak sanggup meraih semua snack yang tersedia, Vido lantas menampilkan wajah cemberutnya sambil menatap Ara. Ara tersenyum geli melihat tingkah laku ponakannya itu.
Kini mereka telah selesai berbelanja dan berada di sebuah restoran yang juga masih berada di dalam mall. Ara meletakkan Vido di kursi khusus anak kecil. Ara memesankan makan siang yang cukup sehat untuk perkembangan Vido, sedangkan untuk dirinya sendiri ia hanya memesan sebuah bubur ayam. Ia masih kurang bernafsu untuk makan. Ara gemas melihat tingkah ponakan kecilnya. Caranya makan, minum, ngoceh dan tertawa selalu membuat Ara geli. Tiba-tiba terbersit pertanyaan di diri Ara, kapankah ia bisa mempunyai anak seperti ini sendiri? Langsung saja ditepisnya pertanyaan tersebut dari otaknya. Suatu saat pasti datang masanya Allah memberikannya kesempatan untuk mempunyai anak sendiri. Ara yakin itu.
Selesai Vido menghabiskan makanannya, Ara lantas mengajaknya pulang. Vido tertidur pulas di mobil. Ara meletakkan sebuah bantal kecil di kepala Vido agar leher anak itu tidak sakit. Tampak sekali bias-bias kegembiraan di wajah bocah satu itu. Tampangnya yang polos dan lugu, masih suci dari dosa. Ara menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia tidak mau sampai menganggu tidur ponakannya. Sekitar setengah jam kemudian akhirnya Ara tiba di rumah. Segera dibaringkannya Vido di ranjang di kamar Ara lalu di nyalakannya AC kamarnya. Vido tertidur semakin pulas. Melihat ponakannya asik terlelap, Ara merasakan matanya semakin berat, lalu Ara ikut berbaring disamping Vido. Ia ikut masuk ke dalam selimut besar yang menutupi separuh tubuh mungil Vido, dan ikut terlelap bersama ponakannya yang menggemaskan itu.
Menjelang Maghrib, Ara terbangun. Vido masih terlelap di sisinya. Sekitar setengah jam kemudian adzan Maghrib pun berkumandang. Ara baru saja selesai beribadah saat ponselnya berbunyi, nada panggil masuk.
"Honey, lagi apa? Sudah shalat?" Tanya Raka.
" Udah Sayang, tadi udah shalat. Raka sendiri lagi apa? Miss U Honey.."
"Remembering u honey.. Miss u too.. Sejak Sayang ke Kalimantan, aku jadi suka bengong sendiri. Seperti anak ayam kehilangan induknya. Tidak ada yang bisa di apelin lagi malam-malam. Tidak ada yang bisa dicium, dipeluk, dan disayangin.. Hehehe." Raka melampiaskan semua rasa rindunya kepada Ara melalui ponselnya malam itu. Ara sedikit geli dengan sikap Raka, setahu Ara biasanya yang sering mengungkapkan rasa rindu terhadap pasangannya adalah perempuan. Baru kali ini ada seorang pria yang benar-benar mengungkapkan rasa rindunya yang sangat dalam terhadap seorang wanita, dan wanita itu adalah dirinya. Namun biar begitu Ara sangat menyukainya. Ia sangat menyukai sifat jujur Raka yang jarang menutup-nutupi isi hatinya. Setelah Raka selesai menelponnya, Ara lantas menyiapkan bahan-bahan kerjaannya yang akan ia kerjakan pada esok pagi.
Nun jauh disana, di suatu ruangan yang sangat jauh dari kamar Ara. Bermil-mil jaraknya melewati lautan luas. Seorang pria sedang menatap dengan pandangan kosong ke arah sekitarnya yang penuh dengan keramaian canda tawa para sahabat-sahabatnya. Pria itu adalah Raka. Ia tengah merasa kosong dan hampa, seolah sedang berada di ruangan yang sangat gelap dan tak berujung. Tanpa Ara di sisinya, Raka merasakan hal-hal yang telah lama sekali tidak ia rasakan. Rasa rindu yang amat sangat, rasa haus akan belaian, ciuman, dan pelukan wanita terkasihnya. Semua kerinduan itu membuatnya merasa sepi meskipun ia tengah berada di tempat yang ramai, membuatnya merasa sedih ketika sedang mendapatkan kebahagian, hidupnya terasa kurang lengkap kini, incompleted. Hanya satu hal yang bisa membuat hidup Raka bergairah lagi, serasa completed lagi, yakni Ara. Hanya wanita itulah yang bisa membuat Raka merasakan hidup lagi. Selama sembilan tahun ini Raka merasa seolah setengah hidup, tanpa gairah dan semangat terhadap cinta sama sekali. Namun berkat kehadiran seorang gadis bernama Maura, kehidupan cinta Raka kembali bergelora. Ia telah hidup kembali dengan seutuhnya.
Jauh sekali jarak yang terbentang di antara Raka dan Ara. Malam ini Raka sangat kesepian, semua sahabat-sahabatnya malam ini pada membawa pasangan masing-masing. Hanyalah Raka seorang yang tidak mempunyai pasangan. Mata Raka jengah melihat keadaan disekitarnya, semua sahabatnya seakan telah berencana untuk sekongkol mengejeknya. Para sahabatnya itu seakan sepakat untuk saling menunjukkan kemesraannya masing-masing di hadapan Raka. Malas sekali sebenarnya Raka melihat itu semua.
Adegan kemesraan para sahabat Raka dengan pasangannya masing-masing, diam-diam telah membuat fikiran Raka terbang melayang jauh melakukan kilas balik ke semua adegan-adegan romantis yang telah ia lewati bersama Ara. Bila Raka memejamkan matanya, maka wangi aroma tubuh Ara masih bisa tercium dengan jelas di hidungnya. Kehalusan dan kelembutan kulit Ara juga masih bisa dirasakannya dengan jelas. Apalagi semua pelukan, ciuman, dan belaian Ara, sungguh-sungguh masih bisa Raka rasakan dengan sangat jelas, sangat nyata, seolah sosok Ara masih benar-benar wujud dihadapannya. Akan tetapi, apabila Raka membuka matanya kembali, keadaan yang sebenarnyalah yang harus ia hadapi. Maura telah berada nun jauh disana, di pulau tetangga, bermil-mil jarak memisahkan. Raka meraih sebuah gitar yang di pegang oleh Satria yang sedari tadi duduk di sebelahnya, Raka memainkan sebuah lagu.
Setelah lagunya tersebut selesai ia mainkan, Raka melihat lagi ke sekelilingnya. Raka tak kuat melihat pemandangan disekitarnya itu, membuatnya semakin merasa kehilangan Ara. Maka Raka pun pamit pulang.
¤
03 Mei,
Pagi hari setelah mencuci muka, Ara berjalan menuju dapur dan memergoki mamanya yang tengah menyiapkan sarapan pagi. Hari itu mamanya membuat menu nasi goreng omellet bakso sosis. Ara sangat menyukai menu pagi itu. Selesai mandi dan berpakaian, Ara dan kedua ponakannya segera menyikat sarapan yang telah tersedia di meja makan, sangat nikmat sekali. Menjelang jam delapan, Ara yang mengenakan baju hem bermotif garis-garis menurun warna-warni dilapisi dengan setelan blazer hitam dan celana panjang kain berwarna senada, pamit kepada ibunya untuk berangkat ke kantor.
"Maura Maylicka, MPsi." Nama lengkap Ara tertera lengkap di sebuah papan nama yang terletak di atas meja kerjanya yang berwarna hitam dan terbuat dari kayu Mahoni. Di belakangnya terdapat sebuah kursi berlengan yang cukup empuk. Di atas meja kerja Ara terdapat sejumlah foto para anggota keluarganya. Foto ponakan kembarnya adalah foto terbesar diantara yang lainnya. Tetapi kini foto ponakan kembarnya itu mempunyai saingan, karena pagi ini, Ara meletakkan sebuah foto baru yang cukup besar dengan bingkai berwarna silver yang sangat indah, sebuah foto mesra dirinya bersama Raka.
Klien pertama Ara hari ini adalah seorang wanita bernama Nyonya Lusia berusia sekitar pertengahan tiga puluhan. Nyonya Lusia mempunyai sedikit ketidak stabilan dalam mengatur kadar emosinya. Dahulu sebelum Nyonya Lusia melakukan konsultasi kepada Ara, Nyonya Lusia tidak jarang melampiaskan emosinya secara meledak-ledak terhadap suami dan anak-anaknya. Namun kini setelah beberapa bulan Nyonya Lusia berkonsultasi dengan Ara, kadar emosinya sudah lumayan bisa ia kendalikan, bahkan suami dan anak-anaknya kini sudah hampir tidak pernah menjadi pelampiasan emosi Nyonya Lusia. Ara menyarankan kepada Nyonya Lusia untuk menyalurkan emosinya itu kepada hal-hal yang lebih positif, olahraga misalnya, dan Nyonya Lusia melakukan apa yang Ara sarankan.
Nyonya Lusia berada di ruangan kerja Ara sampai menjelang siang. Setelah kepergian Nyonya Lusia, Ara kedatangan klien-nya lagi. Kali ini seorang pria yang berusia sekitar awal empat puluhan. Pria bernama Ronald tersebut mempunyai masalah sangat menyukai sex sesama jenis. Hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk bercinta dengan pasangan sesama jenisnya. Ronald sadar bahwa apa yang dilakukannya itu salah dan bertentangan dengan ajaran agama yang ia anut, tetapi ia merasa tidak bisa menghentikan kelainan tersebut seorang diri. Oleh sebab itu ia meminta bantuan Ara agar ia bisa terlepas dari kelakuan negatifnya. Setelah beberapa lama mereka saling berkomunikasi, akhirnya Ara memberikan saran kepada Ronald cara yang hampir sama dengan Nyonya Lusia, yaitu menyalurkan semua fikiran-fikiran negatif dengan olahraga. Namun kali ini Ara memberikan saran tambahan kepada Ronald, yakni agar pria itu lebih mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa. Lebih sering beribadah, saran Ara.
Ronald selesai berkonsultasi dengan Ara ketika jam makan siang telah berlalu satu jam yang lalu. Ara menyempatkan kesempatan tersebut sebaik-baiknya. Setelah makan siang, Ara duduk bersandar di kursinya, memejamkan mata agar membuat fikirannya rileks. Ia benar-benar ingin mengistirahatkan tubuh dan fikirannya. Hari pertama Ara memulai bekerja setelah cuti beberapa minggu cukup melelahkannya. Namun saat Ara memandangi satu-persatu foto wajah yang ada di atas meja kerjanya, membuat semangat Ara muncul kembali. Rasa lelah yang tadi sempat menderanya kini secara perlahan mulai memudar. Ara memandang wajah Raka yang terdapat di bingkai foto miliknya. Foto tersebut Ara ambil pada saat Ara berduaan dengan Raka dua hari sebelum Ara balik ke Kalimantan, saat Ara dan Raka berada di bukit dan memandang keindahan angkasa dan lautan pada waktu malam. Meskipun foto tersebut diambil pada waktu malam, namun lampu blitz yang terdapat di kamera ponsel Ara membuat hasil foto yang di dapatkan cukup terang. Senyuman Raka sangat indah bagi Ara, membuatnya merasa sangat rindu terhadap pria itu. Senyuman itu pula yang membuat Ara tetap semangat meski ia sangat lelah.
Sore harinya sepulang dari kantor, Ara langsung pulang ke rumah. Ia berehat sejenak di kamar tidurnya sebelum beranjak ke kamar mandi guna menyegarkan tubuhnya kembali setelah beraktivitas seharian. Ara baru selesai mandi saat ada SMS masuk ke ponselnya. Dari Via.
"Kak Ara, rencananya Via mau pulang ke Kalimantan minggu depan nih. Via dapat cuti seminggu. Kita ketemuan ya.. Okey.." Terang Via dengan semangat.
"Boleh juga, bisa di atur." Jawab Ara santai.
"Okey, c u next week."
"C u."
Malam ini Ara dipaksa mamanya makan malam. Menurut mamanya berat badan Ara sama sekali belum ada kemajuan, masih dibawah batas normal alias kekurusan. Ara paham mengapa mamanya bersikap seperti itu, Ara juga merasakan bahwa beratnya memang di bawah standar. Semua setelan kerjanya longgar, tidak ada satupun yang pas. Ara berencana untuk menaikan berat badannya, agar semua pakaiannya dapat dikenakan kembali dengan pantas. Namun rupanya nasib baik belum berpihak padanya, nafsu makan Ara belum balik seperti semula seperti saat sebelum ia datang berkunjung ke pulau Sulawesi bersama Zahara tempo hari. Tampaknya Ara kini perlu membeli beberapa setelan kerja baru yang sesuai dengan ukuran badannya yang sekarang.
Bersambung......

Plis di baca n kasih saran serta kritikx ya... berhubung niy novel perdana tentu masih banyak sekali kekurangannya, mohon bantuannya agar saya bisa bikin novel yang jauh lebih baik daripada novel perdana ini..
BalasHapusSaran dan kritiknya sangat dibutuhkan..
Trims ya..
panjang banget... mata gw ampe perih.... klw ampe mata gw nambah min, gw kasih tw mama lw penyebabnya....
BalasHapusyaelah, namax juga nopel ya kudu panjang lah.. tuh masih ada sambunganx loh, masih panjang ceritax.. heheehe.. Pan kalu pendek namax cerpen (cerita pendek)... Tar lw siapin kacamata az banyak2... hehe..
BalasHapusbagi yang gak bisa masukan komennya disini, bisa melalui email: luve.pink@yahoo.com
BalasHapusatau melalui facebook di: natazha kriesintha anhar.
di tunggu..
trims..